"Kenapa ya, kok aku ngerasa kita semakin jauh dari rumah."
"Terus kamu anggap aku ini apa?"
"Kamu manusia, Li. Bukan bangunan, jadi mana bisa aku anggap kamu sebagai rumah."
"Rumah gak selalu berbentuk bangunan, Bel. Buktinya aja aku udah anggap kam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
<><><>
Setelah mengantar Belva pulang, Lian pun melakukan hal yang sama. Pulang ke kediaman orang tuanya. Ralat. Kediaman milik sang papa, karena kedua orang tuanya sudah bercerai sejak ia masih dibangku sekolah dasar.
Walaupun rumah itu tak pernah menyambut kepulangannya dan hanya memberi banyak tekanan, tapi tempat itu adalah bangunan satu-satunya untuk ia berteduh dan merehatakan sejenak tubuh lelahnya.
Baru saja selangkah Lian menginjak masuk kedalam rumah, gerakannya terinterupsi oleh sang ayah membuat ia terdiam mematung.
"Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?"
Lian menatap Primus —sang ayah— dengan tatapan malas.
"Kalo Lian pulang jam segini, emang kenapa? Gak ngerugiin ayah juga kan!?"
Pria yang dipanggil ayah oleh Lian itu hanya memijat pangkal hidungnya, ia merasa jengah dengan tingkah putranya akhir-akhir ini.
"Justru dengan kamu bertingkah seperti ini membuat ayah harus ekstra sabar menghadapi kamu dan harus lebih hati-hati agar tingkah kamu tak diketahui oleh kolega bisnis ayah."
Lian menghela napas malas, "ya udah sih, urusin aja bisnis-bisnis ayah itu dan gak usah peduli sama Lian."
Primus mengepalkan tangannya, tapi ia masih berusaha menahan emosinya. Sambil tersenyum paska pria itu memegang bahu sang putra.
"Justru itu Lian, karena kamu yang akan menjadi penerus ayah nanti, kamu harus lebih disiplin dan banyak belajar dari ayah."
Lian membalas senyuman sang ayah dengan senyuman miring.
"Banyak belajar dari ayah?" Ingin sekali Lian tertawa terbahak-bahak tepat ditelinga sang ayah. "Bagian mana yang harus aku pelajarin dan contoh dari ayah? Ayah yang suka check in di hotel sama wanita berbeda tiap malamnya? Atau sikap ayah yang sok berkuasa itu!?"
Plakkk
Sontak wajah Lian tertoleh kearah samping akibat tamparan ayahnya yang cukup keras.
"Jaga bicaramu, Lian!" Bentak Primus dengan mata merahnya.
Dengan memegangi pipi yang terasa panas dan berdenyut, Lian menatap Primus nyalang. "Pantes aja bunda ninggalin kita, kelakuan ayah kayak diktator. Berlaku seenaknya dan gak pernah peduli sama orang lain."
Primus terdiam mendengar penuturan putranya, tampaknya pria itu setuju dengan ucapan Lian.
Melihat keterdiaman sang ayah membuat Lian tersenyum hambar, dengan langkah cepat ia meninggalkan sang ayah yang masih terdiam menuju kamarnya dilantai dua.
"Ini yang bikin gue males pulang. Penghuni rumahnya gak ramah dan makin bikin gue gak nyaman tinggal disini."