"Kenapa ya, kok aku ngerasa kita semakin jauh dari rumah."
"Terus kamu anggap aku ini apa?"
"Kamu manusia, Li. Bukan bangunan, jadi mana bisa aku anggap kamu sebagai rumah."
"Rumah gak selalu berbentuk bangunan, Bel. Buktinya aja aku udah anggap kam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
<><><>
Pertemuan Belva dengan Adel dan juga ibu dari gadis itu beberapa hari lalu membuat Belva lebih banyak diam. Bahkan saat disekolah pun ia terlihat semakin murung dan ia juga selalu menghindar dari Lian dan memilih untuk menyendiri.
Saat pulang pun ia yang biasanya selalu menunggu Lian dan pulang bersama pacarnya itu, kini memilih untuk pulang diam-diam agar Lian tak mengetahuinya.
Dengan berjalan kaki, Belva menyusuri trotoar dengan gumaman-gumaman kecil di mulutnya. Ia yang belum bisa menerima semua hal yang terjadi akhir-akhir ini membuatnya semakin banyak pikiran.
"Kalo papa sama mamanya Kak Adel beneran nikah, nanti nasib aku gimana?" Gumamnya seraya melihat kearah langit yang menampakkan awan yang bergerak. "Aku takut kak Adel makin semena-mena sama aku."
Ketakutan semakin kentara terasa di diri Belva, manakala mengingat bagaimana sikap Adel terhadap dirinya dan katanya masih ada seorang lagi saudara dari gadis itu yang bisa saja berbuat jahat juga padanya.
Ditengah ketakutan dan pikiran negatif yang menyelimuti, Belva berjalan hendak menyebrang. Tapi ia yang sedang tak fokus dan tak menoleh ke kanan dan kiri, nyaris tertabrak oleh sebuah mobil yang melaju.
Tin...Tin ... Tin ...
Suara klakson yang terdengar nyaring membuatnya tersadar dan sedikit berlari menjauh dari mobil tersebut menuju ke tepi jalan. Setelah itu ia membungkuk sopan, meminta maaf atas kecerobohannya yang menyebrang sembarangan.
Saat Belva hendak kembali melanjutkan langkahnya, bias suara seorang pria menginterupsinya. Membuat Belva mengurungkan niatnya dan menoleh pada sosok pria pemilik mobil yang hampir menabraknya.
"Nak, kamu baik-baik saja kan? Atau ada yang luka?" Tanya pria itu dengan nada panik.
Belva tersenyum sekilas. "Saya baik-baik aja kok, om." Jawab Belva. "Maaf, saya asal nyebrang tadi."
"Justru om yang minta maaf, hampir saja kamu celaka gara-gara om."
Belva menggeleng, "ini pure, salah saya om. Jadi yang harusnya minta maaf itu saya, bukan om." Ulang Belva merasa tak enak hati.
"Kalau ada luka, om akan bawa kamu ke rumah sakit."
Sekali lagi Belva menggeleng, "saya gak kenapa-napa kok, om."
Ketika keduanya tengah berbincang dan memastikan tak ada hal fatal yang terjadi, tiba-tiba seseorang membuka pintu penumpang membuat atensi keduanya teralihkan.
"Adeknya luka ya, mas?"
Belva mengernyit manakala yang keluar dari tersebut adalah wanita yang sangat ia kenali.