⚠️ TW // BULLYING ⚠️
⏳
Pukul 10:00, di pagi hari.
Irlin sudah berkutat di cermin panjangnya sekitar tiga jam lamanya. Ia bingung harus menggunakan gaun yang mana.
"Lu mau kemana, sih? Lama-lama itu pecah kacanya." Ujar Riki dari balik pintu.
"Acara ulang tahun temen."
Wanita itu terus mengacak-acak lemarinya. For your information, acara ulang tahun teman Irlin akan baru dimulai pukul tiga sore. Maka dari itu, Riki terus menatapnya dengan heran.
"Lin, sepi amat. Dengerin lagu, gitu."
"Lagu apa?"
"Bring Me To Life nya Evanescence."
"Gua baru kali ini tau ada hantu agak metal dikit."
Riki menggerakkan tubuhnya gelisah di atas tempat tidur Irlin, Ia bosan. Terselip sebuah bayangan di benaknya jika seandainya dia masih menjadi manusia, dan Irlin adalah kekasihnya. Pasti dirinya akan menunggu Irlin memilih gaun sembari duduk dengan baju formalnya. Riki tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya, berusaha menepis mimpinya yang tidak mungkin terkabul.
"Buru, ah. Gua bosen ngeliatin elu kaya ulet sagu gitu." Protes Riki.
"Yang nyuruh ngeliatin gua terus juga siapa?"
Riki mulai merengek, "ayo, dong, Lin. Bosen, nih."
Tanpa menanggapi Riki, Irlin mengambil ponselnya dan membuka aplikasi pemutar lagu. Sesuai permintaan Riki, Ia memutar lagu Bring Me To Life, lalu melanjutkan kegiatannya yang tidak kunjung selesai itu.
Irlin tidak berkata apapun tentang lagu yang masih tergolong berisik itu. Karena dirinya juga memang penikmat musik metal.
"Nah!" Riki menoleh saat mendengar Irlin tiba-tiba saja memekik girang.
"Buset, apaan?!" Tanya Riki.
Irlin tak menjawab dan segera memasuki kamar mandi. Irlin memang mempunyai kamar mandi di dalam kamarnya. Riki hanya terduduk di kasur Irlin dengan kebingungan.
Entah apa yang dilakukan Irlin di dalam, sepertinya Irlin sedang senang.
Beberapa menit kemudian, Irlin melangkahkan kakinya keluar setelah membuka pintu kamar mandinya yang berwarna hijau muda itu.
Riki melebarkan kedua matanya, mulutnya ternganga. Irlin berjalan pelan menuju cermin panjang miliknya. Terlihat dirinya memakai gaun panjang berwarna putih dengan motif floral, dengan dua pita kecil di samping rambut pendeknya.
Tidak biasanya Irlin memakai baju yang seperti itu, Irlin selalu memakai baju yang terkesan santai.
Irlin memutarkan tubuhnya untuk melihat setiap sudut dirinya yang memakai gaun itu. Kekehan tidak luput dari ranumnya.
"Cantik."
Tubuh Irlin mematung, itu adalah suara Riki.
Irlin menolehkan kepalanya dan menatap Riki dengan pandangan yang susah dijelaskan. Namun, yang bisa dijelaskan adalah rona merah di pipinya.
Riki memang sudah berulang kali mengatakan bahwa ia menyukai Irlin, tapi tidak dengan memujinya cantik.
Melihat Irlin yang terkejut, Riki hanya tersenyum lembut. "Iya, cantik."
Irlin kembali menolehkan kepalanya ke keadaan semula, mencoba menyembunyikan wajahnya yang terus memerah.
"Udah, ah." Irlin berjalan keluar dari kamarnya, meninggalkan Riki yang terkekeh jahil.
