Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sekalipun diperbaiki tetap ada bekas lukanya, benar Lan?"
— Kevan Sanggara Gemintang
🪐🪐🪐
Tinta birunya mengalir lincah di atas kertas bergaris milik Arga. Gadis itu menuliskan cara versinya untuk mengerjakan soal matematika yang sedang mereka geluti.
"Cara lo mudah dipahami sih, tapi kalau gue pake cara yang beda gapapa kan?"
"Gapapa hasil akhirnya juga sama."
"Beneran? Takut disalahin karena pake cara yang beda."
Aretha mengklik ujung pulpen menutup akses tintanya. Badannya ditegakkan hingga dapat melihat sosok Arga yang begitu kharisma dengan jaket kulit hitam. Cuaca malam ini tak sedingin biasanya yang mencapai 20°C. Namun, empat buah AC menyala mengalirkan suhu 17° menimbulkan kesan es yang pekat.
"Lo pernah dengar ga kesuksesan diraih dengan beragam cara?"
"Ibaratnya lima tambah lima sepuluh, tapi dua tambah delapan juga sepuluh. Begitupun soal matematika yang lo kerjain, atau hal lain yang perlu penyelesaian ga selalu didapat dengan cara yang sama. Selagi caranya benar, dan hasilnya masuk akal kenapa harus takut disalahkan?"
"Kuncinya percaya diri, bro." Arga merespon dengan decakan.
Erlangga turut menyahut sembari ikut rusuh bertanya pada Aretha. "Jawabannya segini kan?"
"Percaya diri." Tekan Arga ditertawakan Aretha.
Gadis itu merespon iya sebagai tanda bahwa Erlangga telah melewati matematika yang penuh teka-teki.
"Nomor tiga sama ga jawabannya?" Erlangga kembali menggoyahkan perhatian Aretha.
"Iya sama." Sahutnya setelah melirik pekerjaan Erlangga.
"Lo udah jago kenapa masih tanya?" Arga berkata begitu seakan tak suka Erlangga mengganggu interaksinya dengan Aretha.
"Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga." Sahutnya merendah.
Rhei memiringkan kepala supaya bisa bersitatap dengan Erlangga. "Apalah dia anak pintar sok bijak."
Erlangga si Jago matematika yang begitu percaya diri. Namun, malam ini tampaknya berbeda. Berlagak menjadi orang awam di depan Aretha. Beberapa dari Gavilan menganggap itu hal biasa mungkin bumbu dari mencari perhatian.
"Corection tape bawa ga?"
"Habis belum beli lagi, Den." Responnya membuat benda mungil biru itu dikembalikan lagi oleh Raden.