BAGIAN 31

41.6K 2.4K 59
                                        

HAPPY READING!

❤️‍🔥JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN❤️‍🔥

💋KOMEN YANG BANYAKKK💋

‼️NO SPOILER PLEASE‼️

Selamat bertemu dengan Fourich!🚩

========

BITTERSWEET RUINS
[ Bagian 31 | The Bad News ]

Seluruh pengawal yang berdiri di setiap anak tangga halaman depan mansion D'Arvenzo, saat itu juga langsung membungkukkan badan, ketika mobil merah yang berhenti di depan mereka, ternyata dikendarai oleh sang tuan muda.

"Ardanthe!"

Jessica yang memang berniat pergi, tampak senang ketika keluar melihat putranya datang. Dia menuruni tangga dengan antusias.

"Where's dad?"

Pertanyaan Ardanthe yang terkesan menuntut, tampaknya tidak dihiraukan sang ibu. Wanita dengan dandanan glamour itu malah merentangkan tangan ke arahnya seolah meminta peluk.

"Don't you miss me, Son? Hug me first!" Serunya sambil menarik Ardanthe ke pelukan.

"Udah, sekarang mana Papa? Ar, mau ketemu," ucap Ardanthe sembari mengurai pelukan mereka.

"Dasar." Jessica mendengus. "Kenapa tiba-tiba mau ketemu sama Papa? Ada sangkut-pautnya sama pelayan kamu itu?"

Kening Ardanthe mengerut bingung. "Who?"

"Luina. She is your maid, right?"

Ardanthe mendengus.

"Luina is not my maid, Ma."

"Oh. Not your maid anymore? Is she—"

Ardanthe mendesah malas. "Ma, please. I want to see daddy. Now!"

Jessica menghembuskan napasnya sedikit kesal.

"Papa di ruang kerjanya."

"Oke, thankyou."

Namun sebelum langkahnya mulai berjalan, suara Jessica lebih dulu terdengar.

"But, Son! Kalau kedatangan kamu ke sini perihal Thomas, kamu telat." Jessica menyunggingkan senyum miring.

"Thomas sudah tidak dipenjara lagi. Dia sudah bebas," tutupnya sebelum memasuki mobil dan meninggalkan Ardanthe yang tercengang di tempat.

***

Sebuket bunga lily berwarna putih, Luina letakkan di atas nisan yang sudah satu bulan lebih tidak sempat Luina kunjungi.

Tangan kanannya yang dilingkari gelang mutiara pemberian Zirga—tampak mengusap nisan tersebut dengan perasaan rindu yang amat dalam.

Meski Inara bukan ibu kandungnya, tetapi Luina sangat menyayangi wanita itu.

Wanita itu telah memperkenalkannya tentang indahnya keluarga, dan manisnya kasih sayang orang tua.

Meski pada akhirnya, Partha malah menganggap dirinya sebagai alasan dibalik kematian Inara.

Luina memejamkan mata—merapalkan doa-doa baik untuk mendiang ibunya yang hari ini kebetulan sedang berulang tahun.

Setelah doanya selesai, dia lalu mendongak, saat selendang kepalanya yang merosot, terasa diperbaiki ke tempat semula.

Ada Alex disana, yang memberikan senyum tipis kepadanya.

BITTERSWEET RUINS [ HIATUS ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang