[ SEASON II | J Edition ]
Setelah semua sakit, bukankah seharusnya terbit senyuman; seperti pelangi yang hadir sehabis hujan turun?
Namun, hidup mu dalam kehidupan ini tidak berjalan dan tidak berhenti hanya karena kamu menginginkannya. Tuhan adalah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Anjer Marvin!" Teriak Zayden frustasi, ia melempar ponselnya ke sofa.
Markas blackmoon cukup ramai, mereka sedang berkumpul seperti biasa. Setiap hari, selalu ada saja yang menghuni markas ini. Entah mereka hanya mencari ketenangan —kabur dari rumah, atau bersantai ria sambil bermain bersama, pulang sekolah, kuliah, kerja.
blackmoon sudah seperti keluarga, yang bahkan mempunyai generasi - generasi lanjutannya. Agenda mereka juga setiap sebulan sekali pasti ada, berbagi pada sesama di panti sosial, panti asuhan, bahkan anak - anak atau orang - orang yang hidup di jalanan, hingga kucing pun mereka jadikan target berbagi.
Siapa nih, yang mau ikut blackmoon berbagi makanan kucing?
"Kenapa sih lo, uring - uringan mulu gue liat," ucap Edward yang sedari tadi memperhatikan tingkah Zayden.
Tak berselang lama, Max datang dan duduk di sebelahnya sambil meminum soda kaleng.
"Marvin minta gue kabarin ke daddy, dia bawa adek gue ke pantai," jawab Zayden dengan malas, ia sedang berpikir bagaimana kalimat yang tepat agar tidak di marahi, hari semakin sore dan Jasmine belum ada tanda - tanda hendak di pulangkan oleh kembarannya Max yang wajahnya sama saja itu.
"Keluarga lo setuju gak sih, Marvin deketin Jasmine?" Tanya Edward ingin tahu, ia juga mendengar bagaimana posesifnya keluarga besar Jasmine.
Max hanya diam mendengarkan. Apalagi mengingat kejadian di kamar Marvin tadi, kalau mereka semua tahu —terutama keluarga Jasmine, adik kembarnya akan diajak duel oleh Zayden sebelum Isaac.
Edward bertanya bukan tidak percaya akan kebaikan dan kewibawaan Marvin saat ini yang mulai terpancar jelas, namun Edward sedikit ragu. Karena biasanya keluarga yang posesif, tidak akan membukakan pintu dengan mudah.
Ia khawatir pada Marvin, akan sekeras apa perjuangannya?
Jangankan berhadapan dengan tipe keluarga yang sudah dari sananya posesif, keluarga yang biasa - biasa saja pun menurut Edward cukup sulit. Tidak akan mudah mengejar restu keluarga yang anggotanya banyak.
"Yang gue perhatiin, Marvin itu gak pernah maksain apa yang dia pengen ke Jasmine. Dia justru yang ngedorong Jasmine buat nurut sama keluarga, dia sering negur Jasmine karena marah sama aturan keluarga," ujar Zayden sambil menerawang.
Zayden ingat betul, bagaimana sikap Marvin saat Jasmine yang meminta bantuannya untuk lepas dari aturan Vincent, —melarang Jasmine keluar malam untuk kepentingan apapun.
"Gimana menurut lo?" Tanya Zayden pada Max yang masih asik dengan sodanya.
"Walaupun keluarga lo ada yang gak suka sama adek gue, adek gue gak akan pernah lepasin Jasmine," jawab Max tegas dan yakin. Darah Smith, tidak akan mudah kalah dan menyerah.
Sesekali Marvin menunjukkan sangat terang betapa gilanya ia pada Jasmine, namun tidak pernah menanyai Jasmine akan perasaannya maupun bagaimana kedepannya, tidak pernah juga mengomentari sikap keluarga Jasmine yang super posesif.