CHAPTER 5

1.5K 83 1
                                        

Di sepanjang perjalanan pulang, Maeryn diliputi kegelisahan. Tak pernah terlintas di benaknya, pria yang sempat dihina oleh pelayan kakaknya ternyata adalah seorang Putra Mahkota. Lebih dari itu, pria itu kini tengah menuju kediamannya.

"Apakah kami akan dihukum karena sudah membuat keluarga kaisar merasa terhina?"

Batin Maeryn, jantungnya berdebar tak menentu.

“Nona, wajah Anda tampak pucat. Apakah Tuan yang tadi melakukan sesuatu pada Anda?”

Tanya pelayan yang duduk berhadapan dengannya di kereta kuda.

Maeryn menggeleng lemah.

“Tidak. Justru sayalah yang bersalah.”

Raut pucat Maeryn membuat pelayan itu semakin khawatir. Ia menggenggam jemari sang nona dengan hati-hati.

“Apa maksud Anda? Saya tidak mengerti.”

Maeryn menunduk. Suaranya bergetar saat ia berkata, “Tuan itu adalah Putra Mahkota. Tempo lalu, pelayan Kakak telah menghinanya.”

Mendengar kalimat yang dilontarkan Maeryn membuat si pelayan diam tak bisa berkata apa-apa.

                                 ***

Sementara itu, di kediaman Marquess, Putra Mahkota telah tiba lebih dahulu bersama ajudannya.

Namun alih-alih disambut dengan tenang, amarah segera menyelubunginya saat mendapati sepupu yang ia dibenci tak lain adalah Grand Duke, tengah berbincang dengan orang yang seharusnya ia temui.

“Bahkan secara terang-terangan kau mencoba menyingkirkanku.”

Seru Putra Mahkota dengan nada tajam, matanya menusuk Grand Duke penuh kebencian.

Grand Duke menoleh dengan senyum mengejek.

"Sepertinya kita kedatangan tamu tak diundang. Benar begitu, Tuan Marquess?”

Marquess yang kala itu berdiri di sisi Grand Duke, sontak terkejut. Ia buru-buru menghampiri sang Putra Mahkota dan membungkuk hormat.

“Yang Mulia Putra Mahkota, selamat datang.”

Namun ucapan itu tidak meluluhkan hati sang pangeran. Ia menatap Marquess dengan dingin, sebelah alisnya terangkat.

“Aku melihat sendiri, dan sekarang aku tahu kau berpihak pada siapa, Tuan.”

“Ti-tidak, Yang mulia. Ini bukan seperti yang Anda bayangkan.”

Suara Marquess terbata, tubuhnya gemetar.

“Zedekiah Kael, kau terlalu mudah tersinggung,” seloroh Grand Duke, sengaja memotong suasana yang tegang.

“Tuan Aldric Veyron, mohon jaga sikap Anda pada Yang Mulia.”

bentak ajudan Putra Mahkota, suaranya tegas menegur.

Grand Duke berdiri, lalu menyapu mereka dengan pandangan meremehkan.

“Sepertinya aku harus pamit. Aku tidak ingin mengganggu. Tuan Marquess, pertimbangkanlah ucapanku tadi.”

Dengan langkah tenang, ia pun keluar meninggalkan ruangan.

                                  ***

Tak lama berselang, kereta Maeryn tiba di kastil. Begitu turun, pandangannya langsung tertumbuk pada tiga ekor kuda yang tengah diberi makan oleh tukang kebun di halaman. Ia mengenali siapa pemilik masing-masing kuda itu, dan seketika tubuhnya lemas.

Langkahnya yang ringan kini terasa berat. Di ambang pintu besar, ia melihat ayahnya yang tampak cemas berhadapan dengan Putra Mahkota. Sementara itu, Grand Duke berjalan menjauh, berpapasan dengannya.

When Love and Revenge Become One [END] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang