❝Kita adalah ketidaksengajaan yang diatur baik oleh Tuhan❞
Menyandang nama sebagai putra kepala Distrik 9 membuat Felix menjadi incaran. Dia kunci dari sesuatu yang berharga---sehingga keberadaannya berusaha disembunyikan. Namun, 10 tahun kemudian p...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
༶•┈┈⛧┈♛03.02.25♛┈⛧┈┈•༶
"Lix! Mana kunci motor?" Seungmin geram, sejak tadi memeriksa setiap celah barang di rumah hanya untuk sebuah kunci tapi tak kunjung ditemukan. Bahkan sudah mencari ke tempat yang sangat tidak masuk akal seperti kulkas, mesin cuci, menyenteri pembuangan wastafel, sampai memeriksa isian sayur asam buatan Bang Chan.
Pukul lima pagi, rumah minimalis dengan tanaman janda bolong di sepanjang pagar ini sudah riuh dengan kegaduhan dua adik Chan, sementara kepala keluarga baru saja berangkat mencari nafkah.
"Gak tau, kok tanya aku," jawab Felix sekenanya sambil menjahit bagian jempol kaus kakinya yang sedikit koyak.
"Lo pasti naruhnya sembarangan! Sudah berapa kali dibilangin kalau habis pakai, kuncinya digantung di sini!" Seungmin menunjuk paku yang biasa menjadi tempat gantungan kunci.
Mendengar uring-uringan di sela kokokan ayam sangat tidak mengenakkan. Hidung Felix mengembang, mendengus kesal. Dia mencoba mengingat-ingat. "Hey, bukannya semalam kamu yang terakhir pakai? Mau beli nasi goreng tapi gak jadi karena warungnya keburu bangkrut. Ingat, gak?"
Seungmin menatap langit-langit, lalu memukul keras pahanya. "Oh, ya! Masih di kantong celana satunya." Dia segera berlari ke kamar mandi, membongkar keranjang pakaian kotor. Benar, kuncinya di sana.
Untung, Felix begitu sabar. Bisa menahan diri untuk tidak menempeleng saudaranya ini.
"Bang Chan gak tau, 'kan, kalau kita mau ke mansion?" tanya Seungmin, mengenakan jaketnya yang bertuliskan Mahasigma, memanaskan motor. Dia izin kerja hari ini demi menemani Felix. Bukan karena khawatir kenapa-napa, dia penasaran bagaimana rasanya menginjakkan kaki di rumah orang kaya sekaligus ingin mengambil beberapa foto estetik di sana.
"Gak. Katanya, abang pulang besok siang." Setelah mengunci pintu rumah, Felix mengenakan helm motif anak ayam, bersiap duduk di jok belakang motor.
"Apa Minho juga ke sana?" tanya Seungmin sambil menjalankan kendaraan roda dua miliknya tanpa memeriksa ke belakang.
"Aku belum naik, Mong!" teriak Felix.
Seungmin mengerem mendadak, ayam tetangga sebelah yang kebetulan lewat sampai terkejut dan bertelur di tempat.
"Kayaknya enggak." Felix menjawab pertanyaan sebelumnya, berpegangan pada besi di belakang dudukan motor karena Seungmin kalau berkendara lajunya seperti dikejar rintenir. "Terakhir ketemu Kak Minho setelah kami menyelidiki mansionku beberapa hari lalu. Janjinya mau ketemu lagi tapi panggilan juga pesanku belum ada yang dibalas. Dia pasti sibuk."
"Halah, emang orang itu janji-janji aja bisanya," sahut Seungmin. Sulit sekali baginya membangun image baik untuk Minho. "Lo yakin dia bisa dipercaya? Firasat gue, dalangnya ada di sekitar keluarga konglomerat itu."
Felix mengangguk. "Aku pikir juga begitu. Tapi kesalahpahaman malam itu sudah diluruskan. Aku percaya Kak Minho."
Kecepatan motor dikurangi, mereka berhenti sebentar, mengantri di tempat pengisian bahan bakar. "Lo percaya dia, berarti lo harus percaya gue. Apapun itu, kasih tau gue. Jangan lo tanggung masalah ini sendirian."