Jakarta, 11 April
Ting... tong...
Derap langkah terdengar dari balik pintu.
"Ya, sebentar!" teriak seorang gadis dari dalam rumah.
Cklek.
Tak lama kemudian, gadis berambut sebahu itu membuka pintu. Senyum di wajahnya sengaja ia lebarkan untuk menyambut tamu yang sudah ia tunggu-tunggu.
"Hai! Sini masuk!" sapanya ceria.
"Tunggu," ucap orang di depannya. "Aku cuma mampir sebentar."
Langkah gadis itu terhenti tepat di ambang pintu.
"Dih! Kamu kan udah janji mau nemenin aku seharian, hari ini!" katanya sebal.
"Maaf. Aku ada janji lain."
"Oh, jadi janji sama aku nggak penting gitu?!" Nada suaranya mulai meninggi.
"B-bukan gitu. Aku—"
"Aku apa?! Udah, sana pergi! Katanya ada janji!"
Brak!
Pintu ditutup keras.
"Flora! Jangan marah. Aku cuma bercanda!" suara Freya terdengar dari luar.
"Bercanda kamu nggak lucu, Freya!" teriak Flora dari dalam rumah.
"I-iya, iya, maaf. Ayo dong, buka dulu. Aku bawa sesuatu buat kamu."
Cklek.
Pintu kembali terbuka. Wajah Flora tampak garang.
"Hehe... peace." Freya mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
"Masuk!"
"Siap!" Freya menirukan hormat ala tentara.
---
Beberapa saat kemudian, mereka sudah duduk berdampingan di kamar Flora.
"Eh, Frey, lihat deh," ujar Flora sambil memutar layar laptop ke arah Freya.
"Itu apa? Trailer film baru?"
Flora menggeleng. "Bukan. Ini video yang tersebar di internet. Tapi kayaknya bukan dari negara kita."
"Iya? Tahu dari mana?"
"Lihat plang bangunannya. Bukan tulisan kita. Mungkin Vietnam atau Thailand. Aku juga nggak yakin, videonya buram."
Freya terdiam sejenak.
"Mungkin efek narkoba?" tebaknya.
Flora mengangkat bahu. "Entahlah."
"Iyalah. Keahlian kamu juga cuma marah-marah sama moody," gumam Freya pelan.
"Hah? Apa?"
"Eh—nggak. Aku cuma mikir keras."
"Hmph. Terserah."
Freya melirik Flora aneh. "Kan."
"Kan apa?"
"Oh iya, orang tua kamu pulang kapan?" Freya cepat mengalihkan pembicaraan.
Flora berpikir sejenak. "Dua minggu mungkin. Aku juga nggak tahu pasti. Tapi mereka bakal pulang."
Freya hanya mengangguk sebagai jawaban.
Puk..
Flora melempar bantal ke arah Freya.
"Kamu kenapa?" balas Freya heran.
Flora hanya memutar bola matanya, 8a senyum tak waras.
Hening.
Tak ada suara selain dengung laptop. Hingga—
"Frey."
"Flo."
Mereka berbicara bersamaan, lalu kembali terdiam.
"Kamu duluan," ujar Freya.
Flora menggeleng. "Kamu aja."
"Oke, fine. Aku duluan."
Tatapan Flora membuat Freya langsung membenahi posisi duduknya. Ia bersandar pada headboard kasur, lalu menepuk ruang kosong di sampingnya.
Flora mengangkat satu alis, tapi tetap duduk di sana.
"Ada apa?" tanya Flora.
Freya tidak langsung menjawab. Ia perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Flora.
"Ngga, kamu ngerasa ga persahabatan kita agak remggang" ucapnya pelan. "Akhir-akhir ini kita jarang punya waktu bareng."
Flora mendengus kecil, lalu mengangkat tangannya dan mengusap kepala Freya dengan lembut.
"Dasar," katanya. "Kupikir ada hal penting."
"Oh? Jadi persahabatan kita itu nggak penting?" Freya mendongak. Dengan wajah cemberut.
"Iya. Emang kenapa? Kamu nggak suka?" balas Flora santai.
Freya menarik tubuhnya menjauh, tapi Flora lebih cepat menariknya ke dalam pelukan.
"Eh—"
"Aku bercanda," katanya pelan.
"Geli, Flo..." Freya mencoba melepaskan diri, sia-sia.
"Diem. Aku kangen wangi kamu."
Freya mendecak kesal. Tangannya membalas pelukan Flora—jahil—bergerak menuju bagian samping perutnya.
"Freya!!"
Flora refleks melepaskan pelukan.
Freya terkikik.
Flora mencubit perut Freya keras-keras. "Awas kamu."
"Shessh... mau ke mana?" Freya meringis.
"Bikin makan. Emang kamu mau mati kelaparan?"
Freya menggeleng cepat. "Ikut."
---
Berbeda dengan suasana hangat di rumah itu, markas pusat TNI justru diliputi ketegangan sejak malam sebelumnya.
Puluhan—bahkan ratusan—email dari berbagai belahan dunia masuk tanpa henti.
Layar besar di ruang komando menampilkan rekaman situasi dari banyak negara.
Kekacauan.
Atau mungkin kehancuran.
Pusat kota hancur berantakan. Api membubung dari kendaraan dan fasilitas umum. Toko-toko dijarah. Di beberapa negara, pejabat dibunuh—dan ditayangkan secara publik.
Seorang lelaki bertubuh gempal mengaduk kopinya dengan tenang, matanya menatap layar.
"Pak Jabieb," ujar seorang prajurit, "ada pesan dari Istana Presiden."
"Apa isinya?" tanyanya tanpa menoleh.
"Mereka meminta pengamanan tingkat tinggi untuk keluarga besar presiden. Juga evakuasi segera ke pulau pribadi mereka."
Jabieb mendengus. "Mementingkan diri sendiri di saat seperti ini. Pemimpin macam apa itu."
Prajurit itu diam.
"Adi," lanjut Jabieb, "siapkan pengamanan tingkat dua saja."
"Tapi, Pak, kalau mereka—"
"Kalau mereka keberatan," potongnya tegas, "suruh hubungi saya langsung."
"Siap, Pak."
---
KAMU SEDANG MEMBACA
RUN AND HIDE
FanfikceBercerita tentang beberapa gadis yang berusaha bertahan hidup dari kiamat Zombie. Mereka dituntut untuk terus bergerak dan bersembunyi karena musuh mereka bukan hanya para mayat hidup tapi beberapa survivor lain yang saling membunuh untuk mengambil...
