#4 DSK

128 5 0
                                        


Sebelum kamu baca, plis klik vote dulu ya guys sebelum lupa, sudah? Sudah belum? Oke, terima kasih

...



Seseorang yang tidak pernah terpikirkan untuk pergi justru orang yang memberikan luka paling hebat

...

Benda berbentuk hello kitty yang terletak di atas nakas menunjukkan waktu 05.30 pagi. Jam lucu berwarna pink itu milik gadis yang tengah berdiri di hadapan bayangannya. Kaca persegi panjang itu menampakkan sesosok gadis tanpa senyum.

Ekspresi Karam bener-benar datar.

Gadis itu merenung. Tidak ada satupun suara yang terdengar membuat kamar petak berukuran 6×6 cm itu sangat tenang. Telinga Karam tidak mendengar apa-apa. Sangat hening. Tanpa hearing eid dia menjadi tuli sepenuhnya. Terkadang gadis itu merasa lebih baik tanpa alat bantu dengar. Dimana dia tidak perlu mendengar kalimat jahat yang dapat melukai hati kecilnya.

Gadis berseragam putih yang dikombinasikan dasi pita dan rok abu-abu setinggi lutut, serta almamater berwarna silver yang terpasang di tubuh gadis itu tampak sangat cocok di tubuhnya. Rambut panjang terurai dengan ciri khas jepitan berbentuk pita berwarna dusty terpasang di pinggir rambut gadis itu, membuatnya tampil cantik.  Dia hampir terlihat sempurna jika saja kedua sudut bibirnya melengkung membentuk senyum. Namun, bibir itu terkatup begitu rapat tanpa mau mengangkat kedua sudut bibirnya.

Hari ini adalah hari pertama Karam memasuki dunia Sekolah Menengah Atas. Hari ini harusnya jadi hari spesial untuk gadis itu. Setelah pernah home schooling saat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama yang ditempatkan di sekolah khusus penyandang disabilitas. Akhirnya sekian lama menunggu Karam mendapat kesempatan untuk bersekolah di tempat yang sama dengan kakak laki-lakinya. Rasanya seperti mimpi bisa menjadi salah satu murid Juanda High School.

Senyum Karam ingin terbit tapi terasa sulit.

Entah siapa yang mendaftarkannya ke Internasional School itu. Siapapun orangnya dia sangat berterima kasih. Papa atau mama ataupun kakak laki-lakinya. Karam sungguh bersyukur.

Apakah dia senang? Tentu saja. Tetapi ada alasan yang membuatnya sulit untuk menunjukkan rasa senang itu.

Dengan tas pundaknya Karam meninggalkan kamar. Baru beberapa langkah dari pintu, Karam teringat sesuatu. Astaga, batinnya. Dia kembali ke kamarnya. Dia melupakan hearing aid miliknya. Untung saja dia segera ingat.

Dengan lutut berbalut perban Karam sampai di dapur. Dia sarapan sendirian. Sudah terbiasa seperti ini. Sejak kecil dia memang tidak diperbolehkan semeja dengan papa atau mamanya. Itu hal yang cukup menyedihkan, tapi hari ini dia tidak ingin larut kedalam rasa sedih itu. Hari pertamanya sebagai murid SMA harus memberikan kesan yang terbaik, dia tidak boleh merusak dandanan simplenya jika sampai meneteskan air mata.

Kejadian semalam juga tidak mau Karam ingat-ingat lagi. Kalau dipikirkan terus akan merusak mood-nya. Hari ini dia ingin memulai kehidupannya. Ingin menata kembali dan melupakan kesedihan kemarin. Memang kenangan lukanya itu tidak akan hilang. Dia hanya memilih untuk terlihat baik-baik saja.

...

Bang Janu…

Karam mendapati saudaranya masih di rumah. Matanya berbinar dan senyumnya merekah melihat pria itu di ruang tengah sedang sibuk memasang sepatu. Dia merasa lega pria itu belum meninggalkannya.

Dunia Sunyi Karam [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang