Hari ini, pesantren tampak jauh lebih sibuk dari biasanya. Sejak pukul enam pagi, Akira dan Adnan sudah tiba lebih awal, bersiap untuk sebuah acara besar yang melibatkan banyak pihak. Tak hanya mereka berdua, Bunda, Ayah, dan Kakak Akira pun turut serta membantu, ikut merapikan meja, membawa sound system, hingga menyiapkan konsumsi untuk para tamu.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Adnan memperhatikan istrinya yang mondar-mandir ke sana kemari. Sesekali Akira terlihat menyeka keringat di dahinya, lalu berlari kecil menuju sisi lain halaman untuk mengurus perlengkapan yang belum tertata.
Adnan tak tahan hanya melihat. Ia berjalan pelan mendekati Akira dan membisik lembut di telinganya, "sayang, kalau capek istirahat dulu ya..."
Akira menoleh sambil tersenyum lelah.
"Iya, suamiku," jawabnya lembut.
Adnan lalu memeluk Akira sekilas dan mengecup keningnya dengan sayang. Gerakan itu cepat, tapi cukup untuk membuat pipi Akira bersemu merah.
"Mas Adnan, malu ih... banyak orang," bisik Akira panik, melirik sekeliling.
Namun bukannya berhenti, Adnan malah menggoda, "ih pipinya merah, lucuuu."
Akira sontak menutup wajahnya dengan kedua tangan, menunduk, dan buru-buru melangkah menjauh. Kali ini, bukan karena lelah—melainkan malu luar biasa.
"Astaghfirullah ya Allah..." gumamnya sambil mencubit pelan lengan suaminya sebelum berlari kecil ke arah Bunda.
Adnan hanya tertawa kecil, senang bisa melihat Akira tersipu di tengah kesibukan yang padat hari ini.
Lalu, Akira segera menghampiri uminya yang sedang sibuk di bagian dapur belakang, tepat di dekat deretan wadah-wadah besar yang telah disiapkan untuk punjungan. Harum masakan khas Jawa menguar di udara, perpaduan antara ayam ungkep, sambal goreng kentang, dan tumis buncis yang baru saja ditata dalam kotak-kotak besek.
“Nak, yang punya saudara tolong dipisah ya, sayang,” ujar Umi dengan nada lembut tapi tegas, tangannya masih sibuk menata lauk dalam wadah.
“Iya, Umi,” jawab Akira sambil tersenyum, lalu mengambil buku daftar nama yang sudah ditulis sejak seminggu lalu.
Dengan hati-hati, ia mulai memilah-milah mana yang termasuk keluarga besar Adnan, mana yang tetangga dekat, dan mana yang teman undangan biasa.
Ia duduk bersila di atas tikar, jari-jarinya cepat menyusuri daftar. Sesekali ia memberi tanda pada nama-nama yang dikenalnya, lalu menempelkan label pada kotak punjungan yang akan dibagikan khusus ke keluarga Adnan.
Meski terlihat lelah, ada semacam kebahagiaan sederhana yang terpancar dari wajah Akira. Ini bukan sekadar membagikan makanan—tapi bagian dari tradisi, dari kasih sayang yang dibungkus dalam budaya. Punjungan bukan undangan kertas, bukan pula formalitas belaka, tapi simbol kehangatan dan penghormatan kepada sanak famili dan tetangga.
“Masya Allah... banyak juga ya ternyata,” gumam Akira sambil tersenyum sendiri.
Umi menoleh dan tersenyum lembut, “Namanya juga keluarga besar, Nak. Kalau kita hormati tradisi, insyaAllah keberkahannya ikut mengalir.”
Akira mengangguk pelan, merasa tenang dan damai. Di tengah kesibukan ini, ia belajar bahwa cinta tak hanya soal Adnan, tapi juga soal merawat hubungan—dengan keluarga, dengan orang tua, dan dengan akar budayanya.
Di sisi lain halaman pesantren, Adnan sedang fokus memeriksa dekorasi yang belum sepenuhnya rampung. Kemejanya sudah sedikit basah di bagian punggung, namun ia tetap sigap, menunjuk satu titik di tengah lapangan utama.
“Di sini kasih red carpet ya, nanti kan bakal ada sesi temu manten, biar jalannya kelihatan elegan,” ucap Adnan tegas kepada tim wedding organizer yang sibuk membentangkan kain dan mengatur pernik kayu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My sweet heart [revisi]
RandomAkira, seorang gadis pemberani dari geng motor, hidup dalam kebebasan dan gemerlap jalanan. Di balik sikap kerasnya, ia adalah anak bungsu yang sangat disayangi orangtuanya-meski kasih sayang itu justru membuatnya semakin larut dalam pergaulan yang...
![My sweet heart [revisi]](https://img.wattpad.com/cover/362349995-64-k507611.jpg)