Part 32 - Jembatan

2.8K 145 1
                                    

Ratih keluar dari kamar mandi karena mendengar ketukan tak sabar dari luar yang berasal dari Lasma.

"Apa perutmu semulas itu sampai membuatmu menguasai kamar mandi sendirian?" Tanya Lasma ketus kepada Ratih yang masih tampak pucat.

"Maaf." Jawab Ratih lirih. Ia melangkah keluar kamar mandi dan menahan pintunya.

"Tidak perlu minta maaf. Aku hanya perlu menggunakan toilet." Lasma bergerak masuk, menggeser tubuh Ratih dengan paksa. "Dan ya, makan siangmu sudah kuhangatkan. Makanlah sebelum kembali dingin. Kau tahu kalau aku tidak suka jika makananku terbuang sia-sia." Ucapnya dan setelah itu menutup pintu dan mengunci dirinya dari dalam.

Ratih menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Sedikit tersenyum atas apa yang sudah Lasma lakukan.

Ya, meskipun biasa berkata dingin atau bahkan terkesan ketus, tapi tindakan Lasma jelas mengandung perhatian dan Ratih merasa berterima kasih padanya meskipun tak berani ia ucapkan dengan lantang.

Ratih langkah menuju meja bar dimana sepiring nasi hangat dan sepotong besar ayam cabai kemangi yang masih mengepul dengan irisan mentimun sebagai lalapannya diletakkan bersama air teh hangat dalam gelas berukuran cukup besar.

Ia duduk dan meraih piring mendekat. Bersiap untuk menghabiskan makan siangnya yang terlambat.

Lupakan kata-kata Shaka tentang 'nanti malam' dan 'tenaga' yang akan dikuras pria itu karena malam yang dimaksud pria itu masih berjam-jam lamanya untuk datang. Saat ini, Ratih harus mengisi perut dan tenaganya dulu karena ada Shanaya yang harus dia jaga.

Dan ya, dimana gadis kecil itu. Kenapa Ratih tidak melihatnya?

"Kamu mencari apa?" Lasma yang baru saja keluar dari kamar mandi tampak melihat Ratih yang celingukan.

"Nona. Dimana dia?" Tanyanya ingin tahu.

"Habiskan dulu makananmu. Nona Shanaya sedang tidur siang." Ucapnya memberitahu.

Ratih merasa tenang mendengarnya dan melanjutkan makannya sementara Lasma mulai membuat selai untuk pai nya.

"Lasma?" Ratih mulai bicara.

"Hmm.."

"Seperti apa ibu Nona Shanaya?"

"Kenapa? Kamu ingin tahu mantan istri Tuan Shaka?" Tanya Lasma dengan nada datarnya. Ratih menjawab pertanyaannya dengan anggukkan. "Dia cantik. Bertubuh langsing. Cerdas dan juga kaya raya. Atau, dulunya kaya raya karena seingatku sebelum menikah dengan Tuan, keluarganya jatuh bangkrut dan Tuan mengembalikan kejayaan keluarganya dengan menikahinya."

Kenapa Ratih merasa cemburu dengan pemaparan Lasma? Ya, wanita mana yang tidak iri saat mendengar ada wanita lain yang lebih beruntung darinya. Cantik, kaya raya dan mendapatkan suami kaya pula.

"Bukan itu. Maksudku, seperti apa karakternya. Apa dia wanita yang baik, sabar, atau dia seorang yang emosional, gampang marah atau suka melakukan kekerasan?" Tanya Ratih ragu yang mendapatkan hadiah kernyitan dahi dari Lasma.

"Kenapa kau ingin tahu?" Tanya Lasma dengan alis bertaut. "Apa kau ingin membandingkan kejelekannya dan memanfaatkannya di masa depan?" Tanya Lasma ketus yang membuat Ratih menggelengkan kepala gugup.

"Bu-bukan seperti itu." Ucap Ratih terbata. Ratih memandang Lasma selama beberapa saat, mempertimbangkan apakah dia boleh mengatakan apa yang membebani pikirannya atau tidak.

Tapi jika dia tidak bicara dengan Lasma maka tidak akan ada orang yang menjembatani maksudnya karena memang ia bicara pada Lama dengan harapan wanita itu akan bicara pada Naraga dan kemudian Naraga menyampaikannya pada Shaka sehingga Shaka bisa mengambil keputusan untuk masa depan Shanaya.

"Anu..." Ratih merasa ragu.

"Katakan saja." Perintah Lasma tegas.

"Saat aku membantu Nona mandi tadi pagi, aku melihat bercak-bercak di kulitnya. Kupikir itu memar bekas benturan yang sudah memudar, tapi setelah aku memperhatikan tempat yang lain, aku yakin kalau sisa memar bekas cubitan yang dilakukan orang dewasa."

"Jangan asal menuduh." Ucap Lasma dingin. Ratih seketika menggelengkan kepala.

"Aku tidak asal menuduh. Aku tahu bentuk memar seperti itu karena dulu ibuku juga sering mencubitku." Ucap Ratih spontan yang membuatnya menyesal kemudian. Bagaimana bisa dia membuka aibnya sendiri dengan begitu mudah. Tapi kepalang basah, jadi Ratih sekalian saja bicara. "Dan biasanya, ibuku mencubitku di tempat-tempat yang tidak akan terlihat oleh orang lain."

"Memangnya dimana saja posisinya?" Tanya Lasma yang meskipun diucapkan dengan nada tak acuh namun Ratih tahu wanita itu memperhatikannya.

"Disini." Ratih menunjuk area dalam lengannya dan juga kedua sisi tubuhnya yang berada tepat di samping payudaranya. "Disini dan disini." Tunjuknya lagi pada kedua bagian dalam pahanya.
"Bekas cubitannya berada di tempat-tempat yang memang tidak mencolok dan tidak terlihat jika kita tidak melihatnya secara seksama." Ucap Ratih kemudian.

Lasma terdiam. Memasukkan pai yang sudah selesai dia olesi dengan kuning telur ke dalam oven.

"Apa kau mengatakan ini pada Tuan?" Tanyanya ingin tahu. Ratih menggelengkan kepala cepat.

"Aku tidak berani melakukannya." Jawab Ratih apa adanya.

"Kenapa?" Tanyanya. Namun gelengan kepala Ratih seolah sudah menjawab semuanya. "Dan menurutmu, apa ibunya yang melakukannya?"

Ratih kembali menggelengkan kepala. Enggan berspekulasi atau menuduh karena takut jatuhnya fitnah. Namun ia tidak bisa berhenti curiga.

"Dugaanmu, siapa yang mungkin melakukan kejahatan itu pada Nona?"

"Aku rasa orang terdekat. Kalau bukan anggota keluarganya, mungkin pengasuhnya? Atau mungkin guru di sekolahnya?" Ratih menebak-nebak.

Lasma menganggukkan kepala yang entah berarti wanita itu setuju dengan kecurigaannnya atau memang ada hal lain yang dipikirkannya.

"Kenapa kau membicarakan hal ini padaku?" Tanya wanita itu tiba-tiba.

"A-aku hanya berani bicara padamu." Jawab Ratih lirih dan malu-malu.

"Dengan alasan..?"

"Supaya kamu membicarakan ini pada Tuan Naraga dan Tuan Naraga membicarakannya pada Tuan Shaka."

"Kenapa kamu tidak mengatakannya langsung pada Tuan Naraga atau Tuan Shaka?" Tanya Lasma yang membuat Ratih memandangnya dengan ekspresi takut dan menggelengkan kepala. "Kenapa? Apa yang kamu takutkan?" Tanyanya penasaran.

"Aku takut Tuan marah dan menganggap aku asal tuduh dan sengaja mengadu domba." Ratih mengemukakan isi kepalanya.

"Lalu kamu tidak keberatan kalau aku yang mendapatkan kemarahan dari Tuan sebagai gantinya?"

Ratih seketika menggelengkan kepala. "Bu-bukan begitu." Lasma tahu maksud Ratih, dia hanya sedang menguji gadis di hadapannya ini. Mencari tahu seberapa besar kepedulian dan ketulusannya. "Aku tidak terlalu mengenal Nona Shanaya ataupun keluarganya. Kecurigaanku pada mereka jelas tidak berdasar dan jika aku mengemukakannya aku takut dianggap ikut campur urusan mereka.

"Masalahnya disini aku kasihan dan khawatir pada Nona Shanaya. Aku takut siapapun orang yang sudah berbuat jahat itu pada Nona akan berbuat lebih kejam lagi suatu saat nanti. Karena itulah, jika Tuan Naraga bertindak, setidaknya dia bisa menyelidiki dulu siapa pelaku sebenarnya dan mungkin akan mengambil tindakan supaya hal seperti itu tidak lagi terjadi ke depannya." Jelas Ratih berusaha membuat Lasma mengerti.

Lasma sendiri paham dan dia juga sudah berniat akan mengatakannya pada Naraga nanti saat mereka hanya berdua. Namun demikian Lasma juga tidak bisa asal curiga dan asal menuduh. Sekalipun ya, ia sebenarnya tidak suka pada mantan istri Shaka namun tidak bisa serta merta menuduh wanita itu menyakiti putrinya sendiri kan?

"Akan kubicarakan hal ini dengan Naraga. Sekarang lebih baik kamu pergi melihat apakah Nona sudah bangun atau belum." Perintahnya dan tanpa basa-basi Ratih langsung turun dari kursinya. Membawa piring dan gelas kosongnya menuju wastafel dan mencucinya sebelum pergi ke kamar putri majikannya.

Entangled In Your CharmsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang