Bab 2 : Pertemuan pertama!

145 15 0
                                        

Jakarta, 12 April

Pukul tujuh pagi, Freya sudah terbangun. Ia bahkan sudah berpakaian rapi, terlalu rapi untuk ukuran hari libur.

Hari ini ia akan menemui Flora.

Ia melihat pantulan dirinya di cermin, ia berpikir apa ini berlebihan?

"Aish... lupakan," gumamnya pelan.

Ponselnya kembali bergetar.
Satu. Dua. Tiga notifikasi panggilan masuk.

Tanpa melihat layar pun Freya sudah tahu dari siapa.

---

Beberapa menit kemudian, Freya sudah berada di atas motornya. Walaupun jarak rumah mereka hanya berjarak beberapa blok, ia tetap memilih berkendara. Terlalu malas untuk berjalan, dan terlalu bersemangat untuk menunggu.

---

Kamar bernuansa alam bebas dengan sentuhan lukisan bunga kecil di dinding membuat ruangan itu terasa hangat. Tempat yang baru kemarin ia singgahi—dan kini kembali ia datangi.

"Freyaaa!" rengek gadis bertubuh mungil di hadapannya.

"Kenapa, Floraaa~" Freya menirukan nadanya.

"Ish! Kalau cuma mau main HP, mending kamu nggak usah ke sini!"

Freya meletakkan ponselnya di atas kasur, lalu menatap Flora sambil tersenyum.

"Kenapa sih marah-marah mulu? Nanti cepet tua, loh," godanya sambil menoyor hidung Flora.

"Heh! Nggak ada sopan-sopannya sama yang lebih tua!" Flora menjauhkan wajahnya.
"Lagipula aku nggak tua. Aku cuma—lebih tua dari kamu!"

"Aish. Marah-marah terus. Mending kita jalan-jalan aja."

"Nggak mau. Panas."

"Pakai mobil?"

"Kamu kan nggak bisa nyetir."

"Iya juga..." Freya berpikir sejenak. "Kalau naik motor?"

"Panas, Freyaa!"

Freya menghela napas. "Ke mall. Aku belanjain sepuasnya—"

"Oke, deal!" Flora langsung bangkit dari kasur. "Tunggu aku ganti baju!"

"Dasar matre," gumam Freya pelan.

"Hah? Apa?" Flora menyembulkan kepala dari balik lemari.

"Nggak apa-apa. Buruan."

---

Jalanan pagi itu terasa aneh.

Terlalu lengang.

Hampir tak ada kendaraan melintas. Beberapa mobil yang mereka temui justru dipenuhi barang, seolah hendak pergi jauh. Banyak toko di pinggir jalan tutup rapat.

"Emm, Fre... hari ini hari raya Nyepi, ya?" tanya Flora akhirnya.

"Ngaco," jawab Freya. "Nyepi udah lewat. Lagian Jakarta minoritas."

"Iya sih... tapi kok aneh."

Freya tak menjawab. Ingatannya melayang pada video aneh yang sempat ia lihat beberapa hari lalu—juga peringatan di televisi tadi malam.

"Gak mungkin, kan..." gumamnya pelan.

"Frey, lihat itu," ujar Flora tiba-tiba.

Freya menoleh. Sebuah gedung terbakar terlihat tak jauh dari sana, api masih menjilat-jilat lantainya.

"Ada yang nggak beres, Flo," ucap Freya serius. "Kebakaran segede ini, tapi nggak ada sirene. Nggak ada warga juga."

Ia menepikan motor di sisi flyover, lalu turun dan mendekati pembatas jalan. Pandangannya menyapu ke bawah.

Tubuhnya menegang.

Beberapa orang tergeletak di jalan. Yang lain berjalan sempoyongan, tak tentu arah—seolah tak peduli pada api yang membakar gedung di dekat mereka.

Ini tidak masuk akal.

"Frey?" Flora menepuk bahunya.

"Mereka aneh, Flo," ucap Freya pelan. "Bukan kayak orang normal."

Flora ikut menatap ke bawah. Wajahnya memucat.
"Mereka... kayak bingung?"

"Iya, tapi—"

Tiiiiit! Tiiiiit!

Suara klakson panjang memotong kalimatnya. Sebuah sedan melaju kencang dari arah berlawanan.

"Kalian berdua!" teriak pengemudinya. "Cepat pergi dari sini!"

"Hah? Tunggu, ada apa ini?" tanya Freya panik.

"Nggak ada waktu buat jelasin!" serunya sambil menunjuk ke belakang. "Lihat itu!"

Freya menoleh.

Gerombolan manusia berlari ke arah mereka.

"Sial! Apa itu?!" Freya berteriak.

"Naik! Ikuti mobil ini!" ujar pengemudi itu sebelum tancap gas.

"Tunggu—Flora, cepat naik!" Freya langsung menghidupkan motor dan membuntuti sedan itu.

Mobil tersebut berbelok tajam beberapa kali.

"Sial, dia baru belajar nyetir apa?" gumam Freya.

Puk.

"Aduh!" Freya meringis.

"Hari ini kamu udah lima kali ngomong kasar!" tegur Flora.

"Itu refleks, Flo!"

"Refleks apaan. Awas aja kalau mulut kamu masih nggak dijaga—"

Tangan Flora tiba-tiba maju, menarik pipi Freya.

"Mmph!"

"Fokus nyetir!" ketusnya. "Aku nggak mau luka gara-gara kamu."

"Lah, kok jadi aku?" protes Freya.

"Yang bawa motor siapa?"

"Ya aku, tapi—udah deh. Iya, salah aku."

Flora terkekeh pelan, lalu memeluk Freya dari belakang.

"Hehe. Bercanda, bestiee."

Freya tersenyum, meski gadis dibelakangnya sering memarahinya. Tapi ia tahu gadis itu tidak benar-benar marah padanya.

---

Sedan itu akhirnya berhenti di sebuah pom bensin. Beberapa mobil terparkir dengan pintu terbuka, seolah ditinggalkan begitu saja.

Bruk.

Dua gadis turun dari sedan.

Salah satunya mendekat ke Freya dan Flora.

"Halo. Gue Ashel," ujarnya tenang. "Dan itu Adel."

"Halo," jawab Freya. "Gue Freya, dan ini Flora."

---

RUN AND HIDECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang