Chapter 62 - Thank You, and Goodbye, My Dear Brother

275 71 44
                                        

Summer, 2017

Soobin barangkali sudah mengerti sejak lama, bahwa yang namanya perpisahan akan tetap terasa menyakitkan mau dilakukan seindah apa pun itu.

Dirinya memang tak sampai mengeluarkan air mata hingga tersedu-sedu, tapi Soobin tidak bisa berbohong, lehernya terasa seperti sedang dicekik rantai besi saat harus melepas Yerin pergi, kendati semua itu adalah keinginannya sendiri.

Meski di sisi lain merasa tenang karena pada akhirnya gadis itu bisa menerima perpisahan ini, tetap saja, Soobin tidak bisa sepenuhnya merasakan ketenangan itu sebab masih harus melakukan perpisahan lain, terlebih karena kali ini mesti dilakukan pada saudara tersayangnya.

Tentu saja berat, tapi Soobin tak punya pilihan lain. Dia harus tetap melakukannya mau siap ataupun tidak. Dia lantas menghembuskan napas, menatap Yongbin sedetik setelah menyaksikan kepergian Yerin.

Satu tangannya menepuk pelan bahu saudaranya itu. Tanpa banyak basa-basi langsung saja berujar, "Yongbin, setelah ini giliranmu. Kau juga harus kembali. Tolong jaga gadis itu untukku."

Terdengar seperti orang yang meninggalkan tanggung jawab pada orang lain, Soobin tahu, tapi mau bagaimana lagi? Semua demi kebaikan mereka berdua.

Yongbin membalas tuturan Soobin dengan menghembuskan napas berat, kemudian kepalanya menggeleng lambat. "Aku tidak bisa kembali."

"Kau bisa, dan kau harus." Soobin memotong cepat.

Yongbin terlihat pasrah, seakan tak tahu lagi bagaimana harus menyela perkataan si Abang. Yongbin membawa tangan Soobin untuk digenggam, berusaha menenangkannya yang sedari tadi tergesa-gesa ingin mengembalikan Yongbin ke kehidupan.

"Maaf harus mengatakan ini, tapi aku sungguhan tidak bisa kembali. Aku sudah kehilangan nyawaku, aku tidak bisa hidup lagi." Yongbin membeberkan alasan sebisanya.

"Tidak. Kalau Yerin bisa, kau juga bisa."

"Apa yang terjadi padaku dan gadis itu berbeda, aku tidak bisa kembali sepertinya."

"Bisa. Beomgyu pasti menemukan cara. Saat Beomgyu kembali ke sini nanti, kau harus sudah siap untuk hidup lagi."

"Bukan aku, tapi kau," balas Yongbin tak peduli.

"Kenapa malah aku? Kau yang harus kembali."

"Aku sudah mati. Kau yang mesti melanjutkan hidup."

"Yongbin!"

"Soobin!"

Soobin bungkam setelah mendengar Yongbin balas menyentak. Yongbin tampak lelah, matanya memerah, disentuh sedikit lagi saja Soobin yakin anak itu akan langsung mengeluarkan tangisan.

"Kau mau seperti ini terus? Kau tak kasihan pada Beomgyu?" Suara Yongbin tercekat.

"Justru aku melakukan ini karena Beomgyu juga. Aku tahu aku harus menebus dosaku padanya. Maka dari itu aku harus tetap ada di sini, dan mengirimmu kembali."

"Kau tidak mengerti apa-apa, Hyung." Air mata Yongbin akhirnya meluncur juga. "Beomgyu sudah berkorban terlalu banyak." Dia mulai terisak sendirian. "Dia melakukan segalanya demi menyelamatkanmu, dia ingin kau tetap hidup. Dia ingin aku juga tetap hidup, tapi aku sudah gagal. Jadi kaulah satu-satunya harapan yang tersisa."

"Apa maksudmu?"

"Dia merasa kematian yang dia alami terlalu menyakitkan untuknya, dia tidak pernah mau kita mengalami hal itu juga. Sebab itulah dia melakukan apa pun agar kita tetap hidup, agar kau tetap hidup. Beomgyu yang tak berdaya menyelamatkanku saat ajal menjemput, akhirnya mengorbankan dirinya sendiri dengan menentang kehendak Yang Di Atas demi bisa mengubah takdir dan menyelamatkanmu."

절망의 그림자Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang