Unknown, Stalker 666, Obsessed, Romansa.
Tak ada yang spesial dari cerita ini, hanya menceritakan kehidupan sehari-hari seorang gadis dengan kisah cinta bernuansa abu-abunya selama masa sekolah.
***
Plagiarizing this story is strictly prohibited! B...
"Setiap orang punya urusan masing-masing, urus saja bagian sendiri, sisanya tutup mulut."
-Tere Liye, Negeri Para Bedebah
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Rasa amarah tengah menyelimuti diri Alvin, setelah mengetahui kekasihnya pergi bersama orang lain tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
Langit Sanjaya- seorang mahasiswa sekaligus pekerja paruh waktu disebuah cafe, tempat dimana Alya juga bekerja. Anggap saja Langit telah lancang dikarenakan mengajak gadisnya tanpa izin terlebih dahulu kepada ia.
Tepat didepan restoran makanan khas jepang sepasang remaja tengah beradu argument mengenai permasalahan mereka sekarang dan terlihat juga seorang perempuan dengan dress berwarna cream tengah menundukkan kepalanya.
"Kok diem? Ngomong, Li. Gue butuh penjelasan sama lo, soal lo pergi tanpa izin ke gue." ucapnya dengan nada terdengar sedikit emosi.
Alya menatap mata pacarnya dengan tatapan sendu dan berkaca-kaca. "Dia cuman teman gue, bukan siapa-siapa kok."
"Lo yakin kalian teman? Santai aja, Li gausah gugup gitu."
Pandangan Alya tertuju ke arah Zia- Saudara tiri dari pacarnya tersebut yang berdiri tak jauh dari mereka berdua. "Tu cewe sendiri siapa? Jelasin juga ke gue!"
"Kaga usah ngalihin topik dulu, jelasin ke gue dulu baru gue jelasin juga."
"Jelasin dulu masalah lo, baru lo nanya ke hal lain, bisa ga?"
"Nggak! Lo duluan yang harus jelasin ke gue, biar pikiran gue tenang."
Helaan nafas kasar terdengar begitu jelas, mata elang tersebut terpejam sebentar. Sungguh ia sekarang sangat lelah berdebat. "Zia, saudara tiri gue, yang pernah gue ceritain ke lo."
"A-ah jadi itu anak tiri Mamah?" ucapnya dengan ekspresi kaget kemudian mengalihkan pandangan kepada Zia dan tersenyum. "Kesel banget gue sama lo, kenapa gak bilang coba, tau gitu gue caper dulu tadi."
"Maaf, sekarang lo jelasin ke gue, ngapain berduaan kaya gini?"
"Namanya Langit San-"
"Gua gak peduli nama dia siapa, gue cuman pengen penjelasan doang dari lo!" serobot Alvin kesal saat mendengar ucapan sang pacar.
"Gue itu bukan gamau izin sama lo, cuman sumpan deh ini tuh serba dadakkan banget, lagian nih, dari kemarin gue ngajak lo ke mall, lo terus-terusan nggak bisa."
"Lo tau sendiri apa alasannya gue gabisa, gue harus bantu Reksa buat olimpiade bulan depan."
"Iyauda, sih, terus gue jalan doang, salah dimata lo gitu?"
DEG!
Kalimat tersebut membuat tangannya seketika langsung terkepal. Jika saja ini bukan tempat umum sudah sangat ia pastikan akan memberikan pelajaran pada Langit.