Suara riuh pembeli terdengar hingga ke telinga seorang gadis dengan seragam pelayan berwarna merah. Rasanya kakinya benar-benar lelah berjalan ke sana ke mari.
Gadis itu sedang berada di Ster Cafe yang tengah ramai dengan pelanggan. Dia harus sedikit sabar, sebab setelah ini adalah jadwalnya untuk pulang ke rumahnya.
"Ola! Nih, kasih ke meja itu ya," perintah seorang laki-laki tinggi dengan rambut berwarna cokelat, laki-laki itu juga menggunakan seragam pelayan yang hampir mirip dengan seragam gadis itu.
"Rame banget hari ini," keluh Ola sambil mengambil nampan dan mulai melangkah menuju salah satu meja.
Setelah melayani pelanggan, Ola berjalan pelan kembali pada tempat sebelumnya. Ola menatap ke arah keramaian, para pelanggan terlihat tengah menikmati makanan mereka. Ola menyipitkan matanya pada seorang lelaki yang sedang menunjukkan tawa lebarnya pada seorang perempuan di depan lelaki itu.
"Kak! Kak! Itu, Eron, bukan sih," ucap Ola sambil menepuk-nepuk pundak lelaki itu dengan cepat.
"Eh, bener dia, Eron, kok sama cewek lain?" tanya lelaki itu dengan bingung.
"Wah, selingkuh dia!" tuduh lelaki itu dengan cepat.
Setelah dilihat dengan baik-baik, Eron, lelaki yang tengah bersama seorang perempuan itu terlihat sangat dekat dan mesra.
"Gak bisa dibiarin ini." Ola mendekat ke arah lelaki yang mereka sebut Eron itu.
"Heh, itu selingkuhanmu?" Ola menggebrak meja diantara Eron dan perempuan itu, lalu menunjuk ke arah perempuan itu.
Semua orang menatap ke arah mereka dengan berbagai pertanyaan di benak mereka. Beberapa orang mulai saling berbisik dan membicarakan mereka.
"Eh, siapa bilang? Dia adik aku kok," elak Eron dengan sedikit panik.
Ola diam sejenak, tatapannya menatap ke arah perempuan dengan tangannya yang sedikit bergetar. Tatapannya kembali pada Eron. Setelah beberapa saat dia berpikir, Ola mengerutkan kedua alisnya.
"Eh! Sejak kapan kamu punya adik ya! Kita putus!" ucap Ola dengan cepat dan raut marah yang tercetak di wajahnya.
Ola tidak menerima penolakan apapun, dia memutuskan keluar dari kafe itu dan pergi ke arah belakang kafe. Pelanggan-pelanggan yang melihat hal itu sudah kembali pada kegiatan mereka masing-masing.
Ola berhenti melangkah setelah mencapai tempat tujuannya. Tidak ada yang spesial di tempat itu, hanya terdapat bangku dan pintu masuk ke bagian dapur kafe. Ola duduk di bangku itu, dia mendongakkan kepalanya ke atas. Sang rembulan tak terlalu bersinar terang karena tertutupi awan mendung.
Helaan napasnya terdengar penjang, dia tidak peduli jika dia putus dengan Eron. Eron adalah pacar keempatnya dulu, mulai sekarang dia adalah mantan Ola kesepuluh. Lagi pula, Ola tahu, yang berselingkuh bukan hanya pacarnya itu, melainkan dirinya juga.
Dia mengambil ponselnya yang berada di saku seragamnya, jam menunjukkan pukul 21.00. Dia harus menunggu selama tiga puluh menit lagi untuk pulang.
Suara langkah kaki mendekat ke arahnya, Ola mengalihkan pandangannya. Seorang lelaki dengan senyum kecilnya mendekat kearah Ola.
"Kak Haru? Ngapain?" tanya Ola pada lelaki yang mendekat ke arahnya.
Laki-laki yang memberi tahu tentang Eron pada Ola, Haru mendekat dan duduk di samping kanan Ola. Dari banyaknya pelayan yang berada di kafe, hanya Haru saja yang benar-benar dekat dan seperti keluarga Ola.
"Nemenin kamu lah," jawabnya, Haru menganggap Ola sebagai adik perempuannya yang pemberani.
Begitu juga dengan Ola, dia menganggap Haru adalah kakak berharganya yang selalu mendukungnya.
Ola tak pernah merasa sedih karena hubungannya dengan pacar maupan mantannya. Dia hanya tidak suka merasa kehilangan, Ola butuh kasih sayang lebih. Terdengar egois, tapi itu yang Ola butuhkan.
"Ayahmu belum ngasih uang?" tanya Haru pada Ola.
"Udah, tapi cuma cukup buat, Lou sama Kiky, bagianku cuma dikit," jawab Ola tanpa menatap Haru dan terus menatap ke arah bulan.
Haru berdiri dari duduknya, dia menepuk-nepuk kepala Ola dengan pelan. Dengan sengaja dia mengacak-acak rambut gadis itu.
"Gausah jadi cengeng," ucap Haru sambil melangkah menuju pintu masuk dapur.
"Siapa juga yang cengeng!" elak Ola sambil menatap tajam Haru, Ola membenarkan rambutnya yang berantakan dengan malas.
Haru membuka pintu tersebut sambil tertawa mendengar ucapan Ola. Setidaknya sekarang Ola harus kembali bekerja sebelum gajinya dipotong.
•
Ola membuka pintu rumahnya dengan lelah. Dia rasanya ingin segera menuju kamarnya dan masuk ke alam mimpinya. Terdengar sebuah langkah pelan yang membuat Ola mengurungkan rasa mengantuknya.
"Ola," panggil seseorang dari arah dapur menuju ke arahnya.
"Baru sekarang inget punya anak? Ngapain ke sini, kan udah punya keluarga baru?" ucap Ola pada seorang wanita di depannya dengan nada sarkas.
"Maaf, Ibumu ini benar-benar merasa bersalah," ucap wanita yang mengaku sebagai ibu Ola.
"Baru sekarang ngerasa bersalah, dulu waktu aku umur dua belas tahun kamu ngapain? Sibuk sama suami barumu itu?" Ola menjaga suaranya agar tidak terlalu keras, takut adik-adiknya akan terbangun.
Ola sudah menebak, pasti wanita itu datang sekitar dua jam yang lalu. Dengan bagian dapur yang terlihat sudah digunakan dan adik-adik Ola yang Ola tebak sudah tidur.
"Maaf, ini salah Ibu," lirih wanita itu sambil menatap Ola dengan tatapan sendu.
"Setelah lima tahun aku hidup tanpa orang tua? Ayah udah sama keluarga barunya, tapi ayah masih sempat ngasih aku uang buat kebutuhan hidupku, Lou sama Kiky. Sedangkan kamu? Pantas dipanggil ibu?!" Suara Ola terdengar meninggi, emosi Ola benar-benar tidak terkontrol.
"Sekarang kamu datang, terus minta maaf? Emang itu semua bakal ngebuat masa lalu jadi baik?! Aku capek harus gantiin peran orang tua buat, Kiky sama Lou!" Raut wajah Ola penuh dengan kemarahan, Ola menatap sinis wanita itu.
Hal yang tidak Ola sadari adalah mana miliknya. Dia tidak sengaja menciptakan boneka manusia dengan tinggi yang setara dengan wanita itu.
Pikiran Ola tidak bisa tenang, emosinya telah menguasai tubuhnya. Dia tidak sengaja membayangkan bonekanya mencekik leher wanita itu.
Dengan cepat boneka yang berada di belakang Ola itu mengarah ke arah wanita itu. Wanita itu melotot tak percaya dengan kejadian aneh itu.
"Akh! Monster!" Wanita itu tercekik, dia mencoba melepaskan tangan boneka buatan Ola dari lehernya.
Ola yang baru sadar dengan apa yang terjadi segera menghilangkan boneka itu. Wanita itu menarik napas dengan cepat.
"Ka-kau, keturunan Merriell memang aneh!"
●
"Tidak, tidak, dia tidak boleh hidup bahagia, aku harus melakukan sesuatu." Seorang gadis tengah melukai tangannya dengan kuku tangannya sendiri. Dia mengepalkan tangannya penuh amarah, hingga mengeluarkan darah segar.
Dia mengacak-acak rambutnya sendiri frustrasi. Sebuah ide muncul secara tiba-tiba, gadis itu tersenyum dengan senang.
"Daripada dia menjadi terkenal dengan kelebihannya, bukankah lebih baik membuatnya menjadi seperti penyihir jahat yang membawa kesialan?" ucapnya pada dirinya sendiri, dia tertawa dengan pelan, lama-kelamaan suara tawanya mengeras.
"Setelah ini, dia pasti akan terkenal," ucapnya dengan pelan, tanpa diketahui aura hitam telah menyelimuti dirinya.
●
●
●
Duar satu teka-teki keluar, semoga bisa menebak(^ー^). Emosinya Ola udah kerasa belum kira-kira? Kasih vote yak. Baca doang, gak ngasih vote( `Å')
KAMU SEDANG MEMBACA
EDELSTENEN [End]
FantasyMenggunakan sihir hitam dan melakukan perjanjian dengan iblis adalah hal yang salah. Seorang penyihir berhasil melakukan perjanjian terkutuk dan membuat masalah di masa depan. Linn dan teman-temannya bertugas menggagalkan rencara penyihir itu *** !W...
![EDELSTENEN [End]](https://img.wattpad.com/cover/358083689-64-k490767.jpg)