(Dilarang Plagiat)
🥇Juara 1 MWC - Navi Publisher
Sebagai tunangan yang akan segera melangsungkan pernikahan, Abimanyu dan Juni mulai mencari rumah di kota impian mereka. Daerah Cimahi memiliki banyak rumah tua klasik yang masih layak dihuni. Akhir...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Secara sederhana, pernikahan ini sudah membahagiakan. Pernikahanku membuatku meneteskan air mata ketika dukun pengantin memasang paes di dahiku. Perasaanku campur aduk, mengingat ibuku.
Setiap perias yang melakukan riasan di wajahku selalu mengatakan bentuk wajahku yang paling ideal untuk dirias menggunakan paes dan properti pengantin. Melihat wajahku yang indah, aku berharap ibu ada di sini. Melihat riasan wajahku.
"Ibu, ini aku. Anakmu mau menikah."
Momen terpenting dalam hidupku, ia tidak bisa menyaksikannya. Ibu selalu menasehatiku. Ibu selalu mengingatkan aku jangan pernah membantah suami. Maafkan aku, ibu. Aku harus bisa menolak keinginan Mas Prabu jika Mas Prabu keterlaluan. Berbeda dengan ibu yang tak pernah membantah Ayah Wiratama dan menuruti seluruh kata Ayah. Tapi, Ayah bersikap sebaliknya kepada ibu.
Mas Prabu, lelaki yang sopan dan santun. Namun, jauhnya perbedaan usia membuatku berpikir kalau dia mampu untuk mengatur diriku suatu saat nanti.
Aku bertekad untuk mencintai Mas Prabu.
Tapi, apakah aku salah? Jika ada cinta lain yang mengganggu, aku berusaha untuk terus menerima kasih sayang Mas Prabu.
Usiaku yang masih muda, tentu masih diincar oleh banyak lelaki di keraton. Aku yakin Mas Prabu akan selalu berada di dekatku untuk menjagaku. Karena belakangan ini, sebelum kami melangsungkan pernikahan, ia selalu berada di belakangku. Meski aku dan teman-temanku hanya berbincang kecil dan tidak diganggu lelaki nakal, Mas Prabu tetap menjagaku.
Aku masih ingat cinta terjadi karena terbiasa. Selama aku membiasakan diri mencintai Mas Prabu, aku masih belum berpengalaman soal cinta. Aku masih tidak mengerti bagaimana rasanya jatuh cinta.
Setiap ada lelaki yang menyatakan perasaannya, aku berusaha menahannya. Aku selalu mengingat Mas Prabu dan melawan semua perasaan yang ada.
Ada satu lelaki yang selalu mendekatiku.
Bagas. Begitulah nama yang aku ingat ketika lelaki itu memperkenalkan dirinya sendiri. Namun, perkataannya yang menggantung membuatku penasaran. Bagas berhenti berbicara ketika melihat Mas Prabu mendekatiku.
Pernikahanku ini bisa menjadi hambatan Bagas untuk menyatakan cintanya. Aku yakin dia mencintaiku. Mendengarnya seumuran denganku, aku menjadi yakin lebih baik memiliki pasangan seumuran dibandingkan harus terpaut jarak yang cukup jauh.
Aku tahu aku sudah berjanji untuk mencintai Mas Prabu, tapi hatiku masih ragu. Aku tidak yakin apakah aku bisa mencintai dengan tulus orang yang jauh lebih tua dariku.
Ada satu lelaki yang selalu mendekatiku.
Bagas. Begitulah nama yang aku ingat ketika lelaki itu memperkenalkan dirinya sendiri. Namun, perkataannya yang menggantung membuatku penasaran. Bagas berhenti berbicara ketika melihat Mas Prabu mendekatiku.