04
Aman, Mik?
Play
Garis Terdepan - Fiersa Besari
───
PAGI di AA Club hampir selalu menarik. Seperti pagi ini yang ditemani dengan cahaya hangat matahari yang belum menyengat.
"Masalahnya aku mau keluar, Far," Ochi mengambil sepatunya dari rak kemudian berhenti di depan pintu masih sambil menjepit ponselnya di antara telinga dan bahu.
Perempuan itu sedang berbincang dengan seseorang di balik telepon genggamnya. Ochi mengernyitkan dahinya sembari mendengar pemaparan lawan bicaranya.
"Di kos? Ada sih kayaknya," matanya mengikuti pergerakan Mika yang sedang mengambil sarapan di meja makan.
Dia menggigit bibir bawahnya, "Duh, tapi Far," ucapannya terpotong oleh lawan bicara.
Ochi menghela napas berat sembari menunggu di penelepon selesai bicara, "Okay," finalnya sebelum sambungan telepon itu dimatikan.
Ochi lagi-lagi menggigit bibir bawahnya ragu, namun akhirnya dia meletakkan kembali sepatunya di lantai dan berjalan mendekati Mika yang saat ini sudah duduk menyantap sarapannya.
"Mik," Ochi mengambil duduk di kursi seberang Mika.
Mika melirik ke arah Ochi sebentar, melihat bagaimana temannya itu sudah siap pagi-pagi begini, "Kelas pagi, Cik?"
Ochi mengangguk sambil tersenyum membuat Mika mengernyit bingung dengan tingkah Ochi yang sedari tadi hanya diam saja sambil menebarkan senyumannya itu.
"Apasih? Kena sawan?"
Decakan terdengar dari Ochi, "Enggak gitu."
"Terus?" sembari masih menyuapkan nasi goreng Mang Aang yang dia beli semalam di depan kompleks.
"Kamu enggak keluar pagi, kan?"
Mika diam tampak berpikir sebelum akhirnya menggeleng.
Ochi tersenyum, "Mau minta tolong, hehe."
Mika makin yakin kalau Ochi kena sawan, tidak biasanya di kosan ini orang-orang mengatakan kata 'tolong' saat hendak meminta tolong.
"Apasih, gajelas, minta tolong tinggal bilang aja kali."
Ochi menghela napas entah untuk yang keberapa kali pagi ini. Permintaannya ini kemungkinan besar akan ditolak oleh Mika, tapi rasanya tidak ada salahnya mencoba, kan?
"Duh, masalahnya ini susah."
Mika memutar bola matanya, "Apa? Apa? Ngomong."
Ochi menggaruk tengkuknya, entahlah dia sangat ragu untuk hal ini.
"Itu, mau nitip paket," katanya penuh keraguan yang bisa didengar jelas oleh Mika.
Mika baru saja menyendokkan suapan lain nasi gorengnya, "Nitip paket mah gampang, dianter kemana?"
Ochi menarik napas panjang, "Enggak, mau diambil ke sini."
"Oh, ya tambah gampang dong, apanya yang susah? Mana paketnya?" Mika sudah mengulurkan tangannya.
Ochi mengeluarkan dua bundle makalah tentang ekonomi makro dan dia serahkan kepada Mika yang disambut baik oleh laki-laki itu.
"Aman ini mah, atas nama siapa?" tanya Mika yang kini sudah memasukkan suapan lain ke mulutnya.
Ochi menggigit bibirnya dengan gugup.
"Farah."
Pandangan mereka bahkan tidak sempat terputus saat Mika tersedak nasi goreng yang dia makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gudeg 97
AléatoireDengan membuka halaman ini, kalian akan mengikuti cerita tujuh anak kuliahan yang sedang menghadapi huru-hara kehidupan di kosan mereka, AA Club. Semoga akrab dengan mereka semua!
