BAB-3.KENAPA?

308 115 1
                                        

Jangan lupa follow,vote,komen ya

( komen disetiap paragraf )

Happy Reading

• • •

"Selamat pagi Bi Asih!" sapa Nia kepada Bi Asih yang sedang menyiapkan bahan-bahan membuat kue bolu. Permintaan kemarin adalah Nia meminta dibuat kan bolu. Karna bolu bikinan Bi Asih sangat lah enak.

"pagi juga non Nia yang cantik," Nia dibuat ingin jungkir balik. Tau aja si kalau dirinya ini sangat cantik melebihi Dasha taran. "aduh Bibi tau aja kalo Nia tuh udah cantik paripurna dari dulu kali." katanya dengan percaya diri.

"Nia bantuin ya Bi," Bibi menggeleng. "jangan atuh non, mending non Nia siap-siap sekolah aja. Nanti den Evan ma—"

"Astaghfirullah non," Bi Asih segera mengambil tisu dikala melihat darah yang keluar dari hidung Nia hingga netes ke lantai. "ini non. Non nggak apa-apa kan?"

"nggak pa-pa Bi. Nia ke kamar dulu ya," Bi Asih mengangguk. Sebenarnya masih khawatir dengan majikannya itu. Namun apa boleh buat?

"yaa Allah non Nia..." gumam Bi Asih yang didengar oleh Devano. Pandangan lelaki itu tak sengaja melihat ke bawah. "darah? darah siapa ini Bi?"

"Astaghfirullah! Den Evan ngagetin aja. Ini lho, non Nia mimisan. Tapi yang Bibi heranin ini tuh banyak banget, kaya bukan sekedar mimisan biasa."

Nia mimisan? Batin Devano.

Dengan cepat lelaki itu bergegas menuju kamar adiknya.

• • •

Ceklek...

"Nia!" ucapnya dengan lantang. Namun tidak ada sahutan dari orang yang dipanggilnya. Tanpa pikir panjang lagi, Devano berjalan menuju kamar mandi.

Tokkk... Tokkk... Tokkk...

"AlNIA!" sekali lagi Devano mengetuk namun sama, tak ada yang jawab. Mau gak mau, dirinya harus mendobrak pintu itu. Matanya membulat dikala melihat adiknya yang sudah tergeletak dibawah sana.

Brakkk...

"ALNIA!!!" Devano menggendong gadis itu ala bridal style lalu membaringkan nya di kasur. Mencari kotak P3K untuk mengambil minyak kayu putih agar dioleskan di area pernapasannya alias hidung!

"Nia bangun. Jangan bikin gue khawatir dong!" katanya dengan cemas. Tak lama ponselnya berbunyi.
Menatap dilayar ponsel yang tertera siapa yang menelepon pagi-pagi buta seperti ini.

Burung Elang terlangka beda dari yang lain is calling

"halo napa Lang?"

"sialan lo bolos kagak bilang-bilang lo."

"gue nggak bolos. Adek gue sakit,"

"APA!!! AYANG NIA SAKIT?!  Uhukkk... Uhukkk..."

"Brisik lo. Jangan lupa izinin gue."

Tut!

Telepon terputus secara sepihak, bagaikan cinta yang bertepuk sebelah tangan~EAAA BRO ''''''

"Sialan lo Van! Maen dimatiin aja." maki Elang di sebrang sana.

"b-bang..." Mendengar suara sang adik. Devano lngsung menoleh ke arahnya. "akhirnya lo sadar juga,"

"d-dimana ini?"

"yang lo liat apa Alnia? Ini dirumah. Jangan kaya di sinetron yang baru sadar langsung nanyain tempat."

"ck!"

"kenapa lo bisa mimisan? Se tau gue lo nggak punya alergi atau pun penyakit apa-apa Nia. Lo lagi nggak nyembunyiin sesuatu dari gue kan?"

Degh!

NO!!! Jangan sampe Devano tau. Bisa habis dirinya dicincang-cincang. "enggak lah bang, Nia sehat sempurna gini abang bilang penyakitan. Nggak waras ya? Udah deh jangan banyak tanya yang penting sekarang Nia udah nggak mimisan lagi."

"kenapa lo jawabya kaya orang takut ketauan? Lebih baik lo jujur Al. Lo tau kan gue orangnya paling nggak suka sama kebohongan!"

Gadis itu terdiam. Ia belum siap jika harus jujur sekarang.

"JAWAB GUE AlNIA!"

"NGGAK USAH NGEBENTAK JUGA!"

tanpa sadar Devano telah membentak adiknya. SIAL!!!  Kenapa ia bisa kelepasan seperti ini?

"N-Nia t-takut... P-papa jahat!!!!!"  Devano memejamkan matanya sebentar lalu menghela napas pelan. Ia lupa jika adiknya ini punya trauma, tubuh Nia bergetar hebat. Mengingat kejadian dulu membuat dirinya Benar-benar rapuh.

Devano menarik tangan Nia, membawanya ke dalam dekapannya.
"maaf, gue cuman nggak mau lo kenapa-napa. Cuman lo orang yang gue punya sekarang. Sekali lagi maaf."

"tetep bersama gue ya, kalo papa ngajakin lo pergi jangan mau. Gue nggak tau bakal segila apa kalo 'lo nggak ada."

"iya, Nia janji. Maaf juga udah ninggiin suara sama abang."

Srottt!!!

"jorok banget lo,"

"nggak pa-pa. Besok beliin nasi padang ya?"

Devano mengangguk. "apa si yang enggak buat Lo? Lo minta pulau juga bakalan gue beliin."

"SOMBONG nya anak pak Ardan ini!"

~~~
Setelah beberapa menit akhirnya balik lagiii

Pembaca terbaik adalah pembaca yang selalu meninggalkan jejaknya 👉🏻👈🏻💋

Spam NEXT nya dunkzz 👀


















ALDEVANO (hiatus)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang