36. Truman

410 99 126
                                        

༶•┈┈⛧┈♛03

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

༶•┈┈⛧┈♛03.04.25♛┈⛧┈┈•༶

Seungmin memandang takjub ornamen, properti mewah nan antik yang mengisi penjuru mansion kediaman keluarga Lee. Jiwa dagangnya meronta-ronta, rasanya ingin buka pelelangan barang. Memeriksa setiap ruang meski agak merinding karena terlihat suram, kelam, dan seram. Dia kembali menyusul saudara angkatnya yang berkutat di ruangan kepala distrik. "Lo ... bener-bener anak sultan, Lix!"

Felix memeriksa, membaca kembali tumpukan berkas-berkas di ruangan sang ayah, mencari petunjuk yang kemungkinan berhubungan dengan insiden sepuluh tahun silam. "Seungmin menurutmu nih, kalau misal kamu jadi komplotan yang membantai keluargaku, apa alasannya?"

"Banyak kemungkinan. Apalagi orang tua lo orang berpengaruh. Bisa karena persaingan politik, bisnis, juga----"

"Tunggu sebentar." Felix menginterupsi, ponselnya berdering. "Halo, aku ada di mansion, Kak. Kita ketemu di rumahku saja nanti, ya?"

"Minho?" terka Seungmin.

Felix mengangguk, memijat lehernya yang terasa pegal. Memutuskan pencariannya dihentikan sementara dan dilanjut esok hari. "Aku penasaran lorong di bawah tadi menuju ke mana. Ayok kita periksa."

Kedua pemuda itu turun ke lorong bawah tanah yang terhubung dengan pintu masuk toko terbengkalai. Penasaran dengan ujungnya, mereka menyusuri jalan sempit yang minim penerangan tersebut hingga dihadapkan dengan pintu plat besi cukup tebal, lebar dan tinggi menjulang sampai langit-langit. Menutup rapat tanpa cela sesuatu yang berada di baliknya.

"Apa ini, Lix? Bekas pabrik, kah?"

"Gak tau. Aku juga baru lihat kalau di bawah mansionku ada tempat begini." Felix mengamati sekitar. Tak terlihat ada tombol pin, layar scan, tuas, atau apapun yang bisa membuka pintu besi. Di sekeliling hanya ada dinding blok cinder hitam dan lantai semen, serba tertutup. "Gimana cara buka pintunya?"

"Pasti tersembunyi di sekitar sini." Sejak tadi Seungmin memukul dinding bata dengan buku-buku jari. Mengetuk setiap blok.

"Kamu ngapain, Min?"

"Ketemu." Seungmin memanggil Felix untuk mendekat, mengetuk kembali tiga tingkat blok bata dari bawah di depannya. "Dengar, Lix. Ini bunyinya beda." Mengambil kunci motor untuk mencongkel keluar ujung bata dan benar saja, mudah diambil tidak seperti bagian dinding batu lain yang direkat semen begitu kuat. Ternyata di baliknya terdapat RFID Access Control yang tersembunyi.

Mesin ini merupakan alat untuk sistem keamanan pintu akses, teknologi transmisi sinyal nirkabel yang sering digunakan dalam sistem kontrol akses dan pintu masuk, memungkinkan hanya pengguna yang berwenang atau terdaftar yang dapat memasuki ruang aman. Terdapat beberapa tombol angka, hapus, input, fingerprint, dan layar mini persegi panjang.

"Jangan-jangan ini kunci untuk buka pintu besar ini, Lix!" seru Seungmin.

"Sudah sepuluh tahun lamanya, apa masih berfungsi?" Felix meletakkan ibu jarinya pada fingerprint di samping tombol, seketika layarnya mendeteksi data diri, memaparkan biodata Felix. Namun saat Seungmin yang mencoba, tidak terdeteksi dan otomatis mesin berhenti beroperasi.

Dark Sunshine [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang