BAB 3

6 1 0
                                    

Kisah rumit ini sudah di mulai.

********

"Tunggu! Siapa yang nyuruh lu pergi?"

Siapa sangka, orang yang tidak pernah mau mengotori tangannya berdiri menghampiri Seren. Ya, Leon. Perlahan ia menghampiri Seren yang hendak membawa Dicky pergi. Seringai terbit di wajahnya, Dicky yang tidak siap tersungkur karena dorongan Leon yang sangat kuat. Seren takut? Tidak, ia malah ikut menerbitkan seringai yang lebih menakutkan dari Leon.

"Amor! Bawa Dicky ke UKS!" Titah Seren.

Pertarungan mata antara Leon dan Seren masih terjadi. Kali ini, Leon tentu tidak akan menyerah semudah itu. Ia akan membalas perlakuan Seren di ruang kepsek tadi pagi. Karena tidak ingin membuat keadaan ricuh, Seren memilih mengakhiri semuanya dan hendak menyusul Amor dan Dicky. Sebelum itu, sebuah tangan menariknya, jatuhlah Seren di pelukan Leon dengan bibir bersentuhan. Ya, mereka berciuman.

Plak

"ANJING!" umpat Seren setelah ia menampar keras pipi Leon. Bibirnya yang suci telah ternodai, sepertinya ia harus mandi bunga setaman.

Inilah rencana Leon. Bukannya merasa bersalah, ia malah tersenyum senang seperti anak kecil yang mendapatkan permen. Hal itu membuat Seren semakin geram dan memilih pergi dengan sedikit rasa malu. Ingat! Hanya sedikit. Ini sudah termasuk pelecahan bukan sihh? Dengan kesal, ia membuka pintu UKS hingga menimbulkan bunyi yang teramat keras.

"Udah berapa lama lu ngalamin hal ini?" tanya Seren dengan nada dinginnya.

"Ren, gue-"

"Jelasin ke gue semuanya!" Dicky kali ini tidak membantah, ia menceritakan semuanya dari awal kenapa ia bisa berhubungan dengan Leon. Semakin diceritakan, semakin Seren tidak percaya.

Perkara tidak sengaja menumpahkan kopi milik sang ayah, Dicky sampai di bully habis-habisan seperti ini. Seren tidak habis pikir dengan isi hati laki-laki itu. Amor yang ada disitu pun sama terkejutnya. Baru hari pertama, Seren sudah di buat se pusing ini. Seren merebahkan dirinya di sofa panjang yang ada di UKS, menatap langit-langit dan kembali menerawang.

"Ren, lu marah?" Seren tidak menjawab, ia hanya menghela nafas lelah. Hari pertama yang benar-benar buruk, bahkan sangat buruk. Moodnya benar-benar hancur akibat kejadian di kantin.

Berciuman di depan seluruh sekolah bukan wishlist di hidupnya. Ia tidak pernah membayangkan hal itu akan terjadi di sini. Mau ditaruh dimana wajahnya? Berdiam diri hanya akan membuat moodnya semakin buruk. Ia mengajak Amor untuk kembali ke kelas lalu tak lupa menyuruh Dicky untuk beristirahat sejenak di UKS.

Untung saja, jam pelajaran sedang kosong karena gurunya sedang sakit. Hanya ada tugas yang harus diselesaikan hari ini juga. Seperti kebanyakan kelas di Indonesia, jika tidak ada guru mereka bebas melakukan apa saja. Seren memilih mendengarkan musik sambil mengerjakan tugasnya. Musik memang berhasil mengembalikan moodnya lagi.

"Ren, ada titipan buat lu," ucap Vero - teman sekelas sembari membawa paperbag berwarna biru.

"Dari siapa?" tanya Seren.

"Gue cuma disuruh bawain doang," Seren mengangguk, lalu mengambilalih paperbag itu. Rasa penasarannya membuncah, Seren segera membuka paperbag itu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 23, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Kupu-kupu Kecil Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang