"Kenapa ya, kok aku ngerasa kita semakin jauh dari rumah."
"Terus kamu anggap aku ini apa?"
"Kamu manusia, Li. Bukan bangunan, jadi mana bisa aku anggap kamu sebagai rumah."
"Rumah gak selalu berbentuk bangunan, Bel. Buktinya aja aku udah anggap kam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
<><><>
Adel pulang dengan perasaan yang carut marut, wajahnya amat masam ketika memasuki rumah. Sang adik yang memang pulang lebih dulu dari gadis yang setahun lebih tua darinya itu, menatap Adel dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.
"Lo kenapa liatin gue kek gitu?" Sinis Adel tak suka.
"Kak, lo harus tahu-"
Belum selesai si adik bicara, Adel sudah menepisnya lebih dulu.
"Gue gak peduli apapun itu, Nik."
Sang adik, Nicholine Rayners tersentak, gadis yang lebih tua darinya itu katanya tak mau peduli tentang apapun yang akan ia sampaikan padanya. Dengan tangan yang mulai mengepal, Nico berdiri dan mensejajarkan tubuhnya dengan Adel.
"Apa gue gak salah denger?"
Adel mendecak kesal, "cukup mereka aja yang bikin gue kesel hari ini, lo gak usah ikut-ikutan."
Nico mengangkat sebelah alisnya, sepertinya ia tahu maksud dari kakaknya itu.
"Diantara mereka yang lo maksud pasti salah satunya ada Belva kan?"
Gadis itu terlihat tersenyum hambar, "siapa lagi kalo bukan dia." Setelahnya ia berjalan meninggalkan si adik yang tengah berpikir keras, mungkin Nico sedang menebak apa yang telah Belva lakukan pada Adel, atau justru sebaliknya.
Baru selangkah kaki Adel meniti tangga, tangannya tiba-tiba ditahan oleh Nico. Jadi mau tak mau ia menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya berhadapan dengan si adiknya itu.
"Apa lagi?"
"Lo apain Belva?"
Adel tertawa kecil sambil memperhatikan wajah si adik yang terlihat mulai kesal padanya.
"Gue cuma bilang kalo bocah broken home kek dia gak pantes buat Lian," Adel menjeda kalimatnya dan kembali menatap wajah Nico yang kini tersentak kaget. "Eh, Lian marah sama gue dan orang-orang malah bela si Belva itu sambil ngatain gue harus jadi anak broken home juga biar tahu gimana rasanya. Kan sebel."
Kini giliran Nico yang tertawa miris, "dan kata-kata mereka bentar lagi bakal terwujud."
Adel terdiam mencerna kalimat Nico. "Maksud lo? Kalo lo gak terima gue ejek Belva anak brokenhome, ya minimal gak usah ikutan ngatain gue harus jadi broken home juga dong. Karena kalo gue jadi anak broken home, lo juga bakal ngerasain hal yang sama, Nico!"
Nico tertawa lagi, tawa miris yang lagi-lagi ia paksakan. "Lo pernah denger ini?" Jeda Nico sambil menguatkan diri agar tak berbuat kasar pada kakak kandungnya itu. "Karma dibayar instan?"
"Maksud lo?" Tanya Adel masih belum sadar dengan situasi dan kondisi yang sebenarnya.
"Bentar lagi lo juga bakal jadi anak broken home, Kak Adel tersayang!"