HAPPY READING!
Selamat bertemu dengan Fourich!🚩
========
BITTERSWEET RUINS
[ Bagian 36 | Chaos ]
"Setelah Raya mukulin gue dan kalian bawa gue pulang—kemana kalian selama dua jam?"
Alex berhenti mengunyah.
Ardanthe menjatuhkan sumpitnya.
Regaska tersedak.
Zirga refleks melonggarkan cengkeraman di ponselnya.
"Ke bar."
"Ke rumah Regas."
"Ke bengkel."
"Ke—" Regaska langsung melotot kesal pada tiga kawannya yang kompak memberi jawaban berbeda.
Dug!
Di bawah meja, dia menendang tulang kering yang paling dekat—Ardanthe.
"Lo gimana sih?!" desis Regaska, menahan emosi.
Keempat pemuda itu seketika tampak seperti maling yang baru ketahuan. Gelagat mereka jelas tidak luput dari perhatian Luina.
"E-anu, ehm," Zirga berdehem kikuk. "Maksudnya tuh, kita ke rumah Regas dulu, ambil motor dia yang mau diservis. Habis itu ke bengkel, terus ke bar. Gitu, L."
"Nah iya, iya, itu maksudnya, sayang." Ardanthe ikut menimpali cepat. "Habis dari bar, balik ke bengkel lagi, terus mampir rumah Regas, baru pulang. Makanya lama."
Luina hanya menatap. Matanya penuh curiga, seolah dia tak percaya sepatah kata pun dari mereka.
Di antara Regaska, Zirga, dan Ardanthe yang sibuk saling lempar dalih—Alex justru menjadi satu-satunya yang tidak ikut ribut. Tenang di luar, tapi sorot matanya menyiratkan kegelisahan yang sama.
Samar-samar, sudut bibir Luina terangkat.
Bagi Luina, Fourich tidak lebih dari sekelompok remaja berdarah dingin—tanpa rasa kasihan, tanpa perasaan, dan senang mempermainkan orang. Status mereka sebagai kelompok paling berpengaruh di D'AIS membuat semua orang segan, bahkan berhati-hati setiap kali berada di sekitar mereka.
Meski belakangan Luina mulai melihat sisi lain dari mereka, kesan pertamanya pada Fourich tidak bisa begitu saja hilang.
Ingatannya jelas, mereka adalah orang-orang yang tak pernah berpikir panjang saat menghukum seseorang.
Itulah sebabnya, meski Fourich berulang kali meyakinkannya bahwa mereka tidak melakukan apa pun pada Raya selain menjadikannya red person—Luina tidak mudah percaya.
Selain dari cerita Chelsea, hilangnya Raya selama lebih dari seminggu juga terlalu mencurigakan. Sikap para murid D'AIS pun berubah. Mereka mendadak segan padanya. Bahkan seringkali Luina melihat orang-orang menyingkir begitu dia lewat, menjauhinya seakan dia predator—yang tak ada bedanya dengan Fourich.
Padahal... dia tidak pernah melakukan apa-apa.
"Gue tanya sekali lagj." Luina meletakkan tangannya di pangkuan tangan. "Kemana. Kalian. Selama. Dua. Jam."
"By, tadi kan kita udah jelasin."
"Pulang?"
"Iya."
"Ambil motor?"
"Iya."
"Warna biru?"
"Iya! Kok tau?" Mata Regaska berbinar Luina mengingat salah satu motor miliknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BITTERSWEET RUINS [ HIATUS ]
Novela Juvenil"You look so scared, baby. What's going on?" "Relax, L. We're not here to bite you." "Come on, Lui. You know there's nowhere to run, right?" "Lo takut, sayang?" *** Hidup Luina hancur dalam semalam. Ayah tirinya ditangkap karena menggelapkan triliun...
![BITTERSWEET RUINS [ HIATUS ]](https://img.wattpad.com/cover/370508211-64-k271214.jpg)