6. Silent Cry

596 111 58
                                        

Jeong In keluar mansion dengan pakaian rapi, tanpa dikawal siapa pun. Izinnya ingin jogging sore. Setelah agak jauh dari mansion, ia membeli sebuket mawar dan pergi ke pemakaman, memperingati hari kematian ayahnya.

"Felix kembali, Ayah. Apa dia mau merenggut kebahagiaanku?" monolog Jeong In dengan tatapan dingin di samping makam ayahnya. "Maaf ... sampai sekarang aku belum menemukan wanita pembunuh itu."

Sepuluh tahun lalu, beberapa menit sebelum tragedi berdarah terjadi, anggota keluarga para ajudan serta pelayan di mansion Kepala Distrik diundang makan malam. Termasuk keluarga Jeong In. Ia dan Felix juga cukup dekat, meskipun frekuensi bertemunya tidak sesering Minho.

Saat acara baru dimulai, tiba-tiba segerombolan orang berpakaian serba hitam dan memakai penutup wajah menyerang secara brutal menggunakan pisau yang digunakan untuk membunuh para tamu undangan.

Jeong In terluka bukan terkena tusukan seperti korban lain, melainkan karena tertabrak orang-orang dewasa yang berlarian panik sehingga membuatnya terhempas, terbentur pecahan vas dan kehilangan kesadaran.

Ketika Felix dan Minho sudah tidak di lokasi kejadian, kesadaran Jeong In perlahan pulih. Tidak jauh darinya ada daksa sang ayah sudah tidak bernyawa dan terdapat bekas tembakan di dada kiri. Kenapa cuma ayahku yang ditembak? batinnya ketika melihat korban lain tewas dengan luka tusukan.

Anak kecil berusia sembilan tahun itu sangat ketakutan. Dari luar mansion terdengar deru mobil. Ia segera berbaring, berpura-pura tewas, berkamuflasi dengan jasad lain. Dibuka sedikit matanya, terlihat seorang wanita dengan lipstik merah menyala, berkacamata hitam dan memakai setelan jas menghampiri tubuh ayahnya.

"Dasar tidak berguna." Tatap tajam wanita itu pada jasad di samping kakinya. "Cepat ambil barang bukti penting sebelum polisi datang," perintahnya kepada para bawahan.

Suara mesin mobil di luar mansion terdengar semakin menjauh, rombongan wanita tersebut telah pergi.

Masih dengan posisi terbaring, Jeong In membuka mata, menggigit bibir bawah dengan buliran likuid mengalir melewati pelipis. Ia terbangun, meletakkan telapak tangan ayahnya ke pipi. "Kenapa ayah ninggalin Ayen ... siapa wanita gila itu, ayah ... Ayen takut ...," rengeknya.

Semenjak itu, ia selalu ketakukan, trauma ketika melihat wanita dengan lipstik merah menyala.

Jeong In mengambil sebuah jam tangan yang melingkar di tangan ayahnya dan tidur di sampingnya sampai polisi tiba. Sangat terlambat sekali polisi di sini bertindak. Malangnya, tidak ada kerabat yang menjemputnya di kantor polisi sehingga ia ditempatkan di panti asuhan.

Di sana Jeong In tidak diperlakukan dengan baik. Cukup lama menjadi korban perisakan membuatnya melarikan diri. Ia benar-benar hidup sebatang kara. Seringkali harus menahan lapar bahkan mencuri makanan untuk mengisi perut, pernah hampir menjadi korban penjualan anak, bekerja tanpa upah, mengemis, mengamen, menjual opak singkong di jalanan pun dilakukannya.

Hingga suatu hari, Jeong In mengunjungi mansion Kepala Distrik yang masih berdiri megah meskipun sudah terlihat usang. Selama sepuluh tahun tidak ada yang menempati, tidak ada juga yang berani merobohkan.

Namun saat pemuda bersurai blonde itu berkelana di ruangan Kepala Distrik, ditemukan sebuah gulungan kertas yang hampir robek bertuliskan sesuatu yang penting. Benda itulah yang diberikan pada sang konglomerat.

Kini hidup Jeong In sudah lebih baik. Meskipun dendamnya ditujukan kepada pembunuh ayahnya, tapi ia khawatir identitas palsunya terbongkar, tidak ingin meninggalkan kemewahan yang sudah didapat.

Wajah Jeong In mendadak tegang dengan kelopak mata terbuka lebar. Di tengah kesendiriannya di pemakaman waktu senja, tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dari belakang.

"Apa kamu keluarga Mr. Yang?"

Jeong In menelan salivanya susah payah. Suara yang membuatnya memiliki trauma terhadap wanita berlipstik merah itu, sekarang terdengar jelas. Dengan tangan gemetar, segera diraih masker dari saku lalu dipakai.

"B-bukan," sahut Jeong In gugup tanpa berbalik dan segera berlari menjauh. Lehernya terasa kaku, ketakutan membuatnya tidak bisa menoleh untuk melihat langsung wajah wanita itu padahal selama ini ia sangat ingin balas dendam.

Laki-laki berambut pirang itu lari ketakutan, tidak memperhatikan jalan. Ia terserempet motor ninja ibu-ibu yang belok kiri padahal sen belok kanan, tidak pakai helm, membonceng tiga anaknya pula.

"Masih idup lo?" Seungmin yang saat itu dalam perjalanan pulang menjadi saksi mata kecelakaan kecil tersebut segera menolong Jeong In.

"Kalau jalan, matanya tuh dipake, kodong!" berang wanita paruh baya itu dengan mata melotot pada Jeong In lalu kembali melaju dengan motornya tanpa rasa bersalah.

Suara wanita yang barusan didengarnya di pemakaman itu mengingatkan pada sosok yang diyakini adalah otak pembantaian tragedi sepuluh tahun lalu. Jeong In menutup mata, dipegang dadanya yang naik-turun dengan cepat karena napas memburu.

"Bro?" Seungmin menatap bingung, pasalnya pemuda itu terluka di bagian siku dan lutut tapi malah menampakkan reaksi sakit yang lain.

"Wanita pembunuh itu ... dia datang ...." Suara Jeong In terputus-putus, napasnya masih tidak beraturan.

Seungmin memahami bahwa laki-laki di depannya ini memiliki trauma. Segera dilepas jaketnya, menutupkan ke kepala Jeong In, mendekap lalu menepuk punggungnya pelan.

"Tenang ... cuma tinggal gue di sini. Gak ada yang mau bunuh lo."

Seungmin menggiring Jeong In duduk di kursi pinggir jalan, membantunya mengatur napas. "Rumah gue gak terlalu jauh." Ia membuka jaket yang menutupi Jeong In ketika pemuda itu dirasa sudah tenang. "Ayo ikut gue dulu, oke?"

Jeong In menghembuskan napas, mengangguk pelan atas tawaran Seungmin.

Sesampai di rumah, Bang Chan langsung menyambut adiknya dengan teriakan. "Anak siapa lo gebukin, Min?!"

"Dia abis ketabrak motor emak-emak," jawab Seungmin.

Bang Chan menyipitkan mata, mengamati pemuda di samping adiknya itu lalu mempersilahkan masuk. Ia segera ke dapur untuk membuatkan minuman hangat. "Lix, ambilkan obat merah tuh, buat temennya Mong-mong."

Lix? gak mungkin Felix, 'kan? batin Jeong In.

"Min, masa abang tadi beli mangga sekilo dapatnya dikit banget," celetuk Bang Chan sambil mengaduk minumannya.

"Kalo mau banyak ya kacang ijo," sahut Seungmin.

Felix menghentikan sejenak kegiatan menyisir bulu ayam kesayangannya di samping rumah dan mengambil barang yang diminta. "Nih, Min."

Seungmin memukul tangan Felix. "Obat merah, Lix. Bukan gula merah. Ini mau ngobatin orang bukan mau bikin kolak."

Pupil Jeong In membesar, mulutnya sedikit terbuka, terkesiap dengan pemuda bersurai blonde di hadapannya.

F-Felix?!

༶•┈┈⛧┈♛┈⛧┈┈•༶
01.03.2024

Dark Sunshine [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang