06. Semua Rendang Dirayakan

1K 101 16
                                        

06
Semua Rendang Dirayakan

Play
Kenangan Manis - Pamungkas

───

HARI ini AA Club super hening, tersisa Jefri, Evan, dan Una yang akan segera mengantar kepergian Mika di depan gerbang kosan, si pemuda Semarang itu.

Mengingat besok Idul Adha, hampir semua penghuni kosan pulang ke rumah mereka masing-masing, bahkan Jojo yang tidak ikut merayakan saja pulang ke rumahnya di Magelang karena libur cukup panjang.

Kecuali beberapa orang yang sudah disebutkan sebelumnya. Jefri memang tidak merayakan Idul Adha, tapi karena alasan rumahnya yang jauh di belahan Jawa lain maka dia memutuskan untuk menggunakan waktu liburannya dengan tetap tinggal di Jogja saja.

Una sendiri dengan alasan yang sama seperti Jefri, dia tidak pulang ke Malang untuk merayakan Idul Adha tahun ini, sebagai gantinya, ibunya akan datang ke Jogja segera.

Untuk Evan, dia memang tidak ingin pulang. Meskipun dihadapkan dengan fakta bahwa rumahnya masih di Jogja-Jogja saja, dia lebih suka dimana pun kecuali rumahnya sendiri.

Ira sudah pergi dari weekend sebelumnya bersama sang bunda, Ochi dan Jojo kompak pulang kemarin ke rumah masing-masing, sekarang tersisa Mika yang akan pulang ke Semarang naik motor.

"Tiati," ucap Una begitu Mika memakai helm full face kesayangan.

Mika hanya mengangguk sebelum akhirnya menyalakan mesin motor dilihat oleh ketiga temannya yang tersisa di kosan itu.

"Salam buat Gema," kali ini Jefri yang bersuara mengingatkan Mika pada keponakannya itu.

Mika terkekeh, "Iya, duluan ya."

Mereka bertiga melambaikan tangan untuk mengantar kepergian Mika yang kini sudah menghilang di ujung persimpangan jalan.

Evan menjadi orang pertama yang hendak masuk kosan jika saja dia tidak dikejutkan dengan kehadiran sang pemilik bangunan itu, Pak Agung.

"ANJ—astaghfirullah, Pak, kaget saya," Evan menepuk-nepuk dadanya sambil terkekeh, hampir saja dia menyebut kata-kata tidak senonoh di hadapan sang pemilik kosan.

Dua orang lainnya dibuat ikut menghadap Pak Agung juga sekarang. Pria paruh baya yang hanya mengenakan kaos salah satu partai itu terlihat lengkap dengan peralatan berkebunnya.

Pak Agung mengerutkan dahinya, "Ndak pulang, Mas? Omahmu cedhak tho?"

Pak Agung bertanya sambil berjalan mendekat, menunjuk Evan.

Evan hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya, "Saya mau lebaran di sini aja, Pak."

Pak Agung mengangguk paham, "Yang lain juga ndak pada pulang?"

"Enggak, Pak, kejauhan," balas Una.

"Saya juga," tambah Jefri.

Lagi-lagi Pak Agung hanya mengangguk sambil bersiap untuk mengurus tanaman-tanaman kesayangan di depan rumahnya.

"Mas Seno enggak pulang, Pak?" pertanyaan Jefri itu membuat Pak Agung diam sejenak sebelum akhirnya menggeleng.

"Enggak, kurban di sana soalnya," kali ini jawaban Pak Agung yang membuat ketiga penghuni kos itu mengangguk.

Seno──anak sematawayang Pak Agung yang sekarang sudah menetap di Jakarta bersama keluarga kecilnya. Bagi Jefri, selama hampir tiga tahun menempati kosan ini, kehadiran Seno di Jogja memang bisa dihitung jari, biasanya hanya saat lebaran atau libur panjang saja.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 27 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Gudeg 97Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang