Beberapa laki-laki berbadan besar nampak tengah memukuli seorang pria yang sekarang terlihat mengenaskan di tangan mereka, wajah lebam dan bercak darah memenuhi wajah nya. Ia bahkan sudah tergeletak di lantai yang awalnya berwatak putih dengan emas kini berubah warna.
Dua orang dari mereka menarik tubuhnya untuk bangun dan menarik rambut laki-laki itu tanpa belas kasihan untuk membuat nya mendongak, dengan mata sayu. Mereka memberikan jarak ketika mendengar suara langkah kaki mendekat, terlihat pria muda dengan kemeja putih dan celana bahan putihnya berjalan mendekat.
Ia tidak takut ketika sepatu putihnya nampak mulai ternodai oleh darah, berhenti beberapa jarak dari laki-laki malang itu. Ia tersenyum seolah dirinya lah pelaku utama disini, lalu ia sedikit membungkuk untuk membuat wajah mereka memiliki tinggi yang sama.
"8 juta won, aku pikir jantung bahkan organ lain di dalam tubuh mu itu pun tidak cukup untuk membayar nya. " Ia dengan nada mengejek bahkan mulai terduduk di kursi yang di sediakan oleh anak buahnya.
"A-aku m—
Ia berdecak dan mengangkat salah satu tangannya membuat pria malang itu terdiam kamu sekaligus menahan sakitnya. " Rumah mu sudah tidak ada, kendaraan mu pun sama dan aku merasa di rugikan sekarang. "
Ia nampak berfikir sejenak. " Kau sudah tidak memiliki apapun benar? Ah! Bagaimana dengan anak perempuan mu itu?"
Ia melotot terkejut mendengar perkataan nya, lalu memberontak seolah tidak ingin anak perempuan nya ikut campur dalam masalah yang ia buat sendiri. "Jennie Kim. "
Ia kini membuka ponselnya dan mencari foto perempuan yang baru saja ia sebutkan namanya, tanpa memperdulikan pekikan bahkan pandangan protes dari laki-laki itu yang adalah ayah kandungnya.
"Aku mohon, jangan libatkan dia dalam masalah ku—
BRAK!
Ponsel mahal itu ia lempar dengan kesal dan berdiri dari duduknya serta memandang tajam laki-laki yang ternyata lebih tua darinya. " Kau! Kau fikir kau lebih baik dari ku?"
Ia mendekat dan menarik kasar rambut laki-laki itu hingga menimbulkan jeritan kesakitan dari mulutnya. "Kau bahkan tega memperkerjakan nya sebagai wanita malam, huh?!"
Satu pukulan melayang mengenai wajahnya, ia tersungkur dan terbatuk ketika darah keluar dari hidungnya. Ia menatap kaki yang mengenakan sepatu putih itu, pandangan nya semakin kabur dan ia rasa-
"Aku mau perempuan itu malam ini juga, kau mengerti apa yang ku maksud Jisoo?" Ia berkata tanpa menatap orang yang ia suruh.
"Mengerti."
Setelah mendapat kan jawaban nya ia lantas pergi dari sana, aura angkuh dan pandangan elang dinginnya membuat siapapun bahkan apapun bertekuk lutut di kakinya. Limario Manoban, atau Limario Kheirban yang seorang laki-laki keturunan darah biru asal Inggris Thailand ini adalah seorang mafia yang terkenal di beberapa pengusaha gelap.
Wajah menawan dan senyum nya adalah topeng di balik rasa ke angkuhnya, usianya baru dua puluh lima tahun tapi karena lingkungan keluarga adalah faktor yang membuat dirinya semakin mendarah daging sifat sang ayah.
Limario, ia sosok laki-laki yang ketika menginginkan sesuatu harus ia dapatkan juga walaupun dengan banyak cara. Sosok laki-laki yang tempramental terhadap orang orang di sekitarnya, tapi dia lebih dominan manis terhadap orang yang benar-benar membuat dirinya nyaman dan aman.
....
Jisoo memasukkan clubbing yang berada di Seoul, ia baru saja sampai di Korea Selatan setelah melakukan penerbangan dari Thailand ke Korea Selatan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan nya sebelum menyelesaikan perintah Limario.
Sebenernya ia tidak sendiri, beberapa laki-laki yang adalah bawahan nya ikut serta di belakang mereka. Ia berjalan menuju pintu tamu VVIP dan menyerahkan kartu VVIP miliknya untuk bisa masuk ke dalam.
"Di mana Madame dara?" Jisoo menatap perempuan yang kini nampak ingin Bergelayut mencoba menggoda nya.
"Eum- ada, ingin aku bantu sampaikan sesuatu padanya?" Ia semakin mendekati Jisoo bahkan memainkan jarinya di dada laki-laki itu.
Ia berdecak dan mendorong perempuan itu hingga mundur beberapa langkah, merasa di abaikan dan terhina yang menatap kesal Jisoo yang kini memilih pergi mencari sendiri orang yang ingin ia temui.
"Madame dara!" Ia berteriak memanggilnya bahkan anak buahnya nampak menakut-nakuti perempuan malam di sana.
Hingga suara langkah kaki mulai terdengar, dan terlihat sosok perempuan dengan dress hitam elegant dan wajah yang mulai semakin menua tapi masih terlihat cantik itu berjalan ke arah Jisoo yang menatap nya kesal.
"Ada apa sweetie? Kau ingin perempuan, maaf seperti Madame tidak memiliki perempuan perawan untuk malam ini. " Ia berbicara panjang tapi hanya membuat Jisoo berdecak.
"Aku ingin jennie. " Jisoo berkata, dan membuat perempuan itu nampak terkejut mendengar nya.
"Jennie? Dia tidak bi—
" Limario menginginkan nya, beritahu aku di mana dia?! "Ia marah, karena Madame berusaha membuat jennie tetap bertahan disini.
Ketika hendak membalas mereka terkejut karena kehadiran laki-laki lain yang nampak kesal, lalu menatap Madame dara. " Beritahu pelacur mu, bersikap lah selayaknya pelacur. "
Setelah berkat itu ia pergi meninggalkan Jisoo dan Madame yang terdiam, Jisoo yang melihat dia keluar dari ruangan mana pun langsung melangkah tanpa persetujuan siapapun. Ia membuka kasar pintu karoke, dan melihat seorang perempuan dengan dress merah pendek nya tengah terduduk di sofa dengan tangisan kecilnya.
"Ya! Kalian tidak bisa membawanya tanpa persetujuan ku! Dia sudah terikat kontrak dengan ku! Kaparat. " Madame dara marah ketika bawahan Jisoo menahannya untuk tidak masuk ke dalam ruangan karoke.
"Halo."
Jisoo menyapa nya, ia menoleh dan terkejut melihat kehadiran laki-laki menawan di dekatnya. "Kau jennie benar?"
Perempuan itu menganggukkan kepala pelan dan melihat terlihat menangis, Jisoo tersenyum seolah dirinya sudah berhasil menyelesaikan tugas dari Limario. "Ayo berdiri. "
Ia semakin dia buat kejut kalau Jisoo menarik lengannya untuk bangun secara paksa, ia bahkan sedikit memberontak kata Jisoo nampak menariknya keluar ruangan. Dan dia menatap Madame heran, karena perempuan itu nampak di tahan oleh laki-laki berbadan besar.
"Ki-kita akan kemana?" Ia berkata dengan gemetar, jujur perasaan gelisah dan takut itu ada sekarang.
"Pulang."
Jennie terdiam kala mendengar perkataannya, pulang? Bahkan sang ayah tega menjualnya hanya ingin segepok uang yang sekarang entah masih ada atau tidak. Jika jennie bisa memilih ia lebih baik menjadi gelandangan dan tidak ingin kembali ke rumah itu, walaupun kenangan masa kecil yang indah sebelum semuanya lenyap karena sang ibu meninggal kan dirinya serta sang ayah.
Jennie bahkan harus terduduk paksa di kursi samping kemudi ia tidak tahu dirinya akan di bawa kemana oleh laki-laki bertindik di bibir itu, bahkan wajah nya pun jennie tidak pernah liat sama sekali, tapi dirinya tidak banyak menolak karena keadaan nya
