Matahari sudah menyingsing dan kehidupan Kota Jakarta sudah kembali dimulai, tidak mengkagetkan jika jalanan sudah mulai dipenuhi kendaraan bermotor dan aktivitas keluar masuk stasiun MRT Senayan yang mulai hidup oleh orang-orang yang bersiap memulai hari panjang mereka, berbanding terbalik dengan dua orang yang baru akan mengakhiri malam panjang mereka.
2 orang dengan kantung mata tebal, bare face, dan bibir pink alami mereka saat ini sebenarnya sama sekali tidak memudarkan kecantikan paripurna milik keduanya. Namun jika dibandingkan dengan orang-orang disekitar mereka saat ini sudah dapat dipastikan sangat berbeda, setidaknya orang-orang itu sempat mendapatkan tidur malam tadi dan sudah membersihakan diri dibawah kucuran air shower yang menyegarkan badan mereka.
Tak terasa perjalanan panjang mereka sudah menemui titik akhir, beberapa meter lagi mereka sudah kembali ke FX Sudirman, tempat mobil masing-masing dari mereka berada. Gedung dua huruf itu menjadi titik temu dan titik akhir disaat bersamaan. Ada sedikit banyak ketidakrelaan untuk mengakhiri kisah mereka berdua dan mengakhiri perjalanan mereka.
Jika tadi Cynthia yang memberikan ide gila untuk menempuh 2,5 km ini, saat ini lah waktu yang tepat untuk gantian Greesel yang mengutarakan ide miliknya, "Ci, kayaknya riskan deh buat kita berdua kalau maksain pulang sekarang. Kita open room di Harris dulu buat nyempetin tidur gimana?"
"Iya gitu aja Sel, Aku juga yang gak yakin bisa sampai rumah dengan selamat." jawab Cynthia menyetujui ide dari orang disampingnya.
Greesel memperhatikan wajah samping milik Cynthia selama menjawab pertanyaannya, Ia mengamini ucapan Cynthia karena terlihat dengan jelas bagaimana keadaan Cynthia yang sudah bersusah payah mempertahankan matanya untuk tetap terbuka dengan sempurna. Ia sedikit menyesali pilihannya yang setuju dengan ide gila Cicinya, dan tidak berinisiatif sedikitpun untuk menghentikan ide itu untuk mereka penuhi 100% dengan memesan taksi online di tengah perjalanan mereka menempuh 2,5 km dengan keadaan seperti ini. Tapi apa daya, pohon sudah menjadi bubur koran, sudah terlampau jauh dan sia-sia untuk menyesalinya.
Mendapatkan persetujuan dari Cynthia, Greesel mengarahkan langkah mereka kearah lobby Harris hotel, yang masih satu gedung dengan FX Sudirman. Di lobby mereka segera menuju resepsionis untuk memesankan kamar sehingga mereka akan segera mendaratkan punggung mereka ke kasur empuk, nyaman, yang akan merilekskan badan mereka yang dirasa sudah diujung kemampuan untuk beraktivitas.
"Selamat pagi selamat datang di Harris Hotel."
sapa resepsionis yang bertugas dengan ramah.
"Pagi Mas, Kami mau pesen kamar on the spot bisa? Karena mendadak dan belum sempat pesan online." pinta Greesel pada resepsionis.
"Bisa Kak, tapi karena ini belum waktunya check in, apakah Kakak bersedia untuk open room yang terhitung 2 malam?" jelas resepsionis.
"Iya Mas gak papa, yang bersedia kok. Yang corner room apakah ada yang tersedia ya?"
"Baik Kak, untuk corner room available. Lalu untuk request lain untuk kamar dan mungkin take yang include sarapan?"
"Hmmm, exclude sarapan aja Mas, nanti mungkin yang akan kami pesan lewat room service."
"Oke jadi corner room double untuk 2 malam exclude sarapan ya?"
"Iya benar."
"Baik, bisa dibantu atas nama siapa? Dan data dirinya."
Cynthia menggelengkan kepalanya saat melihat satu alis mata Greesel naik menanyakan data diri siapa yang akan digunakan, "Passport sama dompet Aku ada di tas semua."
"Greesella, ini untuk KTP Saya." Ucap Greesel sambil menyodorkan tanda pengenal miliknya.
"Baik Kak Greesel, sambil menunggu administrasi bisa dibantu payment ya Kak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kisah Dari Selatan Jakarta
FanfictionHidup di Indonesia, seorang Idol Ibukota, terikat aturan anti cinta, dipertemukan oleh sang semesta, dengan kenangan cinta, malam di kota Jakarta.
