Langkah kaki seseorang terasa ramai di tengah sunyinya tempat pemakaman. Dia melangkah pelan, sambil mengingat-ingat di mana makam yang akan dia kunjungi berada.
Dia berjalan mendekat ke salah satu makam, dia tersenyum kecil. Perempuan itu menekuk kakinya di samping makam itu.
"Siang, Linn. Aku dateng nih, banyak hal yang bisa aku ceritain sekarang." Dia menaburkan beberapa kelopak bunga di makam itu.
"Sejak kejadian 10 tahun yang lalu, banyak perubahan yang terjadi," lirihnya sambil menatap makam itu.
●
"Hai, Ralu," sapanya pelan dengan senyum kecil menghiasi wajahnya.
Ralu mengangguk pelan, sebagai balasan sapa itu. Dia duduk di salah satu kursi kosong di taman itu. Lalu, meletakkan plastik berisi makanan ringan di atas meja.
Lelaki itu duduk di kursi kosong di depannya. Tak lupa dia meletakkan setangkai bunga mawar di atas meja. Lalu menggeser bunga itu mendekat ke arah Ralu.
"Kita udah sedekat ini, tapi kamu masih cuek?" tanyanya pelan.
"Males bicara. Omong-omong, katamu kemarin, Ciki lahiran ya?" Ralu mulai mengalihkan topik pembicaraan. Lelaki dibdepannya itu memutar bola matanya dengan malas.
"Giliran kucing aja kamu peduli," jawab Zev dengan kesal.
Gendut, kucing oranye itu tidak sengaja membuat kucing liar hamil dan melahirkan anaknya. Dengan berat hati, Zev harus merawat anaknya itu. Ciki, kucing itu adalah anak Gendut dan kucing liar tidak dikenal. Ralu yang memberinya nama. Namun sayangnya, Gendut telah menjadi tulang belulang di bawah tanah.
"Kita udah sedekat ini, tapi kamu lupa aku gak suka mawar?" tanya Ralu dengan nada yang mirip saat Zev bertanya tadi.
"Mawarnya aja, dapet gratis dari bagi-bagi bunga di sana," jawab Zev sambil menunjuk ke arah kanan menggunakan dagunya.
Ralu menoleh, di sana memang sedang membagikan bunga mawar gratis. Entah apa alasannya itu, mungkin Selasa berkah.
"Kalau dipikir-pikir, gimana bisa orang yang suka bolos sekolah kayak kamu, jadi dokter hewan ya?" celetuk Ralu.
"Usaha dong, ditambah dukungan sesuatu dari belakang," jawab Zev sambil menggeserkan jari telunjuk dan ibu jari beberapa kali. Ralu menggelengkan kepalanya pelan, setelah mendengar jawaban Zev itu.
●
"Awalnya Ralu cukup pendiam, sepertinya dia sedih. Lama-kelamaan Zev menghiburnya, kurasa dia menyukai Ralu. Lucu juga." Ola mengingat-ingat semua peristiwa yang telah terjadi. Ola terus bercerita seolah Linn benar-benar di sampingnya, dan menjawab setiap ceritanya.
Siel, gadis itu tumbuh baik walau sedikit trauma dengan kejadian itu. Kae bertanggung jawab dengan itu, dia membawa Siel ke psikiater beberapa kali untuk menyembuhkannya. Untung saja traumanya tidak terlalu parah.
"Lalu, aku entah mendapat keberuntungan dari mana, aku menjadi pembuat pakaian, kadang aku juga membuat kostum di salah satu teater." Ola mengingat kembali, saat dia iseng mencoba menjadi desainer pakaian. Sesuatu yang tidak terduga, karyanya disukai oleh banyak orang.
"Terakhir, Noe, lelaki itu pergi ke luar kota. Sepertinya dia mau melupakanmu, tapi aku yakin dia tidak bisa melupakanmu. Siapa yang bisa melupakan kejadian itu?" jelas Ola sambil tersenyum kecil.
"Dia jadi pengacara tahu," tambah Ola.
●
"Sayang! Kamu pergi, kok gak ngasih tahu aku?" protes seorang perempuan dari ponselnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
EDELSTENEN [End]
FantasyMenggunakan sihir hitam dan melakukan perjanjian dengan iblis adalah hal yang salah. Seorang penyihir berhasil melakukan perjanjian terkutuk dan membuat masalah di masa depan. Linn dan teman-temannya bertugas menggagalkan rencara penyihir itu *** !W...
![EDELSTENEN [End]](https://img.wattpad.com/cover/358083689-64-k490767.jpg)