Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Senang rasanya bisa ketemu sama lo. Kapan-kapan gue request sama Tuhan biar lebih lama menciptakan pertemuan kita ya?"
— Zaviel Artha Sanjaya
🪐🪐🪐
Kedai buah langganan Erlangga di perkenalkan Aretha pada senin sore ini selepas berkelana dengan padatnya jadwal sekolah. Seharusnya mereka langsung menuju kelas bimbel, tetapi Erlangga meminta Aretha untuk libur satu hari. Jika tidak dirayu segemas kucing kesayangannya mungkin gadis itu tak akan luluh. Satu lagi ini perkara Ibunda Erlangga, jadi mana bisa Aretha menolak.
Tak ada absen buah yang kosong dari mulai versi manis hingga asam, versi kecil hingga besar, versi warna merah cinta hingga ungu wine. Mereka berjajar menempati rak buah yang dipertontonkan kepada pengunjung lengkap dengan harga yang sudah tertera di label.
"Mangga aja?" Tanya Aretha saat diminta memilihkan beberapa yang menurutnya layak untuk di konsumsi.
"Dia sukanya mangga, lainnya ogah." Dia yang dimaksud Erlangga adalah Alovaa. Beberapa menit lalu Bundanya telepon memberi kabar bahwa Alovaa sakit, dan di rawat inap.
"Padahal semua buah enak asal manis."
"Cie kita samaan."
"Tumben biasanya ga pernah satu selera."
"Kata siapa? Kita satu warna kesukaan, pecinta kucing, pecinta keindahan alam khususnya senja, pecinta laut yang begitu sulit ditebak, pecinta risol ayam, pecinta banyak deh kesamaannya."
Aretha terkekeh. "Pecinta buah-buahan."
"Nah! Nambah lagi kan." Seruan Erlangga memelan ketika di depan rak strawberry yang sudah di packing mika berukuran sedang. Lelaki itu mengambil empat buah mika.
"Katanya suka yang manis-manis bukannya strawberry itu kecut?"
"Manis kalau ditambahin bumbu pemanis kayak lo misalnya."
Aretha tersenyum persis seperti emot senyum di WhatsApp yang tampil sedikit menyipitkan mata.
"Jangan lebar-lebar senyumnya nanti ditaksir pengunjung lain gimana?" Erlangga mencubit pipinya supaya senyumnya pudar.
"Biarin gue kan cantik wajar ada yang suka."
"Ga semudah itu naksir Lazkaretha harus lewatin enam pangeran tampan dulu."
Aretha membuang muka. "Udah kaya lamar anak orang aja."
Erlangga terkekeh. "Tapi beneran pawang lo banyak banget ya?"