The Consort's Schemes

637 43 1
                                        

Lorong-lorong di istana sangat megah, dengan langit-langit tinggi dan dinding yang dihiasi lukisan-lukisan keren tentang kemenangan dan tokoh terkenal. Lampu gantung besar di atas memberikan cahaya hangat yang bersinar di lantai marmer yang mengkilap. Aroma bunga dari vas-vas dan harum dupa menciptakan suasana tenang meskipun ada ketegangan yang meningkat.

Sakura berdiri di ujung meja kayu yang diukir dengan indah, mengenakan kimono merah tua dengan bordiran emas di ujung dan lengannya. Warna merah kimononya sangat mencolok dibandingkan dengan dekorasi ruangan yang lembut. Meja tersebut penuh dengan gulungan-gulungan yang tersusun rapi, dan udara dipenuhi aroma teh mahal.

Saat Sakura berbicara kepada para bangsawan yang berkumpul, suaranya penuh dengan ketegangan dan ancaman. "Perilaku Naruko akhir-akhir ini sangat aneh. Aku khawatir ini bagian dari rencana untuk merusak istana kita dan melemahkan posisi kita. Aku yakin Naruko pasti sedang merencanakan sesuatu."

Nada suara Sakura membuat para bangsawan merasa gelisah. Mereka yang mengenakan pakaian sutra terbaik terlihat cemas dan berbisik-bisik, wajah mereka penuh kekhawatiran. Mereka saling memandang dengan penuh rasa ingin tahu, jelas terlihat bahwa mereka tidak yakin apakah Sakura benar atau tidak.

Sakura melanjutkan dengan tatapan tegas dan serius, "Kita harus segera bertindak. Jika kita tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, kita berisiko kehilangan semua yang telah kita capai." Sakura berbicara dengan keyakinan, menekankan pentingnya tindakan segera.

Setelah pertemuan berakhir, para bangsawan saling bertukar pandangan dengan wajah penuh kecemasan. Sakura, kini sendirian, tersenyum tipis dengan rasa kemenangan. Sakura memperhatikan para bangsawan keluar dari ruangan dengan pikiran sudah penuh rencana untuk langkah selanjutnya. Ruangan yang dulu terasa megah kini terasa seperti panggung untuk strategi Sakura.

---

Taman istana adalah tempat yang tenang. Rumputnya dipotong rapi dan kolam kecil di tengah dikelilingi oleh pohon sakura yang sedang berbunga. Suara daun yang berdesir dan kicauan burung menambah ketenangan di taman, tetapi Naruto merasa sangat gelisah.

Naruto duduk di bangku beludru di bawah pohon sakura. Kimono birunya terlihat elegan, tapi wajahnya menunjukkan kecemasan. Kimononya sederhana, dengan pola bunga kecil, namun wajah Naruto terlihat sangat khawatir. Rambutnya diikat longgar, dengan beberapa helai yang jatuh.

Dia memegang kipas tangan yang indah, tapi hanya untuk mengalihkan pikirannya yang kacau. Kipas itu memiliki desain rumit dengan gambar pemandangan yang damai.

"PeRasaanku mengatakan ada yang ingin melawanku," Naruto berbisik, suaranya bergetar saat dia melihat ikan koi di kolam. "Menurut acara TV, kerajaan penuh persaingan. Aku jadi ratu bukan karena pilihanku, apalagi karena aku wanita. Tapi... jika aku mundur, aku sulit bertemu Sai lagi. Aku tidak bisa mundur! Sai adalah satu-satunya temanku di sini!"

Bayangan bunga sakura seolah menutupi Naruto, membuatnya merasa semakin sendirian. Naruto berdiri tiba-tiba, gerakannya tegas dan kaku, lalu mulai mondar-mandir. Matanya bergerak ke seluruh arah, seolah mencari orang yang bersembunyi. Langkah kakinya tidak teratur di jalan kerikil, menambah kesan kebingungannya.

Taman yang indah dengan warna-warna cerah dan angin lembut terasa sangat berbeda dengan perasaan gelisah Naruto. Napasnya yang berembun di udara dingin menunjukkan betapa cemasnya dia dibandingkan dengan ketenangan di sekelilingnya.

---

Usaha Naruto dalam menjadi mata-mata dipenuhi dengan kekonyolan. Di koridor yang luas menuju ruang takhta, dihiasi permadani mewah dan patung marmer, Naruto mencoba menyelinap dengan jubah panjang yang menyentuh lantai.

Namun, Naruto malah tersandung ujung jubahnya sendiri dan hampir terjatuh. Dia cepat-cepat berdiri lagi, wajahnya memerah karena malu, berharap tak ada yang melihatnya.

The New Queen -TAMAT-Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang