BAGIAN 33

44K 2.5K 286
                                        

HAPPY READING!

❤️‍🔥JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN❤️‍🔥

💋KOMEN YANG BANYAKKK💋

Selamat bertemu dengan Fourich!🚩

========

BITTERSWEET RUINS
[ Bagian 33 | Another Problem ]

Pada akhirnya, Luina tetap tidak bisa berenang.

Karena Regaska yang katanya akan mengajari Luina sampai bisa menyelam seperti duyung itu, malah hanya menggendongi gadis itu memutari kolam dan bermain di pinggiran.

Lelaki itu terlalu pintar, hingga berhasil mengambil kesempatan dalam kesempitan, yang membuat tiga temannya yang lain menjadi iri dengki.

Maka dari itulah, setelah sesi berenang keduanya berakhir, Ardanthe yang tidak mau kalah—diam-diam memasuki kamar Luina dan mulai duduk manis di atas kasur gadis itu.

Dia duduk dengan santainya sembari menghadap ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.

Lelaki itu terlihat menunggu keluarnya Luina yang dipastikan saat ini sedang membersihkan diri dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Klek! "AAAA!"

"Anjing!!" Luina melempar handuk kecilnya ke wajah Ardanthe sangking kesalnya.

Tubuhnya bahkan sampai gemetar dengan jantung yang rasanya hampir copot, gara-gara terkejut melihat ada seseorang yang duduk di atas kasur dan melihat dirinya keluar dari kamar mandi.

Luina juga kesal karena dia sampai kelepasan mengumpat, hingga membuat citranya yang lemah lembut jadi hancur berantakan.

Dan lebih menjengkelkannya lagi, bukannya meminta maaf, Ardanthe malah tergelak melihat dirinya yang terkejut bukan main.

"Danthe aaaa.." Luina merengek kesal. "Ngapain sih di situ?! Kaget tau! Untung gue tadi inisiatif pake baju!"

Ardanthe masih mempertahankan tawanya yang terdengar puas, sebelum kemudian melangkah untuk membawa Luina duduk di atas kasur bersamanya.

"Iya iya maaf. Udah jangan nangis. Sini rambutnya gue keringin," ujarnya sembari menuntun gadis itu untuk duduk bersila dan menghadap ke cermin.

"Gak ada yang nangis!"

"Iya enggak," kalah Ardanthe sambil mati-matian menahan tawa melihat wajah merengut Luina yang menggemaskan.

Dia lalu mengambil handuk yang tadi dilempar kepadanya, dan mulai menggerakkan kain tersebut untuk mengeringkan rambut basah gadis itu yang mengeluarkan aroma strawberry.

"Punya hairdryer?"

"Ada. Disana. Mau ngapain?" Jawab Luina sembari menunjuk ke arah laci meja rias yang berada di depan.

"Eh, sama bawain ponsel gue ya, tolong, hehe," lanjut Luina sekalian menyuruh salah satu pemilik rumah tersebut.

Lihat, kan? Luina memang kurang ajar.

Tetapi sebenarnya Ardanthe, lah, yang lebih kurang ajar. Karena lelaki itu malah menyempatkan diri untuk melihat notifikasi di ponsel tersebut, di sela jalannya menuju Luina.

Raut wajahnya seketika tampak kesal.

Genggamannya pada ponsel Luina sedikit menguat, sebelum kemudian memberikan ponsel itu ke sang pemilik dengan gestur malas.

BITTERSWEET RUINS [ HIATUS ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang