Bab 04 Berhasil kabur
Keisha menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong, air matanya kembali mengalir. Sakit hatinya semakin dalam mengingat pengakuan Nara yang dengan angkuh menyatakan bahwa Rendra lebih memilih bersamanya daripada dengan Keisha.
Luka yang ia rasakan tak hanya karena pengkhianatan itu, tapi juga karena perasaan tak berdaya yang semakin menjeratnya.
Dia menutup mata dan mencoba mengatur napas. Dalam kondisi seperti ini, dia tahu bahwa satu-satunya cara adalah tetap tenang dan tidak membiarkan dirinya jatuh ke dalam perangkap emosi.
Jika dia lemah, Rendra dan Nara akan semakin merasa di atas angin.
"Menyerah bukan berarti kalah," gumam Keisha dengan suara parau. Tekadnya semakin bulat, meski rasa sakit itu terus menggerogoti hatinya.
Waktu berjalan terasa lambat. Keisha duduk di tepi tempat tidur, memandangi pintu kamar yang tertutup rapat, seolah menjadi simbol penjara yang tak kasat mata. Dia tahu bahwa Elena sedang dalam perjalanan, tapi perasaan cemas dan takut tetap menghantui.
Bagaimana jika Rendra lebih dulu pulang? Bagaimana jika dia memergoki rencana Keisha untuk melarikan diri?
Sambil memikirkan semua kemungkinan itu, Keisha mencoba mengalihkan pikirannya. Dia berjalan ke arah jendela, mengintip dari celah tirai untuk melihat situasi di luar. Benar saja, dua orang bodyguard berdiri di depan gerbang, tampak berjaga dengan waspada. Mereka pasti sudah diberi perintah untuk mencegahnya pergi, apapun yang terjadi.
Keisha mendesah, merasa semakin terkurung.
Dia tahu bahwa berhadapan langsung dengan bodyguard itu adalah pilihan yang sia-sia. Dia harus menemukan cara yang lebih cerdas dan tidak terduga.
Saat pikirannya terus berputar mencari celah, suara notifikasi ponsel kembali terdengar. Dengan tangan gemetar, Keisha membuka pesan tersebut, berharap itu dari Elena.
Elena: "Kei, gue di jalan. Kita coba keluar lewat pintu belakang. Jangan sampai bodyguard lihat lu. Kita atur strategi nanti."
Pesan itu memberikan secercah harapan pada Keisha. Pintu belakang memang jarang digunakan, dan mungkin bodyguard tidak akan fokus di sana. Ini bisa jadi jalan keluarnya! Dia harus menyiapkan diri dan menunggu waktu yang tepat.
Sambil terus memikirkan rencana pelarian itu, Keisha merapikan kembali barang-barangnya. Koper itu terasa semakin berat, seolah membawa beban emosional yang harus dia tinggalkan di belakang.
Keisha duduk kembali, mencoba menenangkan diri dan memusatkan pikiran pada rencana.
Dia menunggu dengan cemas, berharap Elena segera tiba dan mereka bisa melaksanakan rencana itu tanpa hambatan.
Di tengah ketegangan, sebuah pikiran melintas di benaknya—ini mungkin akhir dari segalanya dengan Rendra, tapi juga bisa menjadi awal dari kehidupan baru yang dia dambakan. Sebuah hidup yang bebas dari manipulasi, pengkhianatan, dan rasa terkurung.
Keisha menatap pantulan dirinya di cermin kamar. Dia melihat sosok yang rapuh tapi penuh dengan tekad. Sosok yang berani memperjuangkan kebebasan meski dunia seakan menentangnya.

YOU ARE READING
Di antara dua hati
Romance+62836790xxxx: Suami lo di apartemen gue. "Nara?" ketik Keisha pada pesan dari kontak baru yang masuk ke ponselnya. +62386790xxx: Yaps, pacar suami lo. Kasihan, lo tidur sendiri. Keisha menghela napas berat membaca pesan dari Nara. "Lagi?" gumamnya...