❝Kita adalah ketidaksengajaan yang diatur baik oleh Tuhan❞
Menyandang nama sebagai putra kepala Distrik 9 membuat Felix menjadi incaran. Dia kunci dari sesuatu yang berharga---sehingga keberadaannya berusaha disembunyikan. Namun, 10 tahun kemudian p...
Seungmin berkeliling melihat rumah baru. Sedikit lebih minimalis dibanding dengan tempat tinggal sebelumnya. Ada dua kamar tidur, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi.
Malam itu juga, setelah dipastikan kondisi Felix memungkinkan untuk pulang, Changbin menjemput keluarga Bang Chan untuk segera pindah ke rumah baru.
Felix tidak mencurigai apa pun sebab Bang Chan berdalih imigrasinya kali ini karena alasan pekerjaan dan tidak bisa meninggalkannya sendirian.
Beda dengan Seungmin, dirinya memang tidak bisa jauh dari si abang. Jika tiga hari saja mereka tidak bertemu, dia bisa langsung demam. Jadi ke mana pun Chan pergi jauh, pasti turut serta.
Versi Seungmin; Rindu itu berat. Aku gak akan kuat, kamu saja.
"Orang boker itu mencari ketenangan berpikir. Ini malah disuruh ngobrol. The real of nongkrong," monolog Seungmin ketika melihat desain kamar mandi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Penjelajahannya berlanjut masuk ke sebuah kamar. Diletakkan tas ransel di atas kasur, meregangkan badan lalu menyalakan lampu.
"HA! KAMCHAGIYA!" teriak Seungmin karena tiba-tiba Felix mengagetkannya, muncul dari balik gorden. Sementara pelaku malah tertawa terbahak-bahak sambil memukul kasur lalu terbatuk karena tersedak debu.
"Lo tau, seumur hidup gue gak pernah teriak kayak gitu, anjir," ungkap Seungmin sambil mengusap leher dan sedikit melotot pada Felix.
"Iya, maaf," ucap Felix di sela tawanya yang masih berlanjut. "Kamu pakai kamar sebelah aja, Min." Pasalnya dia sudah terlanjur menata kamar itu dengan estetik, sayang sekali jika harus dipindah dan ditata ulang.
Seungmin berpindah ke kamar lebih lebar yang pintunya menghadap langsung ke ruang tamu. Disusun perlengkapan pribadi di tempat semestinya. Setelah semua tertata, laki-laki dengan poni menutup kening itu langsung merebahkan diri di kasur.
Gagang pintu berbunyi. Seungmin memicingkan mata, menunjuk ke arah pintu sehingga Chan yang berdiri di situ menghentikan langkah. "Mau ngapain?"
Senyum Bang Chan mengembang, berlari-lari kecil lalu berbaring di sebelah adiknya. "We sleep together Seungmin. Ahahaha," cicitnya dengan suara imut.
"Haish." Seungmin hanya pasrah dengan wajah tertekan, membiarkan kaki dan tangan abangnya itu memeluknya.
"Eh, Min." Bang Chan mengusap dagu sambil menatap langit-langit kamar yang terdapat bekas rembesan kencing tikus. "Cara ngilangin komedi di dagu nih gimana, ya? Mohon sarannya."
"Dagu lo bisa ngelucu?" tanya Seungmin. Kemudian menyorot tajam ke arah pintu ketika Felix datang. "Apa?! Lo mau gabung di sini juga? Gue cuma pengen tidur dengan tenang, plis."
"Kayaknya ini jatuh dari tasmu, Min." Felix menunjukkan sebuah replika kura-kura emas, mengamatinya. "Apa ini terbuat dari emas asli?"
"Kalau terbuat dari kedelai hitam ntar jadinya kecap," interupsi Seungmin.