"Kenapa ya, kok aku ngerasa kita semakin jauh dari rumah."
"Terus kamu anggap aku ini apa?"
"Kamu manusia, Li. Bukan bangunan, jadi mana bisa aku anggap kamu sebagai rumah."
"Rumah gak selalu berbentuk bangunan, Bel. Buktinya aja aku udah anggap kam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
<><><>
Mari tumbuh dewasa bersamaku, bersama rasa sakit yang akan tetap terasa sama bahkan sampai kita dewasa nanti.
<><><>
Selama diperjalanan, Lian termenung. Ia berusaha kembali mencerna maksud dari ucapan Rexy yang katanya rumah tak selalu berbentuk bangunan, kata-kata itu mengingatkannya pada Brian.
Lagi-lagi tentang sahabatnya yang juga begitu menganggap gadis bernama Evelyn adalah segalanya —semesta yang harus tetap ia pertahankan agar tetap hidup— katanya.
Lian yang hanya beberapa kali bertemu dengan gadis itu tak bisa memahami ada di bagian mana yang membuat orang-orang akan merasa nyaman dengan gadis itu, menjadikannya tempat pulang atau justru bersedia menjadi rumah untuknya. Apalagi setelah pertemuannya beberapa saat lalu, gadis itu tak lebih dari sekedar gadis yang dingin dan tak suka dengan kehadiran orang tak baru.
Tapi setelah berpikir demikian, Lian menggeleng. Definisi tempat pulang untuk setiap orang berbeda-beda. Mungkin Lian tak mengenal gadis itu, sehingga ia menyimpulkan demikian. Seba ia pun sama, sama halnya dengan mereka. Rumah bukan opsi pertamanya untuk pulang dan beristirahat dari kerasnya kehidupan, karena ia juga menganggap Belva adalah tempat pulangnya —yang baru ia sadari setelah bertemu dengan Rexy.
Lian tersenyum, ya benar. Belva adalah tempat pulangnya.
Bahkan perjalanannya menjadi tak terasa dan sangat singkat jika memikirkan gadisnya itu, sehingga kenyataan pahit yang menyapa gadisnya harus ia rasakan juga saat ini.
Lian menatap bangunan yang beberapa tahun silam pernah ia kunjungi juga, tempat yang membuatnya merasa sangat terpuruk dan kecewa. Bahkan ia sangat trauma dengan tempat itu, tapi ia tetap harus masuk kedalam sana. Menenangkan gadisnya yang sedang dalam ambang kehancuran serta kesakitan yang sedang menggerogotinya.
Perlahan Lian berjalan memasuki tempat itu, ia mencari keberadaan gadisnya. Kemudian tanpa ragu ia merangkul gadis yang sudah sangat ia kenali dan hafal walaupun hanya dari tampak belakang saja.
Lian mengusap lembut bahu Belva, memberikan kekuatan bagi gadisnya.
"Gimanapun keputusan hakim, kamu harus terima ya." Bisiknya tepat di telinga Belva.
Belva mengangguk samar. Walaupun saat palu diketuk oleh hakim, dunianya terasa runtuh saat itu juga.
Kedua orang tuanya resmi bercerai sekarang.
Belva sangat kecewa dengan kenyataan yang lagi-lagi menyakitkan. Kenyataan yang hanya bisa memberinya luka dan kesakitan tanpa henti. Belva tak tahu harus bagaimana nantinya, ia harus menerima keputusan hakim seperti yang baru saja Lian bisikkan padanya.
Tapi apakah ia akan bisa melakukannya, tinggal bergantian bersama orang tua yang sudah berpisah ditempat yang berbeda pula di setiap bulannya.
Entahlah selain berpasrah pada takdir, ia bisa apa.
"Jadi sekarang aku udah resmi jadi anak brokenhome ya, Li?"
Lian terdiam seribu bahasa. Ia benar-benar tak tahu harus menjawab seperti apa dan bagaimana. Mungkin usia Belva sekarang jauh lebih dewasa ketimbang dirinya dulu yang harus menerima perceraian kedua orang tuanya sejak masih kecil, tapi melihat kondisinya yang seperti ini membuat Lian merasa Belva jauh dari kata dewasa. Sebab gadis itu di dewasakan oleh rasa sakit yang tak pernah berkesudahan yang tak benar-benar membuatnya menjadi dewasa yang sesungguhnya.
"Sstttt, kamu masih punya aku. Walaupun keluarga kamu gak utuh lagi, aku akan tetap disamping kamu. Selalu utuh dan ada buat kamu, jadi tempat pulang yang bisa kamu andelin disana kamu ngerasa capek sama dunia yang jahat ini."
Belva menatap manik Lian nanar, ketulusan dan rasa sakit bercampur menjadi satu disaat yang bersamaan.
"Aku pasti gak akan sanggup tinggal ditempat berbeda setiap bulannya, jadi aku harus pulang kemana setelah ini?"
"Pulang ke aku, Bel."
Belva menoleh, "kamu bukan bangunan, Li. Mana bisa aku pulang ke kamu."
"Aku pernah denger ini dari seseorang, bahwasanya rumah itu gak selalu berbentuk bangunan, Bel. Kadangkala manusia juga bisa jadi rumah untuk manusia lain pulang."
<><><>
Setalah menghadiri sidang perceraian kedua orang tuanya, Belva tak langsung pulang. Ia justru kembali ke rumah kontrakan yang beberapa hari lalu Nico carikan untuknya —yang menjadi tempat tinggalnya sementara selama ia kabur dari rumah.
Saat ini ia lebih memilih meninggalkan rumah sampai pikiran benar-benar tenang dan sampai ia bisa menerima perceraian kedua orang tuanya.
"Mereka sadar gak ya kalo aku pergi?" Celetuk Belva yang tengah menyandarkan kepalanya di bahu Lian sambil mendongakkan kepala menatap lelaki yang tengah mengusap lembut kepalanya.
"Mereka siapa?"
"Mama sama papa"
"Bisa jadi"
Belva mengernyit mendengar jawaban Lian. "Kok bisa jadi?"
Lian yang semula mengusap kepala Belva seketika terdiam, sejenak ia berpikir. Jawaban seperti apa yang harus ia berikan pada gadisnya agar tak tersinggung atau bersedih setelah mendengarnya.
"Kalo mereka beneran khawatir dan sadar akan kesalahannya, mereka pasti bakal cari kamu dan mulai perbaiki semuanya dari awal." Ucap Lian hati-hati.
Belva tampak mengangguk sekilas, kemudian wajahnya kembali ia tenggelamkan diantara leher serta bahu milik Lian merasakan kehangatan pelukan yang lelaki itu berikan padanya.
Disisi lain Lian ingin menanyakan sesuatu pada gadis yang tengah berada dalam pelukannya, tapi ia sedikit ragu. Setelah mempertimbangkan akhirnya ia pun bersuara.
"Bel, kalo semisal kamu punya orang tua baru, reaksi kamu bakal kek gimana?"
Lagi-lagi Belva mengernyit, tapi kali ini ia enggan untuk mendongak atau melepaskan pelukannya.
"Kamu doain aku punya mama atau papa tiri ya?"
Dengan cepat Lian menggeleng. "Bukan gitu"
"Terus?"
"Aku kan nanya, harusnya kamu jawab dong bukan malah nanya balik."
Belva terkekeh kecil, "abisnya pertanyaan kamu aneh. Lagian kalo bukan doain aku, ngapain kamu harus nanya kek gitu?"
Lian terdiam beberapa saat, ia menghela napas berat. "Aku cuma takut aja kalo semisal ayah bakal nikah lagi."
"Tiba-tiba banget?"
"Kamu kan tahu gimana ayah."
"Kadang orang dewasa emang suka bikin kejutan gak terduga. Tapi kalo beneran kejadian gimana?"
"Aku keknya gak bakal mau pulang ke rumah itu lagi deh."
<><><>
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.