BAB 20 : Ancaman atau Harapan?

25 3 0
                                        

"Kalian harus percaya juga bahwa dunia gaib itu ada, mereka hidup bersama kita

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kalian harus percaya juga bahwa dunia gaib itu ada, mereka hidup bersama kita. Kita tidak bisa melihat mereka secara kasat mata, dan mereka memiliki batasannya masing-masing," ucap Pak Wirja, setelah mendengar penjelasan Abimanyu.

Pasangan tunangan itu mengunjungi kembali Toko Djati Wardede. Pak Wirja terlihat tidak terkejut sama sekali, seolah sudah terbiasa menghadapi kasus yang serupa. Hanya saja, jika memiliki kasus yang serupa, berarti banyak barang yang memang murni tidak boleh dijual.

"Di sini banyak kejadian seperti kalian alami. Barang-barang seperti wayang kulit, topeng kayu, dan lainnya memiliki nuansa tersendiri. Termasuk gamelan kalian. Itu milik kepemilikan jauh sebelum kalian ada."

Juni terdiam, ia tidak mampu berkata apa-apa, tapi di pikirannya selalu terlintas pertanyaan yang sama. Mengenai bayang-bayang anak kecil yang pernah dilihatnya.

"Tadi Bapak mengatakan ... kita hidup berdampingan dengan dunia sebelah. Apa itu termasuk–"

"Arwah gentayangan?" potong Pak Wirja seakan tahu apa yang ingin disampaikan Juni.

Juni menganggukkan kepalanya. Yang dikatakan Pak Wirja benar.

"Gamelan itu bukanlah gamelan sembarangan. Ditulis dan diukir khusus untuk seseorang."

Pak Wirja mencari ke laci mejanya. Mengambil sebuah buku dengan sampul kulit usang. Di sampul itu tertera sebuah nama "Prabu".

"Prabu? Itu buku apa, Pak?" tanya Abimanyu.

"Ini buku yang berisikan tulisan Prabu Wijaya Suryaningrat mengenai gamelan dan istrinya. Kalian tahu nama gamelannya? Di sana terukir nama 'Ayu Banowati'. Nama itu adalah istri Prabu."

"Arti Ayu Banowati itu sendiri suara yang merdu. Itu menggambarkan alunan gamelan yang merdu mengiringi tarian Ayu Banowati saat menari. Satu-satunya alunan terindah ... alunan milik Prabu."

Abimanyu menatap Juni berusaha menyatukan pemikiran mereka.

"Apa alunan Prabu, alunan yang sering kami dengar?"

Siapa sangka? Pak Wirja justru mengangguk.

"Gamelan itu terus memberikan petunjuk kepada kalian. Seolah ada yang minta tolong."

Juni mengelus pergelangan tangannya. Ia tersadar kemudian, melirik ke arah gelang jimat.

"Satu hal lagi, Pak Wirja. Tahu gelang ini?"

Juni mengeluarkan gelang itu dari pergelangan tangannya. Raut wajah Pak Wirja terlihat tidak mengenakkan. Abimanyu merasa ada yang aneh dari gelang tersebut, karena dirinya juga mengenakannya.

"Kalian dapat dari mana?" tanya Pak Wirja dengan nada serius.

"Seorang nenek tua yang tidak kami kenal. Dia memberikannya pada kami setelah saya selesai latihan menari. Gelang ini tidak mau dibayar pula," jelas Juni.

Gamelan Ayu [Segera Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang