Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tiara,"
Setelah dua minggu berlalu, Sangkala yang udah tahan-tahan ngadepin sikap egois Adimas, akhirnya mutusin untuk ketemu Tiara bareng Zhenya di suatu cafe.
Tiara awalnya nampak aget ngeliat kehadiran Sangkala yang dia tau banget kalo cewe setinggi 185cm itu adalah pacar dari Adimas, cowo yang saat ini juga menjadi pacarnya.
"Sangkala...? Ada apa ya?"
"Oh udah kenal gua rupanya." Sangkala tersenyum sinis sambil diikuti Tiara yang duduk di hadapan Zhenya.
"Y-ya... Sedikit..." Tiara nundukkin kepalanya karena gugup sekaligus takut.
"Berarti lo tau dong Sangkala ini siapa." Celetuk Zhenya dengan wajah marah.
Tiara mengangguk pelan, "Pacarnya Adimas kan...?"
"Ya kalo udah tau, kenapa lo masih mau aja pacaran sama si Adimas hah?! Lo tolol ya?" semprot Zhenya.
Otomatis Sangkala langsung nahan tangan Zhenya untuk gak bangun dan jambak Tiara.
"M-maaf... Tapi... Gue sayang sama Adimas..." jawab Tiara pelan.
"Sayang? Lo sayang sama cowo orang? Gila lo ya?!" seru Zhenya.
"Sst udah, Zhen. Jangan keras gitu sama Tiara." Bisik Sangkala.
"Lo juga! Pacar lo jelas-jelas di rebut! Lo malah sabar aja kayak gini?!" Sembur Zhenya.
Sangkala menghela nafas, "Zhen, kita kesini cuma untuk minta kejelasan Tiara, bukan untuk ngehakimin dia. Jadi please, jangan marah-marah. Kita omongin baik-baik ya..."
Zhenya natap Sangkala dengan gak sabar. Terus dia ngehela nafas keras-keras.