22. pertemuan kembali

121 21 0
                                        

__
alam kematian
200tahun kemudian.
Jika 10 tahun di alam kematian sama seperti 1 tahun di alam manusia.
Berarti sudah 20 tahun berlalu sejak kematianku yah.
Karna aku sudah mati, tubuhku tak menua dan tetap dengan wajah saat aku mati.
Aku hanya duduk di alam kematian yang berbatasan dengan alam Neraka.
Puk
"Al, sudah 200 tahun kau disini. Apa kau yakin tidak ingin masuk ke lingkaran Rengkarnasi?"tanya Azriel padaku.
"Emh tidak perlu" aku menggeleng.
"Aku ingin menunggu Derlick, dan masuk ke lingkaran Rengkarnasi bersamanya"ucapku tersenyum
"Tapi ini sudah Beratus ratus tahun berlalu, apa kau yakin dia masih akan mencintaimu?"tanya Aurel.
"Yah tak masalah,setidaknya meski suatu saat nanti dia sudah memiliki wanita yang dia sukai ya. Aku hanya ingin melihatnya sekali saja lalu pergi"ucapku tersenyum.
"Azriel, apa kau tak bisa membiarkan jiwa Al pergi ke bumi sebentar saja"ucap Aurel menarik baju Azriel.
"Haaaah, baik baik. Aku akan membiarkannya. Tapi kau akan di temani oleh asistenku"ucap Azriel menggaruk kepalanya.
Dan berdiri seorang pria berbuat hitam pekat dengan kulit coklat .
"Perkenalkan tuan nama saya lias saya adalah asisten dari malaikat kematian agung"ucap pria itu tertawa.
Dia begitu riang.
"Tolong pegang tangan saya, agar anda tidak terpisah dengan saya"ucap Lias.
Aku memegang tangan Lias
Srrrnk
Kami berdiri di pintu besar yang merupakan perbatasan dunia manusia dan alam kematian.
_
"Tuan, anda bisa membuka mata anda. Kita sudah sampai"ucap Lias.
Aku membuka mataku dan terlihat sebuah patung berbentuk diriku yang terpajang di pusat kota.
"Pahlawan yang gugur mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan negaranya, Arlezhan Belion Devilsman"ucapku membaca kata kata di patung itu.
"Agran, kenapa kita berada di Agran. Bukanka kita harusnya pergi ke Abdildon?"tanyaku pada Lias.
"Apa anda lupa Tuan, anda memenangkan perang. Sehingga Abdildon adalah bagian dari negara Agran juga"ucap Lias tersenyum.
Srrt
"Ayo kita pergi ke istanah"ucap Lias
"Istana, kenapa?"tanyaku
"Karna hari ini, kaisar Heyron akan wafat jadi saya perlu membawa jiwa beliau"ucap Lias.
"Heyron, bukanka itu nama paman kaisar"
"Anda pasti tidak asing dengan nama pria itu bukan"ucap Lias tersenyum.

__
Istana perak
Sebuah kamar kaisar dimana sudah ada beberapa anggota keluarga disana.
Seorang pria berambut perak terbaring di atas kasur.
Pria itu sudah tua dan keriput namun keindahan matanya masi terus terkesan lembut.
"Dia sudah berumur 79 tahun yah"ucapku tersenyum sambil duduk di samping paman kaisar.
"BI bisaka uhuk kalian membungkuskan kue coklat kering. Aku ingin memberikannya pada Al disana"ucap paman kaisar.
"Itu adalah kue kesukaannya, jadi aku pikir dia akan senang kalau aku membawakan itu untuknya"ucap paman kaisar tersenyum.
"Paman kaisar, terima kasih. Terimakasih sudah memarahiku,terima kasih karna tidak menghukum ku karna aku nakal dan terima kasih karna sudah menyayangiku. Aku sangat menyayangi paman, sangat menyayangi paman. Aku harap suatu hari di dunia yang berbeda kita akan bertemu lagi" aku berbisik di telinga paman kaisar.
"Terima kasih paman kaisar"bisikku mencium dahi paman kaisar.

Perlahan paman kaisar menutup matanya.
"Yang mulia, sudah tidak bernafas lagi"ucap dokter menyentuh pergelangan tangan paman kaisar.
"Sayaangg, sayaaang"ucap bibi yang menangis sembari memeluk tubuh paman kaisar.
Lingkaran putih terlihat.
"Tuan masuklah, dan berikan salam perpisahan pada paman anda.  saat kita kembali ke alam kematian Paman anda mungkin sudah masuk kedalam lingkaran Reinkarnasi"ucap Lias mendorongku pelan.
Aku mengangguk.
Dan masuk ke lingkaran putih itu.
bersih dengan wajah mudahnya.
"Pamaan"panggilku keras.
"Al"ucap paman yang berbalik.
"Hahah paman apa kabar?"tanyaku mendekati nya.
Grub paman memelukku.
"Kau anak bodoh, kemana saja kau pergi. Paman kira paman takkan melihatmu lagi"ucap paman memelukku erat.
"Hahah, yah mau bagaimana lagi. Aku sudah mati"ucapku tersenyum.
"Ah benar paman, beri aku kue kering . Aku sangat lapar"ucapku tersenyum menjulurkan tanganku.
"Ah benar juga"paman meraba kantung celananya.
"Ini"ucap paman memberiku sebuah saputangan berwarna putih dengan sulaman bunga persik.

"Paman kau harus pergi sekarang"ucapku tersenyum.
"Pergi?"tanya paman.
"Yah masuklah kedalam pintu itu nanti akan ada 2 malaikat dengan rambut hitam akan mengantarmu ke lingkaran reinkarnasi"ucapku tersenyum berbalik.
Tap tap aku berjalan.
"Bukanka sudah 20 tahun berlalu, kenapa kau tidak pergi ke lingkaran itu?"tanya paman.
"Ah itu, haha. Aku ingin melihat 'Mereka' dulu"ucapku tersenyum.
"Begituka, emh sekarang Deral sudah tumbuh dewasa. Dia tampan sama seperti mu"ucap paman tersenyum.
"Hahah tentu saja dia pasti tampan"ucapku tertawa.
"Sampai junpa paman"ucapku melambai sembari pergi.
Aku berjalan tanpa berbalik, aku melakukan itu agar paman tak melihat air mataku yang terjatuh.
__
"Oke ayo kita lanjut"ucapku tersenyum.
"Tentu saja"jawab Lias tersenyum
__
Sebuah kediaman Duke Devilsman.
"Uwaa hebat, kediaman ini masih tidak beruba. Padahal sudah 20 tahun berlalu"ucapku tersenyum.
"Tuan anda boleh berkeliling. Saya akan menunggu di sini"ucap Lias berhenti di depan pagar.
"Ah tentu saja"ucapku tersenyum.
Aku melayang berkeliling.
"Hei kau, hantu yang disana"tiba tiba ada seorang pria berambut biru pekat berteriak.
"Eh tunggu dia tidak bicara padaku kan"ucapku bingung.
"Aku bicara padamu, benar kau hantu berambut hitam"ucap pria itu.
"Hahah,ha hallo"ucapku melambai.
Eh tunggu kenapa wajah pria ini sedikit mirip denganku, matanya berwarna hitam tapi rambutnya berwarna biru pekat.

Dia terlihat seperti campuran diriku dan Derlick.
Eh tunggu mungkinkah
"Deral"ucapku
"Bagaimana bisa kau tahu namaku"ucap Dia tiba tiba.
"Ternyata benar Deral yah, hallo salam kenal"ucapku mendekat kearahnya.
"Kau sudah berumur 20 tahun ya sekarang, astaga kau sudah besar yah"ucapku tersenyum.
"Kau, apa kau tahu tentang diriku?"tanya Deral.
"Emh aku tahu tentangmu, namun setelah kau di lahirkan aku tak tahu lagi"ucapku.
"Apa maksudnya itu?"tanya Deral.
"Hahah tidak tidak, kau tahu aku mati saat kau baru berumur beberapa bulan jadi aku tak tahu apa lagi yang terjadi"ucapku tersenyum.
"Kau, mungkinkah kau mengenal ibuku"ucap dia cepat.

"Ah emh yah a aku teman baik ibumu"ucapku tersenyum.
"kalau begitu, bisaka kau ceritakan sedikit tentangnya"ucap Deral bersemangat.
"Tentu saja"ucapku tersenyum
Kami duduk di bangunan yang berada di tenga tenga bunga mawar hitam di taman.
"Tanyakanlah apapun yang ingin kau ketahui"ucapku melayang di atas kepalanya.
"Aku dengar ibuku adalah seorang pria dan keturunan iblis. Apa itu benar?"tanya Deral.
"Emh kalau pria itu benar ibumu adalah seorang pria. Tapi kalau keturunan iblis itu hanyala Rumor"ucapku tertawa.
"Dia sebenarnya hanyala seorang pria yang terlahir dengan rambut hitam dan mata hitam, dia hanyala anak yang ingin kematian lebih dari siapapun"ucapku tersenyum.
"Kematian"ucap Deral.
"Yah, karna rambut hitam itu. Dia di anggap sebagai seorang iblis dengan tuduhan yang tak perna dia lakukan. Namun kau tahu sejak dia mengandung dirimu, dia selalu menikmati hidupnya. Dia berusaha keras agar kau tidak mati di perutnya saat sedang melakukan pertarungan. Karna hanya kau yang dia milikki"ucapku tersenyum.

"Lalu pertanyaan ke 2, apa benar ayahlah yang membunuh ibu?"tanya Deral.
"Emh itu"ucapku menunduk.
"Tidak, mungkinkah"ucap Deral.
"Itu tentu saja tidak hahahah hahah"aku tertawa keras.
"Dasar hantu sialan, bagaimana bisa kau menipuku"teriak Deral menggeprak mejah.
"Hahah itu karna wajahmu terlihat sangat serius jadi itu menyenangkan hahah"tawaku keras
"Kauu"
"Ayahmu tidak perna ingin membunuh ibumu, itu adalah salah kaisar yang menculik kakakmu. Membuat ayahmu tak bisa memilih pilihan lain"ucapku perlahan menunjukan wajah senyum lembut.
"Kenapa kau berwajah seperti itu?"tanya Deral.
"Memang ada apa dengan wajahku, aku tampan kan"ucapku tertawa.
"Dasar narsis"ucap Deral.
"Deraaal"terdengar suara dari kejauhan.
Terlihat pria berambut biru pekat panjang berlari keara Deral
Rambutnya di ikat kuncir kuda dengan kacamata di wajahnya.
"Uwaa Venick terlihat semakin tampan saja dari terakhir kali"ucapku tersenyum.
"Deral, kenapa kau disini. Apa kau melewatkan kelas pedang lagi"teriak Venick menyeret kera baju Deral.
"Hahah kalian benar benar akrab yah"ucapku tertawa.
"Ka kakak hentikan"ucap Deral.

Aku pergi dari tempat itu dan mulai melayang lagi.
Melewati kediaman yang begitu besar, aku memandangi foto foto hitam putih yang terpajang di dinding.
"Uwaaa tampannya"ucapku menyentuh sebuah foto keluarga.
Mereka bertiga berdiri dengan tegak dan sangat tampan.
Aku tersenyum.
Dan melanjutkan berkeliling.
Mataku tertuju kepada 2 orang yang sedang duduk di meja di belakang kediaman.
"Lina,Dio"ucapku mendekat keara mereka.
Wajah mereka sama sekali tak beruba, dan tetap sama.
"Dio apa kau benar benar ingin pergi dari kediaman ini?"tanya Dark elf bernama Lina kepada seorang undaed berambut pirang yang merupakan Dio.
"Emh yah benar, sudah 20 tahun sejak tuan meninggal. Dan perlahan tubuhku sudah mulai membusuk. Jadi sebelum aku benar benar mati, aku ingin mencari tempat untuk makam ku"ucap Dio yang mengasa sebuah pisau

"Lalu kau sendiri Lina, apa kau akan tetap disini?"tanya Dio
"Yah aku akan terus disini. Aku sudah berjanji untuk melayani keturunan Tuan"ucap Lina sambil bersandar.
"Begituka, sejak kematian tuan. Banyak hal yang beruba yah. Dia yang di anggap sebagai iblis sudah menjadi pahlawan, dan lilia juga menghilang"ucap Dio
"Yah, seandainya saja beliau bisa melihat ini"ucap Lina.
Sssh
Aku melayang mendekat, dan duduk di samping Lina.
Mungkin karna aku bukan hantu yang terjebak di dunia melainkan hanya sebuah jiwa.

You And Me (BL) TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang