FMIY ; Bakat.

14 1 0
                                        

Pukul 12:00, di siang hari.

Dengan sebuah headphone yang bertengger di kedua telinganya, Irlin fokus mengoleskan cat dengan kuas di kanvas yang mulai terbentuk gambar oleh campuran beberapa warna itu.

Irlin melepaskan headphone nya sejenak, merapikan rambutnya yang mulai mengganggu pandangannya.

Tentu, keberadaan Riki tidak terlewatkan. "Tumben ngga kerja, Lin? Kan ngga libur?"

"Sakit."

Riki memiringkan kepalanya, "sakit? Lu sakit?"

"Iya, gua izin ngga masuk sehari."

Riki terkekeh heran, "lu lagi sakit malah ngelukis gitu, aneh. Istirahat, gih."

Pandangan Riki teralihkan saat dirinya menatap kanvas di depan Irlin. Matanya terpana oleh lukisan yang perempuan itu buat, sangat realistis.

"Gua ngga tau lu bisa ngelukis sebagus ini?"

"Lu ngintilin gua selama enam tahun, ngga tau kalau gua bisa ngelukis?"

"Lu ngga pernah ngelukis di depan gua, gila." Protes Riki.

Setahu laki-laki itu, Irlin memang mempunyai beberapa bakat. Dirinya memang serba bisa. Memasak, menulis cerita, menggambar, bermain biola dan gitar, menari, menyanyi, di bidang akademik, bahkan di bidang olahraga pun Irlin juga mahir. Dan sekarang, Riki baru saja tahu jika Irlin juga bisa melukis? Sebenarnya apa yang Irlin tidak bisa lakukan?

"Lu serba bisa ya, Lin."

"Iya, tapi serba males gerak." Sahut Irlin.

"Ngga salah juga, sih. Gue tau ini ngga ada hubungannya sama topiknya, tapi gua jadi kangen main piano."

Irlin menghentikan gerakan tangannya dari mengoreskan kuas di kanvas. Dia menolehkan kepalanya.

"Lo... Bisa main piano?"

Riki mengangguk, "waktu gua masih hidup, gua hobi banget main piano di rumah. Ngga ada yang tau kalau gua jago main piano, kecuali keluarga gua. Sama lu barusan, sih."

Irlin kini tak hanya menolehkan kepalanya, namun juga memutar tubuhnya untuk sepenuhnya menghadap Riki. "Terus, kenapa ngga ngasih tau orang luar?"

"Orang luar ngga ada yang tau soal gua yang asli,"

"mereka taunya cuma soal gua anak yang jago olahraga, ngga peduli sama seni. Padahal asal mereka tau, gua juga minat banget sama sains, seni, dan semacamnya." Sambungnya.

"Lu bisa cerita ke mereka, Rik. Bakat lu ngga seharusnya disembunyiin gitu."

Riki menggelengkan kepalanya, "mereka ngga peduli soal itu."

"Maksudnya?"

"Mereka cuma peduli soal status keluarga gua yang terpandang."

Irlin tidak lagi mengatakan apapun, dia hanya menatap Riki dengan diam. Riki tahu bahwa Irlin paham maksud dari perkataannya.

"Udah, biarin aja. Udah berlalu juga, sekarang kan gua udah punya temen yang tau aslinya gua gimana."

"Siapa?"

"Elu, lah."

Bukannya protes seperti biasa, kali ini Irlin memutuskan untuk tidak terlalu mempermasalahkan perkataan hantu yang ada di depannya ini. Ia tidak masalah, namun tidak mengiyakan juga.

Merasa Irlin tidak menanggapi apapun, Riki mencoba untuk mengganti topik pembahasan mereka kali ini. "Ajarin gua ngelukis, dong."

"Ajarin gua main piano juga." Balas Irlin.

Riki mengangkat kedua alisnya, "loh? Lu pengen bisa main piano?"

Irlin mengangguk.

"Yaudah, nanti kalau ada piano, gua ajarin. Tapi ajarin gua ngelukis dulu."

"Iya, iya. Sini."

Riki mendekatkan tubuhnya dan Irlin mulai menjelaskan secara perlahan bagaimana cara melukis kepadanya dengan mengoleskan cat langsung ke kanvas.

Tanpa Irlin ketahui, Riki tidak memperhatikan penjelasan Irlin, namun hanya terus memandang wajah Irlin dengan berpura-pura menyimak apa yang Irlin katakan.

.

"Tumben tiduran terus." Ucap Riki saat melihat Irlin hanya merebahkan tubuhnya di atas sofa sepanjang hari.

"Gua sakit kalau lu lupa."

Riki baru tersadar, dirinya berjongkok untuk menyamakan tinggi kepalanya dengan kepala Irlin. "Oh, iya. Udah minum obat?" Irlin mengangguk.

"Yaudah, lanjut tidur, gih."

Kembali menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah, Irlin pun memejamkan matanya.

Riki tersenyum, jarang-jarang Irlin mau mendengar perkataannya. Dia tahu betul jika saat ini Irlin jatuh sakit karena kelelahan. Irlin terlalu ambisius, hingga melupakan kebaikan tubuhnya sendiri. Riki ingin menahannya untuk tidak terlalu memforsir diri sendiri, tapi Riki tidak bisa melakukan apapun. Irlin pasti tidak akan mendengarkan nasihatnya. Yang hanya bisa dilakukan Riki adalah menemani Irlin menjalani hari-harinya, tidak lebih. Karena dia hanya sekedar arwah bergentayangan, 'kan?

Riki menolehkan kepalanya, melihat ke sekitar. Matanya kembali terkunci di pigura foto yang ada di dinding, seperti waktu itu. Di foto itu, Irlin juga masih berumur tujuh belas tahun.

Riki mendekati pigura foto itu, menatapnya dengan seksama. Lalu, dia kembali melihat Irlin yang sudah tertidur di sofa.

Riki tersenyum kecut, Irlin cepat sekali dewasa. Sedikit terasa tidak adil, Irlin terus bertambah umur, sedangkan dirinya abadi di umur delapan belas tahun. Ia ingin bertumbuh bersama Irlin. Namun, apa boleh buat, dia tidak bisa mengeluh apapun.

"Gue bangga lu bisa tumbuh sekuat ini, Lin."

Riki melembutkan pandangannya, "tetap hidup, ya?"

To Be Continued...

For Me, It's YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang