- 𝐻𝒶𝓅𝓅𝓎 𝑅𝑒𝒶𝒹𝒾𝓃𝑔 -
"Lah, pada kemana?" tanya Keira mendapati teman - teman nya sudah menghilang.
"Barusan pada pulang.. katanya lo lama," jawab Naren sembari mengelap kaca etalase bagian depan.
"Mereka beli semua kan?" tanya Keira sembari memincingkan mata nya.
Naren mengangguk sebagai respon. "Mereka beli semua, banyak. Itu tuh jadi udah sisa dikit." Pria itu menunjuk sisa kue yang ada di etalase.
"Oke, bagus. Berguna juga mereka jadi temen," gumam Keira. Naren memutar bola mata nya malas, "Itu yang tadi lo ambil, mana uang nya?"
"Gue kan anak owner nya! Masa harus bayar juga sih?!"
"Iya lah. Nanti kalau bapak tanya, gue jawab apa? Di colong anak nya, gitu?"
Keira mendengus, namun gadis itu tetap membayar pada akhirnya. Setelahnya, Keira menaiki mobilnya, berniat untuk pulang ke rumah karena hari sudah sore.
Di perjalanan, mata nya menangkap seseorang yang tak asing. Keira mengernyit. 'Jendra? Ngapain dia duduk di jalanan gitu?' tanya nya dalam hati.
Gadis itu menepikan mobil nya. Membuka pintu mobil dan turun, Keira menghampiri Jendra yang kini tengah duduk di trotoar jalan, depan sebuah cafe.
"Jendra?" panggil Keira. Jendra terlonjak, lalu mendongakkan kepala nya. "Lo?!" refleks nya.
"Lo ngapain di sini?" tanya Keira heran. Jendra menggelengkan kepala nya cepat, "Gapapa."
Keira mengernyit. Gadis itu mendudukkan dirinya ke sebelah Jendra. "Ada masalah apa?" tanya nya.
Jendra menatap lurus ke jalan, "Gada," jawabnya dengan tatapan kosong. Keira menarik nafas nya panjang, "Gimana gue bisa percaya, kalau ekspresi lo kayak orang banyak beban hidup," celetuk Keira.
"Gue gamau cerita, Keira. Biarin gue selesaiin masalah gue sendiri. Lo pergi aja," balas Jendra.
"Ini masalah kerjaan?" tebak Keira. "Gue bilang, pergi, Keira. Tinggalin gue sendiri," ujar Jendra.
"Gue ga masalah ninggalin lo sendiri, tapi jangan duduk di sini, Jendra."
"Masalah apapun, ga bakal bisa selesai kalau lo cuma bengong natapin jalan kayak gini. Lo--"
"Gue di pecat." Jendra memotong sebelum Keira menyelesaikan ucapan nya.
Sontak, Keira menatap Jendra, sedikit terkejut. "Gue di pecat karena ga sengaja nyenggol vas mahal di tempet kerja. Terus-" Jendra menarik nafas nya sebelum melanjutkan, "Terus, gue di suruh ganti rugi, 5 juta." Suara pria itu memelan.
Keira melebarkan mata nya, terkejut. Namun, hanya tiga detik. Selanjutnya, Keira menetralkan ekspresi nya lagi seperti semula. "Di mana tempat kerja lo?" tanya nya.
"Gue udah bilang, kan? Gue bisa selesaiin sendiri. Ini salah gue, gue bisa cari jalan keluar nya."
"Tapi--"
"Udah, Kei. Kalau lo gamau pergi, gue aja yang pergi duluan." Pria itu berdiri, lalu beranjak pergi menyebrang jalan.
Keira segera berdiri juga, mengikuti langkah Jendra dari belakang, "Tunggu dulu, Jendra. Dengerin gue dulu, belum tentu harga vas nya 5 juta, kan!" Jendra tetap tak menghentikan langkah nya. Pria itu berjalan cepat meninggalkan Keira yang mengejarnya dari belakang.
"Jendra! Dengerin gue dulu woy-"
"MBAK! MINGGIR MBAK!"
Keira mengernyit. Kaki nya tetap melangkah, namun pandangan nya mengedar ke si orang yang berteriak menatap nya. Lalu, 2 detik kemudian, sebuah cahaya menyorot kearah Keira dari kiri. Gadis itu lantas tersadar, sebuah mobil berwarna abu - abu kini tengah melaju kearahnya dengan kecepatan lumayan tinggi.
Keira mempercepat langkahnya, berusaha menyelamatkan diri, namun, terlambat.
BRAKKK!
Semua nya terjadi begitu cepat. Mobil itu menghantam tubuh Keira hingga tubuh si gadis terpental, bersamaan dengan Jendra yang membalikkan tubuh nya.
Brukk..
Keira masih dapat merasakan, saat tubuh nya melayang sejenak, lalu menghantam tanah. Cairan berwarna merah mengalir dari kepala nya, seluruh tubuh nya sakit, pandangan nya mulai kabur, tak jelas.
Bersamaan dengan mata nya yang terpejam, suara teriakan memanggil nama nya terdengar.
"KEIRA!!" teriak Jendra. Pria itu segera berlari kearah Keira yang sudah tergeletak penuh darah.
Berlutut di sebelah tubuh Keira, tangan gemetar pria itu menyentuh pelan pipi Keira. "K-kei.. bangun.." lirihnya. Jantung nya berdetak semakin cepat. Mata nya sudah bergetar, siap menumpahkan air mata nya.
"T-tolong!! Tolong panggil ambulans!" pinta nya menatap orang - orang di sekeliling. "Pak! Tolong telfon ambulans buat adek saya!"
"I-iya! Sebentar!" Bapak - bapak itu segera meraih ponsel nya, mengetikkan nomor ambulans.
Jendra kembali menatap adiknya, tangan gemetar nya menyentuh kedua pipi Keira. Pria itu terisak, dada nya nyeri melihat kondisi Keira saat ini. Perlahan, Jendra mengangkat tubuh adiknya ke pangkuan.
Membawa Keira ke pelukan nya, tubuh pria itu gemetar karena takut dan menahan tangis. "M-maaf.. maafin gue Kei.. maaf.." gumam nya berulang - ulang.
"L-lo harus b-bertahan.. lo ga boleh kenapa - napa, Keira.." lirihnya di telinga Keira. Lalu, seorang kakak itu menangis, memeluk tubuh adik perempuan satu - satu nya, menunggu ambulans yang sedang berada dalam perjalanan. Merasa bersalah karena meninggalkan Keira tadi.
Terlupakan ketakutan perihal masalah vas bunga yang harus ia ganti rugi. Sekarang, pikiran nya hanya adiknya. Takut Keira kenapa - napa.
Sejujurnya, Jendra malu. Malu kalau sampai keluarga nya, apalagi Keira tau perihal masalah nya. Tak mau membebani juga. Karena itu, ia memilih menyimpan nya sendiri. Tak menyangka Keira akan mendatangi nya dan bertanya.
.
Di waktu yang sama, tapi tempat yang berbeda. Kenan sedang mencuci piring di wastafel, menjalankan pekerjaan nya. Piring terakhir, ia letakkan ke tempat pengeringan piring.
Tiba - tiba saja, dada nya terasa amat sakit. Kenan refleks langsung mencengkeram dada nya dengan satu tangan. Pria itu meringis pelan, 'Kenapa.. tiba - tiba sakit?' tanya nya dalam hati.
"Kenan? Loh? Kamu kenapa?" Pria yang merupakan bos nya itu segera menghampiri Kenan.
"Keira..." lirihnya tanpa sadar.
"Hah? Kenapa, Kenan?"
Kenan tersadar, "S-sakit pak.." jawab nya jujur.
"Duduk dulu, duduk dulu." Bos nya itu menuntun Kenan untuk duduk di kursi plastik yang kebetulan ada di sana.
"Kamu istirahat dulu deh. Mungkin kecapean," kata si bos.
Kenan menganggukkan kepala nya pelan sebagai respon, "Makasih, pak."
"Iya, saya kembali ke depan dulu. Kalau kamu ga kuat, pulang aja, gapapa," ujar lelaki itu lalu berjalan pergi meninggalkan Kenan.
Kenan diam, masih mencengkeram dada nya. Tatapan nya kosong, 'Perasaan gue ga enak..'
"Keira.. ga kenapa - napa, kan?" gumam nya gelisah.
Ikatan batin antara kedua saudara kembar itu memang kuat. Selalu begitu. Ketika salah satu dari mereka sakit atau terluka, yang lain nya akan ikut merasakan, meski sakit nya tak seberapa. Namun, kali ini, Kenan tak tau, apa yang terjadi pada Keira. Apa gadis itu terluka?
.
.
.
• B E R S A M B U N G •
KAMU SEDANG MEMBACA
The Antagonist [ TERBIT ]
Science-FictionRevisi di versi cetak. VERSI CETAK BISA PESAN DI SHOPEE GRASS MEDIA. 𝐒𝐢𝐧𝐨𝐩𝐬𝐢𝐬: Baru saja Kayla memaki tokoh antagonis dalam novel 'Fall in Love' yang ia baca, Kayla tak menyangka, setelah kecelakaan, ia malah terbangun sebagai Keira. Tokoh...
![The Antagonist [ TERBIT ]](https://img.wattpad.com/cover/369936562-64-k593275.jpg)