Unknown, Stalker 666, Obsessed, Romansa.
Tak ada yang spesial dari cerita ini, hanya menceritakan kehidupan sehari-hari seorang gadis dengan kisah cinta bernuansa abu-abunya selama masa sekolah.
***
Plagiarizing this story is strictly prohibited! B...
"Tanpa kata tanpa nada. Rintik hujan pun menafsirkan kedamaian. Hanya rasa hanya prasangka yang terdengar di dalam dialog hujan."୨୧
- Senar Senja, Dialog Hujan
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Penghujung lampu merah ada sebuah warung makan kecil bertenda warna merah dengan tulisan kecil, banner bertuliskan "Warung Makan Rawon Ibu Siti." tergantung dengan jelas didepan warung tersebut.
Cuaca pada siang hari ini tampak sedikit mendung, terlihat awan kabut menyelimuti langit-langit kota Jakarta. Seolah tau jika dunia sedang tidak baik-baik saja dikarenakan tangisan, keringat, para pribumi hari ini tumpah setelah melakukan demo hari pertama.
Langit ikut andil dalam kesedihan, serta tangisan yang tumpah hari ini. Langit tahu pribumi hanya butuh keadilan. Namun, keadilan tersebut tak kunjung diberikan juga.
Lantas untuk apa keadilan itu diciptakan?
"Al, buat apa keadilan diciptakan, kalo mereka aja sesama manusia gabisa bersikap adil seperti semestinya?" tanya Alya saat mereka berjalan menuju warung makan rawon.
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ia terlebih dahulu berpikir untuk memberikan jawaban yang mudah dan masuk logika kepada sang pacar.
"Gini ya sayang, keadilan memang diciptakan untuk memberikan kesejahteraan kepada setiap pihak. Keadilan adalah keadaan dimana sesuatu hal berada dalam keadaan seimbang atau sama rata atau juga dapat dikatakan tidak berat sebelah." jawab Alvin.
"Tapi, mereka gabisa ngasih keadilan sesuai sama apa yang mereka terapkan."
"Itu letak kesalahan sekarang, mereka gak memberikan keadilan seperti semestinya yang sudah diterapkan."
"Sedih banget ya."
"Iya sedih, tapi semoga semuanya baik-baik aja setelah ini. Ayo kita makan, kayanya hujan mau turun bentar lagi." Alvin dengan pelan menarik tangan gadisnya untuk segera masuk ke dalam tenda warung makan sebelum rintik-rintik hujan mengenai mereka berdua.
Sepertinya Alvin memang cenayang sekaligus peramal cuaca, terbukti omongan laki-laki tersebut yang sebelumnya mengatakan hujan akan turun dan sekarang hujan turun dengan deras membasahi seluruh kota Jakarta.
"Mas, Mba mau pesan apa?" tanya Ibu Siti pemilik warung rawon setelah melihat pelanggan pertamanya memasuki warung.
"Pesan rawon dua sama teh hangat dua, tapi yang satunya teh hangat tawar ya, Bu." ujar Alvin sembari tersenyum ke arah pemilik warung.
Pemilik warung hanya tersenyum kemudian beranjak membuatkan pesanan pelanggan pertamanya. Dan kedua pasangan itu hanya diam duduk sembari menikmati hembusan angin dingin menerapa badan mereka.
"Jangan sampai sakit, Lia." Alvin memakaikan jaket miliknya pada Alya agar gadis tersebut tak kedinginan.
"Makasih, Al." ucap Alya terkejut kala jaket berwarna hitam tiba-tiba dipakaikan kepadanya.