Gue menatap langit-langit kamar yang gelap. Ga ada yang menarik, sama halnya dengan hidup gue yang jauh dari kata menarik dan terkesan monoton.
Sepi.
Setelah kejadian Wilo nyeritain semuanya tentang Malvin, gue cuma bisa ngetawain diri sendiri. Bisa-bisanya gue sebodoh itu. Tapi its okay, gue gapapa. Lagian gue juga ga kenal deket sama Malvin. So whatever it is, idgaf.
Gue mau melanjutkan hidup gue yang menurut gue nyaman dan gue ga akan lemah karena gue jomblo. Sebisa mungkin gue harus jadi independent woman yang ga akan lemah sama hal hal sepele.
Let's get it, Zeta Alisha Sheera.
🦋🦋🦋🦋
Meeting, bertemu vendor, negosiasi, membuat PO, cek barang, cek invoice adalah pekerjaan yang dilakukan Zeta setiap harinya sebagai Staff Purchasing dimana ia bekerja di sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang manufaktur. Banyak yang harus dilakukan tapi tenang karena yang ada di divisi itu bukan hanya Zeta, masih ada beberapa lainnya.
Dibilang berat dan melelahkan sudah pasti, tapi itu lah yang namanya pekerjaan. Kita bekerja karena uang. Tujuan utama untuk bertahan hidup, tidak peduli apapun itu selama tidak mengganggu pekerjaannya, akan Zeta hadapi semuanya walau kadang ia pun kewalahan. Tapi sudah satu tahun terlewati, nampaknya Zeta baik-baik saja.
Sama hal nya dengan hari ini, ia dan Billy harus pergi bertemu dengan beberapa vendor baru untuk mencari supplier barang yang diperlukan perusahaan.
Panas terik matahari tak lantas menghentikan langkah Zeta dan Billy untuk mengeluh. Mereka berdua naik turun mobil beberapa kali, keluar masuk gedung beberapa kali, belum juga menemukan vendor yang sesuai.
"Gimana Bil? Sisa berapa vendor lagi yang belum ditemuin?" Tanya Zeta sambil mengibaskan tangannya. Gerah. Keringat di pelipisnya bercucuran tak ada hentinya.
"Dua Ta" sahut Billy sambil melihat tumpukan kertas yang dipegangnya.
"Oke. Kita beresin sekarang, habis itu kembali ke kantor" Billy mengangguk pasti mendengar ucapan Zeta barusan dan langsung tancap gas ke alamat yang dituju selanjutnya.
30 menit berlalu, Zeta dan Billy sampai di tempat yang dituju. Harapan Zeta vendor yang ini bisa pas sesuai kriteria perusahaan dikarenakan ia sudah lelah hampir seharian ia bekerja di luar dan ingin kembali ke kantor saja dan menikmati dinginnya AC di ruangan.
Billy dan Zeta menuju lantai tiga sesuai arahan, tak lupa Zeta menyeka keringatnya terlebih dahulu, membetulkan pakaiannya agar terlihat rapih dan Zeta hanya bisa berdiri mematung begitu melihat sosok yang berdiri dihadapannya. Dengan lanyard yang digantungkan dilehernya tertera nama Malvin Harshad.
Ya, Zeta tidak salah baca.
Sangat jelas tertera nama orang yang dihadapannya adalah Malvin. Malvin Harshad. Malvin yang menjemputnya malam itu. Malvin yang merupakan kekasih sahabatnya, Wilo.
"Halo, Malvin" Malvin tersenyum ramah memperkenalkan diri seraya menjabat tangan Billy terlebih dahulu sebelum ia menjabat tangan Zeta. Ini adalah pertemua Zeta dan Billy dengan Malvin sebagai seorang profesional.
Tak banyak bicara setelahnya, mereka langsung diajak masuk ke ruangan untuk bernegosiasi. Diketahui bahwa Malvin adalah seorang yang menangani supply barang di perusahaan yang Zeta dan Billy datangi sekarang. Mereka menghabiskan sekitar 45 menit bernegosiasi, dan dicapai kesepakan perusahaan ini yang akan menjadi supplier baru untuk barang yang diperlukan perusahaan Zeta.
Billy dan Zeta menghela napas panjang, akhirnya pekerjaannya usai juga sekarang saatnya memberikan laporan ke kantor. Namun sebelum itu, Malvin mengajak Zeta berbincang sambil berjalan menuju parkiran.
"Gue ga tau lo masih sahabatan sama Wilo karena Wilo ga pernah cerita" kata Malvin membuka percakapan, Zeta hanya tersenyum tipis.
"Wilo cerita kalau lo udah tau semuanya tentang gue sama dia, karena cuma lo doang yang Wilo ceritain. Sorry waktu itu gue cuma kebetulan ada di daerah itu dan gue ga sengaja liat story lo...."
Zeta mengernyitkan dahinya, mendengar Malvin yang terlihat panik saat menjelaskan.
"Santai aja lagian gue juga ga yang gimana-gimana. Makasih ya, tolong jaga Wilo baik-baik. Dia sahabat gue satu-satunya, gue tau lo orang baik jangan sakitin dia. Masalah malam itu lebih baik keep sendiri aja, karena gue pikir Wilo ga perlu tau anggap aja ga pernah terjadi"
Zeta tersenyum lebar kali ini, dibalas dengan anggukan oleh Malvin.
"Btw gue ga tau kalau lo kerja disini, Wilo bilang lo kerja di perusahaan kakak lo atau ini...."
Malvin tersenyum mendengar celotehan Zeta barusan.
"Iya, ini perusahaan kakak gue"
Wow. Sebuah privilege yang memang harus dimanfaatkan dengan baik.
19.15
Zeta keluar dari apartemennya dan berniat membeli beberapa bahan makanan atau cemilan dan semacamnya di Mall yang masih satu komplek dengan bangunan apartemen.
Zeta lebih senang menghabiskan waktu santai nya untuk menonton atau memasak. Untuk makan pun Zeta lebih menyiapkan banyak waktu untuk memasak sendiri, makan di luar hanya sesekali bahkan bisa dihitung jari.
Sebelum ke supermarket Zeta mengalihkan pandangannya ke sebuah store yang antriannya sangat panjang. Ia penasaran dan berjalan ke arahnya. Grand opening rupanya, ada diskon 50% khusus untuk pasangan tertulis di banner.
Pantas saja yang mengantre semuanya berpasangan. Sebelum mengantre lebih dalam ia membalikkan badan sambil menggerutu kesal.
"Kenapa diskon hanya berlaku untuk pasangan? Memangnya seorang jomblo ga berhak? Kan gue juga mau ya dapet diskonnya"
Zeta menggerutu kesal hingga ia tak sengaja menabrak seseorang di depannya.
"Maaf..." Zeta bergegas pergi begitu selesai meminta maaf, namun kenyatannya tidak
"Aku dengar kamu menggerutu, mau aku temenin beli?"
Zeta terdiam, tubuhnya kaku. Hidupnya terlalu banyak plot twist hingga membuat perasaannya seperti roller coaster. Mana ada orang asing yang tiba-tiba mau ngajak orang lain. Orang ini aneh, dan Zeta ingin berlari menjauh.
"Mmmm... Aku cuma iseng aja. Ga niat beli" Zeta tersenyum kaku, berusaha terlihat sopan sebelum pergi.
"Gapapa aku temenin, aku denger diskonnya hari ini aja loh"
Hasrat wanita pada barang diskon memang tidak mungkin hilang. Walaupun Zeta terlihat takut, tapi mendengar ucapannya barusan membuatnya yakin bahwa ia harus memanfaatkan situasi ini. Tidak mungkin kan orang ini akan melakukan hal aneh padanya, disini banyak orang. Dan dengan sadar Zeta mengiyakan tawaran itu.
10 menit mengantre, Zeta akhirnya bisa masuk store dimana itu adalah tempat produk perawatan tubuh dari ujung kepala sampai ujung kaki yang bisa dibilang brand terkenal dengan harga yang cukup mahal.
Zeta berkeliling mencari beberapa produk sesuai kebutuhannya. Dan setelahnya ia membayarnya di kasir, tak lupa sosok asing tadi menemani disampingnya. Dan ya, memang benar dia mendapatkan diskon 50% karena sebagai pasangan. Namun Zeta merasa bingung karena semua pegawainya menatapnya dengan tatapan aneh.
Kenapa? Apa dia membeli barangnya terlalu sedikit? Atau terlalu banyak? Apa ia terlihat sedang bersandiwara dengan sosok asing ini? Entahlah.
Zeta tak terlalu ambil pusing, yang jelas setelahnya ia langsung berterima kasih dan pergi ke supermarket karena sebentar lagi akan tutup.
Orang yang menemani Zeta barusan memperkenalkan dirinya adalah Evans.
Nama yang bagus dan dia cukup tampan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Ice Cream
RomanceZeta yang ingin kisah cintanya manis dan berwarna-warni seperti es krim.