38. Goodbye

492 104 165
                                        

If I could change the rhythm of time
I'd go back and forth a million times
If that's what it takes to keep you right by my side
My dearest, I'm sorry

✧༺🐺🐶🐣༻✧

Kemarahan terlihat dari sorot tajam mata Han. Dibantu seorang pria lagi, dia menyeret Felix. Mendorong kasar ke kamar lalu menguncinya. Memerintahkan bawahannya untuk berjaga sementara dia menggeledah seisi rumah.

"Han Jisung! Kau tidak bisa melakukan ini padaku!" Felix menubrukkan badan untuk mendobrak pintu. Meski sia-sia. "Han Jisung!"

"Di mana patung emas itu disembunyikan?!" geram Han, menghempaskan benda di nakas sebelahnya.

Datang lagi dua orang pria memakai setelan jas hitam, menghempaskan Bang Chan yang begitu lemah dengan wajah lebam dan guratan luka di tubuh juga mendapat suntikan bius sehingga jadi begitu tak berdaya.

Telepon sebelumnya yang diterima Chan hanyalah jebakan. Orang suruhan Han menggunakan teknologi AI untuk mengubah jeritan pilu minta tolong terdengar seperti suara Seungmin, memanipulasi Chan bahwa adik kesayangannya itu menjadi sanderaan. Ternyata mereka mengarahkannya ke tempat sepi dan menyerang tanpa ampun.

Setengah sadar, Chan berusaha melawan bius yang merenggut kesadaran. Dia didudukkan di kursi dengan badan dan tangan terikat ke belakang. Han menarik kasar dagunya sampai terangkat.

"Selama ini ... ternyata lo yang sudah menyembunyikan keberadaan Felix!"

Bang Chan menyeringai, salah satu alisnya terangkat. "Lo memang ... gak ada bedanya sama hyena betina itu."

Sontak ucapan itu membuat Han naik pitam, menarik dan mencengkram kerah baju Chan. "Siapa yang lo maksud?!"

"Dengar, anak muda. Segala sesuatu yang gak ditakdirkan buat lo, sampai kapan pun gak akan pernah jadi punya lo, meski jarak lo dan sesuatu itu cuma sedekat mata kiri dan kanan."

"Halah, diam! Sok tua, lo!" teriak Han, meninju wajah Bang Chan hingga darah mengucur dari hidung, lalu memerintahkan bawahannya untuk membawa Felix ke hadapan. "Kita suguhkan dia sebuah pertunjukan."

Segera saja pria potongan cepak tersebut menyeret Felix, mendorongnya hingga jatuh berlutut juga menahan kedua bahunya agar tak memberontak.

"Han Jisung!" geram Felix, berusaha melepaskan diri. "Apa yang kau lakukan ke abangku?!"

Han berjalan mengitari Chan, mengeluarkan sebilah pisau. "Lix, kamu tau, belati ini favorit ayah. Dia bilang, ini dibuat oleh pandai besi terbaik dari Timur Laut. Tajam sekali. Aku minta sampai tiga kali gak dikasih, jadi diam-diam kuambil sendiri."

"Kita bisa bicarakan baik-baik, Han Jisung." Felix meratap, menunduk penuh harap. "Kumohon, lepaskan abangku."

"Angkat kepalamu, Felix! Jangan memohon sama orang ini!" pekik Bang Chan.

Han tergelak, memandang bilah tajam yang dipegangnya. "Gimana kalau kita uji coba?"

Tanpa ragu, ditusukkan belati itu ke pundak Chan disertai seringai lebar.

Felix menyerukan nama abangnya. Menelusup pedih di relung hati begitu menyakitkan melihat lelaki yang selama ini adalah pelindung kokoh dan sekuat batu karang itu jadi lemah tak berdaya, dilukai langsung di depan matanya. "Han Jisung, kumohon biarkan abangku pergi. Kalau kau membenciku, lakukanlah padaku. Jangan sakiti dia lagi ...."

"Sebenarnya semua ini bisa selesai. Di mana patung emas itu?!" pekik Han dengan tatapan melebar tepat di wajah Bang Chan.

Felix mencoba memberontak ketika Han hendak menusukkan kembali belati ke tubuh Bang Chan. Menyadari ada pergerakan mencurigakan, penjaga di sisi Chan refleks melepaskan tembakan lurus ke samping belakang rekannya yang menahan Felix.

Dark Sunshine [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang