4. Setelah Ia terjaga

272 14 0
                                        

Cora hampir tidak bisa merasakan kakinya, tergopoh-gopoh mengejar langkah Gemma yang berlari menghampiri Elang yang kini dikerubungi beberapa orang yang juga sempat melihat kejadian itu terjadi. Cora bersimpuh di samping Gemma, melihat Elang yang terbaring di pangkuan Gemma dengan kepala mengucurkan darah.

"E-Elang..." tatap Cora dengan tatapan terbelalak, Gemma melepas jas kantornya dan menekannya di kepala Elang agar mengurangi pendarahan.

"Hubungi ambulans Cora," kata Gemma dengan suara yang diusahakan tenang, dengan tangan gemetar gadis itu mengeluarkan ponselnya.

Sekelebat ingatan memenuhi mata, menerbitkan trauma yang tanpa sadar membuat tubuhnya gemetar hebat dan nyaris tidak bisa bernapas.

"Kau pasti bisa, Elang akan baik-baik saja." ujarnya, menyadari kepanikan Cora yang memuncak. Gadis itu tersengal dengan air mata yang entah sejak kapan membanjiri pipi, namun gadis itu mengangguk dan menghubungi ambulans.

Bianca yang sedari tadi berdiri mematung kini terduduk di dekat Gemma, menangis meraung. Gadis itu mengulurkan tangannya mencoba meraih Elang, namun Gemma menggelengkan kepala.

"Kalau kau menyadari posisimu, dan semua yang telah kau lakukan. Kau harus diam, atau kau mau diseret masuk penjara Bianca?" ujar Gemma tanpa sekalipun menatapnya, membuat Bianca menghentikan tangannya dan menariknya kembali.

"Aku... Aku hanya terlalu terkejut, aku tidak berniat..."

"Simpan semua alasanmu, tentu kau harus menjelaskan semuanya dan aku juga perlu mendengarnya. Tapi tidak sekarang, apa kau mau menurutiku?" tegas Gemma, bibir Bianca gemetar namun gadis itu menganggukan kepala. Ia mendengarkan Gemma sekarang.

Beberapa saat setelahnya ambulans datang dan Elang segera di larikan menuju rumah sakit, Cora ikut naik ambulans menemaninya. Tapi Gemma memutuskan untuk menyusul menggunakan mobil berbeda, ia tidak mau mengambil resiko mengajak Bianca menaiki ambulans juga. Gemma menghampiri Adiknya Gia yang tampak shock menyaksikan semua yang terjadi, dan Gemma memutuskan mengajaknya ikut. Sekalian meminta Adiknya mengawasi Bianca, gadis itu tidak stabil dan Gemma tau gadis itu ingin menemui Elang sekalipun sikap tak terkendalinya itu telah membuat Elang celaka.

Ada sesuatu yang belum jelas dan usai, mau tak mau mereka harus menyelesaikannya sebelum mengambil langkah selanjutnya.

🌻

Sekalipun tubuhnya gemetar dan trauma masa lalu menyelimuti seluruh dirinya, Cora tidak melepaskan jemari Elang selama dalam ambulans. Tidak pula berhenti memanjatkan doa, hingga setiap kata yang mengalir dari bibirnya yang pucat pasih hanyalah untaian doa. Untuk keselamatan Elang, untuk keselamatannya.

Begitu sampai rumah sakit Elang langsung mendapatkan perawatan intensif di Unit Gawat Darurat, mendapatkan seluruh penanganan yang dibutuhkannya. Cora juga menghubungi keluarga Elang, memberitahukan kabarnya namun juga mencoba menenangkan sekalipun ia sendiri tengah dalam kondisi terguncang.

Hal pertama yang dilakukan Mama Elang begitu sampai rumah sakit adalah memeluk Cora, ia tidak menanyakan kabar putranya namun memeluk Cora yang tampak kacau meski bersikap tegar.

"Ini pasti berat bagimu nak, tidak apa-apa kita tau Elang pasti bisa melaluinya." Ujar Mama, Cora tercenung namun mengangguk dan balas memeluk Mama erat.

"Duduklah sayang, kau belum minum kan?" Mama meminta Cora untuk duduk di deretan kursi yang ada di lorong rumah sakit, juga mengulurkan botol air mineral.

"Mama sengaja membawanya untukmu," ucap Mama, calon ibu mertuanya itu begitu perhatian. Ia memikirkan Cora sekalipun saat ini putranya yang tengah tertimpa musibah, Papa Elang melangkah mendekat dan mengusap kepala Cora lembut.

"Semua dokter di sini adalah yang terbaik, jadi jangan cemas. Anak itu akan segera bangun dan mengganggumu lagi siang-malam." Ujar Papa setengah menghiburnya, sungguh Cora begitu beruntung karena orang tua Elang teramat baik kepadanya. Setelah itu Papa melangkah menghampiri Gemma yang berdiri tidak jauh dari sana, sementara Bianca duduk di kursi koridor di sisi yang berbeda dengan Gia sebagai pengawas di sampingnya. Gemma sudah berpesan kalau Gia tidak boleh meninggalkan Bianca.

Bianca hanya duduk diam, tapi sesekali matanya tertuju pada Cora yang tengah mendapatkan perhatian dari sosok yang bisa ia tebak adalah orang tua Elang. Tanpa sadar gadis itu mengepalkan tangan yang ada di pangkuan, giginya bergemeretak menahan emosi yang tersulut begitu saja.

Beberapa saat setelahnya dokter melangkah keluar ruangan, membuat semua perhatian teralihkan. Kabar baik itu datang, Elang sudah siuman.

🌻

Elang di pindahkan ke ruang rawat setelah kondisinya dirasa stabil, satu-persatu orang mulai memasuki ruangan dan karena ada hal yang memang harus di luruskan maka Bianca juga di perbolehkan masuk. Dengan syarat ia harus menjaga jarak, dan tentu menjaga emosinya. Papa Elang bahkan dengan tegas berkata ia akan langsung memanggil polisi kalau sekali lagi Bianca mencoba melakukan hal-hal yang bisa menyakiti siapapun.

Elang menatap orang-orang yang memasuki ruang rawatnya, ada Papa, Mamanya, bahkan juga Gemma teman semasa SMA nya, dan beberapa wajah yang tidak ia kenali, lalu wajah kekasihnya.

"Elang, bagaimana perasaanmu nak? Apa masih ada yang sakit?" tanya Mama sambil dengan hati-hati menyentuh dahi putranya, Elang tersenyum seraya meraih tangan Mama dan menggenggamnya.

"Aku baik-baik saja Ma," senyumnya.

"Baik-baik saja bagaimana? Kepalamu baru saja di jahit, dan tubuhmu penuh memar. Kau sudah kebal ya?" kata Papa yang melangkah mendekat, Elang beralih menatap Papa lalu terkekeh kecil.

"Ya, sakit sedikit tapi tidak apa-apa. Sebenarnya apa yang terjadi?" tatapnya pada Papa, Papa tertegun mendengarnya.

"Kau tak ingat?" tatap Papa, lalu melirik Mama yang juga tampak cukup risau. Elang tersenyum ringan lalu menggeleng.

"Tidak," jawabnya, dan Elang tidak tampak tengah berpura-pura.

"Gia, bisa tolong panggilkan dokter?" ucap Gemma pada Adiknya dengan nada pelan, Gia tampak ragu dan melirik Bianca. Gemma memberi tanda kalau ia yang akan mengurusnya, jadi Adiknya segera meninggalkan ruangan.

"Kau mengalami kecelakaan saat sedang bersama tunanganmu siang tadi, kau tak ingat?" kini Mama yang bertanya. Elang menautkan dahi, menyentuh kepalanya.

"Aku? Tidak, tapi sebentar..." kata Elang, Mama dan Papa saling bertatapan juga menatap Cora yang berdiri diam dari tadi.

"Ma, sejak kapan kalian tau? Tapi aku belum bertunangan, ya aku memang sedang bersama seseorang tapi kami masih baru berpacaran." Lanjut Elang yang membuat seisi ruangan tertegun, mencoba membaca arah pembicaraan Elang.

"Aneh sekali, aku bahkan belum memperkenalkannya? Dan kapan kalian tiba di Singapura? Bianca, kemarilah. Jadi kita mengalami kecelakaan? Apa kau baik-baik saja?" Elang melambaikan tangannya pada Bianca yang sedari tadi membeku di ujung ruangan dekat pintu, dan kini seluruh perhatian tertuju padanya dengan tatapan terkejut. Terlebih Cora.

Bianca menangkup kedua telapak tangannya ke mulut, menatap tak percaya. Gadis itu melangkah mendekat, ia bahkan mengabaikan Gemma yang tampak shock di sampingnya.

"Kau... tidak berpura-pura lupa lagi?" ucap Bianca dengan suara tercekat, Elang menautkan dahi seraya mengulurkan tangan dan meraih jemari Bianca. Dan semua itu tidak luput dari tatapan Cora, bagaimana pria itu menyambut tangan Bianca dengan begitu lembut dan hangat. Elang menggenggam jemari Bianca seakan Ia sudah lebih dari biasa melakukannya.

"What are you talking about? Setiap hari kita di kampus bersama, bagaimana aku melupakanmu? Tapi sejak kapan kau mengganti warna rambut?" Elang terkekeh, namun senyuman Bianca juga memudar. Ia menyadari ada yang tidak beres.

"Kampus?" ujar Mama, Elang mengangguk dan melirik Gemma yang berdiri diam dari tadi.

"Hei Gemma, jadi kau benar mau menyusulku untuk kuliah di Singapura? Kenapa lama sekali, aku baru saja lulus dan akan segera kembali ke Indonesia tau." Kata Elang dengan tawa ringan, saat itu semua yang ada di ruangan tau Elang tidak dalam keadaan yang benar. Gemma mengangkat wajah, lalu bertanya.

"Elang, kau tau tahun berapa sekarang?"

"Hm, tahun?"

🌻

Our Lost Memories (Terbit E-book di Playstore)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang