short prolog

32 7 0
                                    

Dari kecil Jayrin diminta untuk bisa mengwujudkan impian dari kedua orangtuanya. Berdalih jika dia merupakan harapan dari orangtuanya, yang akan membuatnya merasa bahagia dikemudian hari. Jika dia berhasil mengwujudkan harapan itu.

Harapan orangtuanya yang menginginkan Jayrin bisa mendapatkan nilai sempurna, melanjutkan ke universitas ternama. Dan menjadi seorang dokter seperti kedua orangtuanya.

Mereka memang berharap tinggi pada putra sulungnya itu. Bukan hanya pada Jayrin saja, tapi pada Jendri juga. Orangtuanya terlalu keras pada keduanya. Mereka tidak memperbolehkan kedua putranya untuk menikmati masa-masa mudanya dengan bersenang-senang. Dan hanya terfokuskan pada pelajaran saja.

Nilai adalah segala-galanya bagi mereka, sehingga anak-anaknya pun harus unggul dalam setiap mata pelajaran.

"Kau nggak capek belajar terus? Memang sih belajar penting. Tapikan kau udah berlebihan itu, kalau sakit nanti gimana?" ucap Kitar yang sedari tadi memperhatikan Jayrin.

"Aku akan berhenti setelah ini. Aku tidak bisa belajar terus-terusan seperti ini kan? Kau tahu sendiri. Waktuku hanya ku habiskan untuk belajar saja. Padahal aku tidak tahu, kapan semuanya berakhir. Sudah seharusnya aku pun merasakan kebebasan untuk sebentar. Tapi aku bahkan tidak memilikinya. Karena itu, aku akan berhenti," kata Jayrin mengemasi buku-bukunya.

Jendri yang mendengarnya pun. Langsung berlari mendekat. Dia tidak pernah seberani kakaknya, dia terlalu takut pada kedua orangtuanya itu.

"Kak, jadi kakak beneran mau menentang ayah sama ibu?"

"Kalau kau mau, kau bisa melakukannya juga. Hari ini aku akan mengatakannya pada ayah dan ibu, mereka hanya perlu mengurusi hidupnya sendiri. Aku juga akan melakukan hal yang sama," ucap Jayrin yang langsung pergi begitu saja.

Tidak ada yang bisa dikatakan oleh Kitar saat ini, dia juga tidak menyangka jika Jayrin akan melakukannya. Padahal selama ini dia juga menuruti semua perintah dari orangtuanya, dan tidak pernah membantahnya sama sekali.

Namun, hari ini semuanya telah berbeda. Kitar hanya bisa mengusap lembut puncuk rambut Jendri sebelum pergi.

"Jadi ini pilihan kakak, ya? Baiklah aku tidak bisa melakukan apa-apa."

Hanya Jendri si pengecut yang tidak mengambil keputusan yang serupa. Walaupun dia sama tertekannya dengan kakaknya, Jendri takut mengecewakan kedua orangtuanya. Dia tidak tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena bagaimanapun, Jendri hanya bisa berharap semuanya akan baik-baik saja.

*✧・゚: *✧・゚:*✧・゚: *✧・゚:*✧・゚: *✧・゚:

Penyesalan Terbesar Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang