Hadirnya Arga di tengah-tengah mereka menjadi pelengkap kebahagiaan Rania dan Erlan, perlahan-lahan ekonomi Erlan semaikan membaik, Erlan mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya, sekarang dia menjadi menejer di perusahaan yang cukup besar.
Di tengah kesibukannya, Erlan selalu berusaha meluangkan waktu untuk membantu istrinya dalam mengurus anak, membantu mengurus rumah. Seperti sore ini, di mana Erlan yang baru saja pulang kerja dia melihat sang anak sedang bermain di ruang keluarga sendirian sedang istrinya sedang sibuk di dapur.
Erlan meletakkan tas kerjanya di atas sofa, melepas kemejanya. Menyisakan kaos tipis yang di pakainya, sebelum mendekati anaknya Erlan lebih dulu mencuci tangannya.
"Anak Papa lagi main apa?" tanya Erlan seraya mengusap rambut anaknya dengan lembut, dia duduk di depan anaknya yang sedang sibuk memasukkan mainannya ke dalam tas.
"Aku mau kabul dali lumah, istli Papa dali tadi malah-malah telus. Aku mau pelgi aja dali lumah." ucap Arga memasukkan semua mainannya ke dalam tas, tak lupa dia juga memasukkan susu dan juga botol dotnya.
"Kenapa emangnya sampai di marahin?" tanya Erlan menahan dirinya agar tidak tertawa ketika anaknya berusaha memasukkan kaleng susu ke dalam tasnya yang sudah penuh dengan mainannya.
"Enggak tau, Papa tanya seldili lah sama istlinya. Lama-lama kulus aku di malaahin telus," ucapnya sambil mencabikkan bibirnya, dia mencoba mengangkat tasnya yang sudah penuh dengan barang-barangnya.
"Aduh, belat lagi, mana babi belum masuk. Papa jangn liat aja, bantu dong." Arga menatap Erlan yang masih duduk di atas karpet sedang dirinya kesusahan untuk mengangkat tasnya, Papa-nya malah hanya diam melihatnya saja, bukannya membantunya.
"Emang mau pergi ke mana? Banyak amat yang di bawa. Mending mandi aja yuk, udah sore, habis mandi makan terus main sama Papa." ajak Erlan mengambil alih tas yang di seret anknya, meletakkan kembali di karpet.
"Enggak mau, aku mau kabul." tolak Arga menepis tangan Erlan, dia kembali menyert tasnya.
Erlan meraih tangan anaknya, mengangkat tubuh anaknya ke dalam gendongannya, membawanya duduk di sofa. "Coba cerita dulu sama Papa, kenapa Mama marah-marah sama Arga? Arga nakal?" tanya Erlan dengan lembut mengusap pipi anaknya.
"Setiap hali selu malah-malah, semuanya enggak boleh. Mau belendam aja enggak boleh, semua enggak boleh, mau minta susu di kasih dikit, udah kulus aku, lihat pelutnya udah kempes," ujarnya sambil mengangkat bajunya, memperlihatkan perut buncitnya pada Papa-nya.
"Ngadu apa sama Papa-nya? Setiap hari maunya main aja di luar, di suruh makan aja susah, lapar minta susu. Besok gak ada susu lagi. Mau Mama buang, kasih kucing aja nanti." sahut Raina berjalan mendekati suaminya, meletakkan mangkuk kecil berisi makanan anaknya di atas meja.
"Aku udah capek-capek masak, belum cuci piring bekas masak. Giliran udah jadi anaknya gak mau makan, yang inilah, yang itulah. Siapa yang enggak kesal kalau setiap hari gini terus," ucap Rania duduk di samping suaminya, menatap anaknya yang duduk di pangkuan suaminya.
"Tuh kan Papa liat, Mama malah-malah lagi." cicit Arga menyembunyikan wajahnya di dada bidang Papa-nya. "Papa halus malahin Mama, setiap hali selalu malahin aku."
"Arga yang harusnya di marahin." sahut Rania.
Erlan menganggukkan kepalanya, tangannya terulur mengusap punggung istrinya. "Besok aku cuti, tiga hari. Kamu bisa santai-santai, biar Arga sama aku," ucapnya tersenyum lembut pada Rania.
Erlan menarik pelan tubuh istrinya agar lebih dekat dengan tubuhnya, dia mencium pipi istrinya. "Semuanya bakalan beres dalam waktu singkat, aku bantuin nanti habis aku mandiin Arga. Kamu istirahat aja, cucian piring sama itu semua, nanti aku yang bersihin." ucap Erlan mengusap rambut istrinya dengan lembut, di lantai ruang keluarga ada banyak mainan Arga yang berserakan di mana-mana.
![](https://img.wattpad.com/cover/376279232-144-k463040.jpg)
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA (revisi)
Teen FictionCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...