BAB 25 : Bukan terlambat Tapi Waktu yang Tepat

31 3 0
                                        

"Kalian tidak boleh melanjutkannya!" teriak Mbok Rahma, wajahnya penuh amarah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kalian tidak boleh melanjutkannya!" teriak Mbok Rahma, wajahnya penuh amarah.

Abimanyu dan Juni merasakan ketegangan semakin memuncak, namun mereka tidak menghentikan tarian dan musik mereka. Dengan semangat yang semakin kuat, mereka terus berkonsentrasi, memfokuskan diri pada tujuan mereka.

Tiba-tiba, sebuah cahaya terang muncul dari arah pemukul gamelan yang dipegang Abimanyu. Sosok Nirmala berdiri tidak jauh dari keduanya.

Mbok Rahma mendorong Nirmala hingga terjatuh. Juni membantu Nirmala berdiri dan mencoba melawan Mbok Rahma yang semakin kuat.

"Menjauhlah!" seru Juni.

Mas Hasan mencoba mengambil paksa pemukul itu. Abimanyu segera mengelak dan menghajar wajah Mas Hasan dengan pemukul tadi. Pemukul itu terlempar jauh dan berada di dekat kaki Mbok Rahma.

"Kalian yang harusnya menjauh dari sini!" teriak Mbok Rahma, lalu mengayunkan pemukul itu ke arah Juni.

Juni membalikkan badannya untuk melindungi Nirmala yang masih tersungkur. Nirmala melihat ekspresi kesakitan Juni ketika punggungnya terkena hantaman pemukul itu.

"Rahma! Hentikan!" bentak Nirmala, lalu menarik Juni agar duduk. Juni mengelus punggungnya yang terluka parah. Amarah Nirmala tidak bisa dibendung lagi, emosinya yang selama ini terpendam kini meluap.

"Berhenti semua! Apa yang kalian lakukan! Nirmala, hentikan!" teriak Nenek Nariswari menutup matanya. Mulutnya komat-kamit seperti membaca mantra. Mas Hasan segera mendekati Mbok Rahma, keduanya mulai bergerak tidak nyaman, tubuh mereka kepanasan.

"Abimanyu, bisakah kamu memainkan gamelan?" tanya Nirmala, sambil melemparkan pemukul itu. Abimanyu mengangguk mantap. Nirmala mengambil selendang dan mulai menari mengikuti alunan gamelan. Bersamaan dengan mantra Nenek Nariswari, kekuatan gaib yang mengganggu perlahan menghilang.

Juni kagum dengan konsentrasi Nirmala saat menari, meski Mbok Rahma dan Mas Hasan berteriak kesakitan. Ketika Nenek Nariswari selesai berdoa, sosok dua asisten itu perlahan menghilang. Nirmala berhenti menari dan menatap Abimanyu dan Juni bergantian. Dia melepaskan selendang dan memberikannya kembali pada Juni.

"Abimanyu, kamu pemain gamelan yang begitu handal seperti Mas Bagas. Kamu bisa seperti ini karena ada Mas Prabu di belakangmu."

Ucapan Nirmala membuat Abimanyu menoleh ke belakang. Benar! Di sana ada sosok Bagas yang menemaninya tanpa sadar.

"Terima kasih, Mas," ucap Abimanyu.

Nirmala memberikan uluran tangannya. Bagas berjalan menembus Abimanyu dan menggenggam tangan kekasihnya. Keduanya perlahan menghilang dengan tenang. Pemukul itu kini melengkapi seperangkat gamelan di pendopo.

Juni merebahkan diri, tersenyum karena bulan dan bintang mulai terlihat di langit. Abimanyu mendekati Juni dan menyuruhnya bangun.

"Kita harus mengecek Nenek Nariswari. Dia masih di depan pendopo," kata Abimanyu sambil membantu Juni berdiri.

Gamelan Ayu [Segera Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang