Chapter 57 - Thank You, and Goodbye, My First Love

312 73 61
                                        

Soobin tahu, dia jahat.

Selain itu, dia juga tak tahu cara berterima kasih.

Bukannya bersyukur sebab Beomgyu masih sudi mengampuninya, Soobin malah kembali memanfaatkan kebaikan jiwa anak itu untuk dirinya sendiri, menuntut anak itu menuruti permintaan egoisnya.

Benar, Soobin memang tak punya hati.

Dia jelas sadar akan hal tersebut tapi tetap melangkah menghampiri Yerin, tepat setelah dirinya memerintah paksa Beomgyu agar setuju dengan keinginannya mengembalikan gadis itu dan Yongbin ke kehidupan.

Satu sekon kemudian Soobin merasa sangat bersalah. Pasalnya dia baru saja mengingat Beomgyu lagi, dia baru saja bertemu kembali dengan sang adik yang telah dia lupakan selama bertahun-tahun. Seharusnya dia menghabiskan waktu bersama Beomgyu, menghapus semua kesalahannya pada anak itu, meminta pengampunan alih-alih menyuruhnya melakukan ini itu, lalu meninggalkannya sendirian.

Brengsek, memang. Dia yakin dosanya tak akan pernah terampuni sekali pun dia bersujud berjuta-juta kali di hadapan anak itu. Meskipun jelas, Beomgyu pasti akan memaafkannya. Justru fakta itulah yang membuat Soobin tak pantas menerima kebaikan Beomgyu lagi.

Namun, harus bagaimana? Jika dia hanya diam saja, semuanya tidak akan pernah selesai.

Keinginan agar Yongbin dan Yerin kembali hidup, menyingkirkan sejenak rasa bersalahnya pada Beomgyu, walau sebenarnya apa yang dia rasakan pada ketiga orang itu mempunyai porsi yang sama. Soobin memutuskan mendahulukan mereka berdua sebelum Beomgyu, sebab dia pikir setelah ini dia akan terus melanjutkan segalanya bersama si adik bungsu. Mereka akan selalu bersama dan tak akan ada siapa pun yang memisahkan mereka setelah ini. Mereka bisa menghabiskan waktu sebanyak yang mereka mau.

Jadi, sambil dalam hati menyimpan beribu kata maaf untuk nanti kembali disampaikan pada Beomgyu, Soobin mendekati Yerin yang terlihat sudah menangis dan memandangnya penuh kerinduan.

Soobin bersumpah, dia tak tahan ingin mendekap gadis itu, menenggelamkannya sedalam mungkin di dada. Apalagi ketika mendengar suara lembut gadis itu menggumamkan namanya.

"Choi Soobin, ini benar-benar kau, 'kan?"

Soobin menggenggam tangan Yerin yang terangkat, seperti ingin menyentuhnya tapi terlihat ragu. Lantas dia membawa tangan itu untuk memegang wajahnya. "Benar, ini aku."

"Akhirnya, aku bisa bertemu denganmu lagi." Meski air mata tak berhenti mengalir, Yerin berkata dengan rasa lega yang memenuhi diri.

Sesaat Soobin juga merasakan kelegaan yang serupa, akhirnya dia bisa menyentuh gadis ini lagi setelah sekian lama. Kemudian kesadaran menghantam. Tidak, Soobin tidak boleh terlena dan membiarkan Yerin tetap ada di sini. Dia lantas menggeleng. "Aku tahu kau ingin bertemu denganku, tapi kau tak boleh ada di sini, kau harus kembali."

Yerin menggeleng cepat-cepat, tak setuju dengan pernyataannya. "Tidak. Aku baru saja bertemu denganmu, tolong jangan bilang begitu. Aku sudah melakukan berbagai cara agar bisa datang ke sini dan menemuimu." Yerin menunduk, menunjukkan ekspresi sedih dan sesal. "Lagi pun, Soobin, dari awal yang seharusnya mati itu aku, bukan dirimu. Maafkan aku karena sudah membuatmu jadi seperti ini."

"Kau ini bicara apa? Kau masih menganggap kematianku ini salahmu?" Soobin meremas kedua tangan Yerin kuat-kuat, menyadarkan gadis itu dari pikiran bodohnya. Kemudian ibu jarinya bergerak menghapus cairan dari mata Yerin yang tak kunjung mereda. "Dengarkan aku. Semua ini bukan salahmu. Aku mati karena aku memilih takdirku sendiri, aku ingin kau selamat, aku ingin kau tetap hidup."

"Tapi, kenapa? Bukankah ini tidak adil untukmu? Membiarkan aku hidup sementara kau sendiri mengalami kematian yang menyakitkan. Aku tidak bisa menerima itu, Soobin. Aku tidak bisa melanjutkan hidup begitu saja dengan rasa bersalah terhadapmu."

절망의 그림자Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang