Side Story - Chapter 46

991 73 2
                                        

Agrav sedang duduk bersila di sofa sambil mengunyah keripik singkong dipangkuannya saat tiba-tiba saja ada serbuan angin yang sedikit kencang menerobos masuk melalui celah jendela yang tak tertutup sepenuhnya hingga membuat televisi yang sedang menyala mendadak mati.

Ia menoleh dan kontan meraih bantal sofa lalu memeluknya erat—seperti anak kucing yang ketakutan melihat anjing—kemudian memekik kencang. “WAA!! Ada hantu Bule masuk rumahkuuuu!!!!” jeritnya sambil menutup mata dengan telapak tangan.

Hantu Bule atau sebut saja, Joe menatap datar ke arah lelaki yang menurutnya mulai agak gila itu. “Heh! Kamu kenapa, sih?!” geramnya gemas.

Masih sambil menutup mata, Agrav terkikik kecil kemudian melepaskan tangannya dan hendak menatap hantu itu tapi ternyata bantal sofa yang melayang cepat sudah lebih dulu menghantam wajahnya. Menggeram kecil, ia menurunkan benda itu dan mengerucutkan bibir menatap Joe. “Jahat! Mosok aku dilempar bantal.” 

Joe hanya memberikan wajah datar sedatar-datarnya menatap lelaki yang sedang merajuk seperti anak perawan itu. Perlahan, ia mendekati Agrav dan duduk di sebelahnya. 

Agrav kontan merapatkan tubuh ke ujung sofa yang berlawanan dengan Joe seraya membulatkan mata dan membuat ekspresi terkejut yang dilebih-lebihkan. Apalagi saat Joe justru terlihat tidak peduli dan malah menonton televisi yang ternyata sudah kembali menyala dan tengah menanyangkan film animasi 'Si Botak' Pasti kalian tahu kartun apa itu.

Agrav baru akan membuka mulutnya ketika mendengar langkah seseorang mendekat.

“Ada apa, Den? Kok teriak-teriak gitu?” seorang ibu setengah baya datang menghampiri sambil tergopoh-gopoh.

Agrav meringis kecil sambil mengusap tengkuknya. “Itu...,” matanya melirik Joe yang balas menatapnya seolah mengatakan ‘apa lihat-lihat?’ dan kontan membuat Agrav kembali menatap Mbok Rin—ibu setengah baya tadi. “Aku lagi nonton film hantu tadi,”

Mbok Rin ikut menatap televisi. “Tapi itu, kan kartun, Den?”

“Ooh..., soalnya serem, Mbok. Makanya langsung aku pindah, hehe...,”

“Woalah...,” Mbok Rin mengangguk singkat. “Yowis, Simbok kirain ada apa, yaudah, Den, monggo.” Mbok Rin kemudian berlalu setelah Agrav tersenyum sungkan karena sudah membuat Mbok Rin—ART yang sudah bekerja sejak dia lahir—jadi khawatir. 

Menghela nafas, Agrav menatap Joe. “Kamu bikin kaget aja, deh. Ngapain sih?”

Sosok yang ditanya hanya melirik sekilas kemudian beralih menonton televisi. “Memang kenapa?”

Agrav menatapnya penasaran. “Kamu gak bakal ke sini kalo gak ada perlu, iya, kan?” tapi yang ditatap tak bergeming sedikitpun. “Kamu, kan benci sama aku dan keluargaku.” Yang ditanya tetap diam. Agrav berdecak gemas. “Joe—”

“Cerewet...,” Joe akhirnya menoleh dan bersedekap. “Kamu berisik sekali. Kamu itu laki-laki jadi jangan cerewet seperti perempuan.”

Buset! Agrav tercengang. Oke, dia tak terlalu terkejut karena sudah tahu sifat hantu Bule itu memang ketus padanya. Tapi baru sekarang ia tahu kalau ternyata Joe bisa nyiyir juga. Astaga. Jangan-jangan Mona yang mengajarinya. 

“Maaf.”

Agrav kontan melirik Joe yang kembali menonton televisi. Ia mengernyit dan mengorek-ngorek telinganya bingung. Lelaki itu merasa Joe mengatakan ‘sesuatu’ yang tidak mungkin pernah meluncur dari bibirnya—hantu aneh itu—apalagi didengar oleh dirinya. 

***
Maaf, dihapus sebagian untuk kepentingan penerbitan 🌱

My Friendly Ghost [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang