HAPPY READING!
Jangan lupa vote dan komen!❤️🔥
Okey, selamat bertemu dengan Fourich!🚩
========
BITTERSWEET RUINS
[ Bagian 5 | The Damn Bike ]
Luina menengadah, meletakkan kepalanya di sandaran kasur dengan tatapan menerawang. Matanya memerah menahan cairan bening yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.
Dia bukan perempuan kuat yang tahan banting akan segala terpaan cobaan seperti yang diketahui banyak orang. Dia hanyalah perempuan biasa yang sebelumnya kerap dimanja akan kemewahan.
Menjadi orang yang selalu dibenci dari dulu, sebenarnya membuatnya tumbuh sebagai perempuan yang lemah. Namun Inara—mendiang ibunya— selalu berpesan, bahwa hidup tidak akan pernah berpihak pada mereka yang memilih untuk menyerah.
"Dunia ini keras, Luina. Perempuan yang rapuh hanya akan jadi mangsa. Kalau kamu nggak belajar melawan, kamu akan terus diinjak."
Dan kini, untuk pertama kalinya dalam hidup, Luina benar-benar paham arti kata-kata itu. Bahwa menjadi korban bukanlah pilihan, dan menjadi lemah bukanlah alasan.
Namun, munafik jika dia tidak marah akan roda kehidupannya yang berputar 180 derajat.
Munafik jika Luina bisa menjalani hidup miskin ini dengan lapang dada dan tanpa mengeluh.
Munafik jika dia tidak kecewa pada ayahnya yang selama ini berbohong akan kebersihan pekerjaannya.
Munafik.
Pada kenyataannya, Luina hanyalah seorang manusia yang menjalani semua cobaan ini dengan terpaksa.
Kehidupan seperti ini bukanlah keinginannya. Membayangkannya pun tak pernah.
Akan tetapi mau bagaimanapun dia berteriak untuk menolak, seluruh kehidupannya yang indah dulu, tidak akan pernah bisa ia ambil kembali.
Luina sudah benar-benar di bawah sekarang. Sangat bawah, hingga orang-orang bisa menginjaknya dengan mudah.
Lucu sekali.
Kenapa jadi dia yang harus membayar lunas semua kesalahan sang ayah? Luina bahkan tidak tau menahu semua uang yang ia miliki dulu adalah hasil dari curian.
Dia juga tidak pernah mencuri barang milik siapapun. Tapi kenapa dia juga ikut dihukum?
Enggan terus memikirkan kehidupan barunya ini berlarut-larut— Luina lantas memilih untuk mengambil ponselnya di sebelah, sembari menegakkan badan. Ibu jarinya bergerak di layar untuk melihat sisa uang di rekeningnya.
11.621.765 rupiah.
"Kok pas banget?" Luina mencebik. "Mana gue belum bayar spp bulan ini lagi."
"Kalau uang ini gue kasih ke Zirga besok, nanti kalau tagihan spp-nya dateng, gue gimana?"
Tok Tok!
"Luina?"
Buru-buru, perempuan berkaos oblong warna kuning itu mematikan ponsel. Dia sudah berjanji untuk tidak merepotkan Bi Ayu, jadi menurutnya masalah ini tidak perlu ia bagi dengan wanita itu.
"Kenapa, Bi?"
"Ayo makan dulu, udah waktunya makan malam. Kamu kan biasanya makannya jam segini."
Luina mengangguk seraya menutup pintu. Dia lalu mengikuti langkah Bi Ayu menuju meja makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
BITTERSWEET RUINS [ HIATUS ]
Roman pour Adolescents"You look so scared, baby. What's going on?" "Relax, L. We're not here to bite you." "Come on, Lui. You know there's nowhere to run, right?" "Lo takut, sayang?" *** Hidup Luina hancur dalam semalam. Ayah tirinya ditangkap karena menggelapkan triliun...
![BITTERSWEET RUINS [ HIATUS ]](https://img.wattpad.com/cover/370508211-64-k271214.jpg)