Tersedia di Shopee
Terbit di Teori Kata Publishing
JANGAN LUPA FOLLOW, VOTE, DAN KOMEN!!
☕︎︎[ Event menulis solo bersama lapaspenulis Teori kata publishing 25days ]
PART LENGKAP!
NOTE : REVISI + PROSES TERBIT
=>>
PURWOKERTO,
Salah satu kota yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aruna berdecak pelan saat membaca pesan yang Putra kirim. Niatnya dia ingin berangkat bersama, hanya gara gara Putra mules jadi nya di tunda dan alhasil kini ia harus berangkat dengan titisan Elsa Frozen.
Andai saja Putra menghubungi nya lebih awal, dia mungkin akan berangkat sendiri dan motor nya tidak ia kasih ke adik nya. Namun sekarang sudah terlanjur. Orang yang Putra suruh kini sudah sampai di depan rumah nya. Bahkan, Bima selaku papahnya malah mengajak Altezza berbicara. Huh orang tua itu kalo sudah ketemu dengan yang se—frekuensi pasti akan lama, pikir Aruna.
Benar saja, papahnya berbicara masalah bisnis dengan Altezza. Dan sayangnya Altezza menanggapi nya dengan senang hati. Bisnis coyy bisnis.
“Ah iya nak Altezza, om nitip putri om yang satu ini ya, om berangkat dulu.”
Aruna membelakan matanya. Apa apaan ini, papah nya seenak nya menitipkan dia ke cowok sok keren ini. Memang nya dia barang apa, cetus nya dalam hati.
“Gimana gue naiknya,” guman Aruna yang sayangnya di dengar langsung oleh Altezza.
“Cebol. Buru nanti telat, ” ujar Altezza datar.
Aruna menatapnya sinis. Jika saja cowok di depannya itu tidak memakai motor sport nya, pasti ia akan mudah naiknya. Altezza memandang Aruna tak sadar sudut bibir nya berkedut. Dia menyalurkan tangannya dan langsung diterima oleh Aruna.
Aruna yang melihat Altezza menyalurkan tangannya langsung ia terima. Dia langsung menaiki motor Altezza. Hampir saja jatuh jika Altezza tidak menjaga keseimbangannya dengan benar.
Merasa cewek yang di boncengnya menurunkan rok nya guna menutupi paha nya, Altezza dengan gampang memutar tubuhnya dan mengikatkan jaketnya pada pinggang Aruna.
Deg
Entah sadar atau tidak, perlakuan Altezza kali ini membuat jantung Aruna berdetak lebih kencang. Bahkan Aruna sampai menahan napas nya saat Altezza mengikatkan jaketnya.
“Pegangan.” Aruna memegang pundak Altezza. Sedangkan Altezza berdecih. Tukang ojek kali dirinya, batin Altezza kesal.
Altezza mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Waktu yang menunjukan pukul setengah tujuh membuat dirinya masih santai di jalanan. Andai saja bukan karena Putra yang menyuruh nya agar menjemput sepupunya itu, mungkin saat ini Altezza masih bergulat dengan selimut dan kasurnya.
Tak terasa kini mereka sampai di depan gerbang SMA Ksatrian. Kedatangan mereka berdua langsung jadi sorotan dan bahan pembicaraan. Apalagi selama ini yang mereka tahu jika Altezza dan Aruna tidak pernah akur. Namun, kali ini entah fenomena apa Altezza dan Aruna berangkat bersama.